
Sesaat lalu mendekati mobil, Safira tak memperlihatkan gelagat aneh begitu sekilas pandang kami berkesempatan lihat-lihatan, dengan aku masih di kursi kemudi dalam mobil.
Dan hari ini dia memilih untuk tidak menyapa dengan menghampiriku seperti biasanya ia lakukan? Oke, kuikuti saja.
Oma Laras pun kelihatannya tak berniat menanggapi meski oma 'ngeh.
Kemudian dibantu oma Laras dan suster Lina aku mulai menurunkan barang-barang bawaan berupa tas berisi pakaian ganti anak-anak, 2 keranjang mainan, 1 boks kardus berisikan berbagai boneka milik Yuan, tas berisi kebutuhanku sendiri, tas bawaan mama-papa dan suster, dan tak ketinggalan sebuah sepeda lipat import roda 4 milik salah satu si kembar.
Setelah sebelumnya sudah menyempatkan diri menyapa dan berbasa-basi singkat dengan ibu mertuaku, orangtuaku mengambil alih membawa barang-barang itu ke dalam rumah, diikuti Lina dengan tas di tangan kanan kiri.
So far so good.
Seperti air mengalir saja, cuma terdapat sedikiiiit yang beda dibanding hari-hari sebelumnya.
"Ayah mertuamu sedang pergi bersama bik Isah menjemput makanan pesanan kita, nak Har," jelas bu Laras sambil memegang dan membantu menekan pintu bagasi saat aku membawanya turun untuk ditutup.
"Oo...begitu," sahutku segera. "Gimana kabar ayah, bu?"
Ibu Laras atau oma Laras adalah ibu mertua contoh panutan terbaik bagi ibu-ibu mertua lain. Bahasa kaum perempuan : tidak reseh, tidak ceriwis, tidak begitu suka mencampuri urusan rumah tangga anak-menantunya. Aku merasa beruntung memiliki seorang ibu mertua se-berpengertian oma Laras.
"Sehat. Kami semua sehat-sehat saja."
"Syukurlah kalau begitu."
Alhasil kami berdua jadi mengobrol sebentar dekat mobil.
"Al ada didalam. Tapi adikmu Evita sudah 3 hari ini tidak pulang. Katanya ikut kegiatan amal atau bazzar yang diselenggarakan instansinya di Depok."
"Oo...sibuk terus dengan pekerjaan dan hobinya?"
"Nggak taulah. Adikmu itu punya kesibukan melebihi kesibukannya para Menteri."
"Hahaha...ibu bisa saja."
"Lah iya. Mana pernah kau lihat dia Sabtu Minggu begini ada di rumah? Hari kerjanya sebagai Pegawai Negeri itu cuma Senin sampai Jumat. Sabtu dan Minggu seharusnya dia gampppang dicari dan ada di rumah, boro-boro... Sabtu dan Minggu pun dia sibuk lagi dengan apapun aktivitasnya itu. Ibu sampai merasa lupa sama wajahnya?"
__ADS_1
"Hahaha..."
"Beda dengan adikmu Safira. Dia itu benar-benar anak ibu yang paling rumahan. Gampang diatur. Hidupnya dan pekerjaannya ngga pernah ribet.
Rajin membantu bik Isah di dapur kayak memperlakukan ibunya sendiri, sampai-sampai ibu ngga tega juga mau mempensiunkan bibik yang tahun ini mau 63 tahun.
Atau membantu mang Kasim berkebun.
Malah baru-baru ini Safira sempat bilang mau buka toko souvenir di halaman depan sini, untuk mengisi kesibukannya kalau sedang libur kerja."
Ups.
Demi mendengar oma Laras akhirnya menyebut-nyebut tentang Safira berikut penjelasannya, hatiku pun mencelos.
Aku terdiam tak menyahuti oma, pura-pura saja menegaskan cara menutup pintu belakang mobil dengan menekan sekali lagi pada daunnya.
Situasi yang mulai terbentuk dan tertuntun ke inti dari tema rencana pertemuan ini. Sebuah situasi tak menyamankan kurasakan yang mendadak saja...terselamatkan! Oleh kemunculan sebuah motor besar menderu bising, meluncur memasuki halaman rumah, berhenti tepat dimuka garasi nun berneter-meter di samping rumah sana...
Ibu mertua keheranan dan aku juga, menoleh bersamaan kearah pengendara mo-ge yang sudah mematikan mesin motor dan turun dari atas motornya tersebut. Sama-sama kami dibuat terkejut begitu melihat gerangan siapa si pengendara yang mulai berjalan anggun lambat-lambat ke arah kami, sambil melepas helm maskulin hitam dari kepala...
Evita
Gadis itu tampil dengan penampilan mengejutkan di depan mataku, yang tadi sudah sempat kuduga si pengendara slonong-boy pastilah seorang perempuan.
Tak terkecuali oma Laras ikut tercengang seperti aku saat melihat pada Evita.
"Evita?" Oma melongok pada mo-ge sang putri dan kembali terpaling kearah putrinya. "Motor siapa itu? Kemana motormu?"
"Mogok. Lagi di bengkel. Itu motor temanku. Pagi, bang Hari. Pagi, bu."
"Astaga, Evitaa..."
Satu kata, ah, dua kata yang langsung muncul dalam benakku begitu melihat Evita di hari ini, di pagi jam 10 ini, dalam penampilannya yang begitu ini...
'luar biasa'
__ADS_1
Aku sampai kesulitan berpaling dari melihat terang-terangan pada penampilannya.
Rambut sebahu dan mengikal telah diwarnai kecokelatan...
Diwarnai? kecoklatan?
Yaa aku pernah dengar seorang Kapuspen menyatakan tidak ada larangan untuk mewarnai rambut bagi pegawai pemerintah, alias tidak ada aturan rambuttt...jadi ya sudah, lupakan.
Makin terlihat ramping dengan kaus cokelat gelap ketat, yang menonjolkan bagian dada yang tidak begitu besar namun berisi itu. Berbalut celana panjang hitam metalik tak kalah ketat membungkus kedua kaki bertungkai jenjang langsingnya...belum lagi jaket kulit hitam terikat pada bagian pinggang itu...tampilan Evita benar-benar sedang terlihat bertolak belakang dengan seragam PEMDA yang selama ini lebih rutin kulihat dikenakan, apabila sedang ada momen langka menemukannya sedang ada di rumah.
Evita cantik sekali. Seksi sekali. Eksotis dan glowing. Sesaat segera saja sanggup menggoyahkan iman di dalam dadaku.
Ia melangkah memasuki rumah dengan diikuti 'ceramah' sang ibu pada belakangnya dan aku di belakang mereka.
"Kamu itu bikin ibu syok lho Evita datang-datang pakai motor gede begitu.
Kamu sejak kapan bisa mengendarai motor besar seperti itu? Dan motor temanmu teman yang mana itu? Temanmu di kerjaan? Temanmu di klub? Di dunia maya?
Hati-hati kamu bawa motor sebesar itu. Kamu itu anak perempuan, anak perawan, kalo' kamu maksain diri bawa-bawa motor gede seperti itu, apa nanti anggapan orang-orang yang melihat padamu?
Motor seperti itu lebih sering untuk ugal-ugalan, gaya-gayaan, dipamer, dimodifikasi...kalau kamu ngga punya pengalaman ngebawanya karena selama ini kamu cuma pakai motor yang jenis matic saja, kalau ada apa-apa di jalan besar sana saat kamu pakai mo-ge itu, bagaimana? Apa kamu bisa jamin kamu bisa menghandle nya? Menangani mesinnya?"
Panjang dan lebar komentar ibu Laras seolah mengabaikan pandangan orang-orang di ruang tamu. Melihati beliau berkata-kata sedemikian sambil mengekori langkah sang putri yang memilih diam saja mendengarkan.
Bu Laras lebih dari syok. Senewen. Sport jantung sesaat.
Tapi tidak juga, Evita dimataku tidak semengkhawatirkan itu...
Saat melihat caranya menukik tajam di atas moge membeloki pagar gerbang menuju depan garasi, dari situ aku bisa pastikan dia adalah seorang pengendara cukup piawai menghandle laju sebuah motor, terutama motor besar bercat bodi oranye Ka***aki N**ja ZX-****" S* nan sporty berkapasitas 636 cc itu.
Pengendara perempuan.
Motor itu memang terlihat cukup besar dan berbobot berat dibandingkan ke bentuk tubuh ramping semampai Evita, namun dimataku ia benar-benar terlihat percaya diri dan mantap dalam mengendarai motor itu.
Dan yang di luar dugaan selanjutnya adalah, aku terkesan. Sekaligus terpesona pada Evita di hari ini yang sebelumnya, sebelum-sebelumnya, belum pernah kurasakan seperti ini terhadapnya.
__ADS_1
Melihat gadis itu tadi santai dan tenang saja menaiki anak tangga ke lantai atas, dengan masih diikuti sang ibu serta pandangan mata orang-orang di ruang tamu termasuk mama-papaku, aku sangat menyadari telah mengukirkan senyum simpul bagi gadis itu. Senyum yang hanya aku sendiri bisa memahami apa maksudnya.
&&&&&-&&&&&