MENIKAH TURUN RANJANG?

MENIKAH TURUN RANJANG?
38. Kabar Rian Jatuh Sakit


__ADS_3

Suara itu terdengar tak hanya 1x sehingga aku bisa lebih memastikan dari mana asalnya. Semacam bunyi dari benturan atau hantaman telak sesuatu dan itu mengenai di pintu kamar tidur. Pada baliknya.


Jelas ada yang tak beres dirumah. Evita mengamuk? Menghancurkan sesuatu barang di dalam kamar?


Baguslah kekuatan daya tangkap suara CCTV di rumah kami cukup baik sehingga suara membentur pada balik daun pintu pun, seperti bunyi suara tadi, sangat bisa tertangkap olehnya.


Hingga beberapa belas detik berikutnya masih belum ada perubahan situasi di ruang makan. Masih gelap dan sepi. Suara ganjil tak lagi terdengar namun kini berganti pemandangan baru pada bawah pintu kamar tidur, cairan membasah merembes dicelah bawah daun pintu dan permukaan lantai.


Itulah dia rupanya si sumber suara. Evita menghantamkan botol lumayan penuh Tequila ke pintu atau dinding dan mungkin sekaligus kedua botol tersebut karena tumpahan cairan kemudian semakin menggenang.


Sepertinya aku tak punya pilihan lain. Pulang saja? Tapi...


Bukannya aku takut pulang. Aku hanya...mungkin menunggu Evita berinisiatif menghubungiku lebih dulu. Atau mungkin memberi waktu beberapa saat lagi untuk pulang.


Baiklah, aku takut pulang. Aku takut pada kemungkinan Evita segera minta pisah begitu aku memunculkan diri kehadapannya.


Aku baru saja terpikirkan ini begitu mendengar suara benturan keras tadi, sebelum-sebelumnya tak setitik pun pemikiran tentang ini pernah terlintas dalam benakku.


Bagaimana kalau istriku selain marah, melaporkanku ke pihak berwenang, lalu sekaligus mengajukan gugatan cerai padaku? Tak mau kompromi dikarenakan mungkin mengkuatirkan aku akan mengulangi lagi perbuatanku, dilain hari kalau kami tetap bertahan hidup bersama?


&&&&&-&&&&&


"Evita?"


Sambil membuka pintu kamar tidur lebih lebar lalu melangkahi becekan tumpahan Tequila, aku masuk kedalam kamar, mendapati pemandangan yang sudah bisa kuduga.


Pecahan kaca dari botol Tequila, hamparan puluhan helai bunga terlepas terurai dari buket, kotak kosmetik antik terbuat dari kayu jati sebesar kotak sepatu, yang telah patah pada penutup sehingga isian berupa botol atau tube kosmetik dll berserakan tak tentu arah...bantal serta guling pun turut pula menguasai lantai. Semua terserak di dekat ambang pintu dalam kamar.


Satu lagi korban mengenaskan lain adalah HP Evita, menggeletak terbelah dua di dekat kaki ranjang.


Terlihat kacau balau tapi Evita sendiri tak tampak keberadaannya. Aku langsung saja terpikirkan kamar anak-anak maka kuarahkan langkah kesana...ya benar. Pintu kamar anak-anak terkunci dari dalam. Padahal selama anak-anak tidak berada disini, kamar mereka ini tak pernah dikunci.


"Vita..." Perlahan aku mengetuk pada daun pintu, "Sayang, kau baik-baik saja? Kau ada di dalam?"

__ADS_1


Baik-baik saja, Hari? Yang benar saja. Istrimu mungkin sedang stres sekarang akibat ulah jeniusmu, berbekal jiwa kepengacaraanmu yang hobi menganalisis dan selalu kepingin tau itu.


Karena tak ada sahutan, kuulang mengetuk lagi. Lagi... Lalu lagi...Lalu lagi...


Evita sudah pernah kubuat menangis. 1x. Sudah pernah pula mengambek padaku. Tapi marah secara emosional, baru kali ini. Tidak mungkin marah yang masih terpengaruhi alkohol itu. Dan rupanya saat sedang marah besar, ia tidak segan-segan membuat kekacauan juga seperti di kamar tidur tadi.


Pengetahuan berharga buatku.


Bertolak belakang dengan mendiang yang bahkan paling kesal melihat orang meluapkan amarah sambil membanting barang di tangan --


Stop! di situ, Hari Pratama. Jangan lagi membiasakan membanding-bandingkan.


"Evita, kalau kau mendengarku, kalau kau tidak sedang tidur, apa sebaiknya kita bicara saja sekarang --"


Serta merta sentakan pintu dibuka dari dalam mengejutkanku hingga refleks kutarik wajah kebelakang, termundur satu langkah dari dekat ambang...Evita muncul menyorotkan mata tajam. Tepatnya tertangkap olehku meradang, tapi seolah membuat kesan ditekan saja hawa emosinya.


"Aku-tidak mau-bicara apapun... Abang sama saja menjijikkannya!"


Brak!


Ya Tuhan, dia nampak seperti tadi dan bicara seperti tadi itu pun tetap saja sanggup membuat hatiku terlelehkan...


"Aku minta maaf, Evita," Aku meminta maaf dengan cepat, mengucapkannya tulus dan jujur sesudah maju lagi dan memandangi daun pintu, "Aku yang salah..."


Tadi sempat juga tertangkap pandanganku wajah meradang amarah Evita kering dari airmata. Syukurlah ia tak menangis. Jadi aku bisa percaya diri menyuarakan kata-kataku ini selanjutnya,


"Aku mengaku salah. Tapi aku tidak akan...menyesalinya." Pada apa yang sudah kulakukan. Semua. Tidak, aku mantap tidak akan menyesalkannya sedikitpun, "Karena aku...sangat menyukainya... Bercinta denganmu."


Seketika dalam dadaku berdesir dan menghangat...kata-kataku sendiri membuat menyendu pada pandangan mataku.


Biarlah disebut tak punya perasaan, aku memang sungguh-sungguh menyukai bercinta dengan Evita. Bahkan hingga memiliki kesempatan merasakan orga*me lalu mencapai kli*aks dengan meluruhkan itu didalam dirinya, aku tidak tau harus bagaimana lagi memperinci rasa bahagianya.


Kemelodramatisan suasana perasaanku mendadak terpecah oleh nada dering HP, dari dalam saku belakang jins ini, berikut getarnya yang terdengar memaksa minta segera direspon...

__ADS_1


Ibu mertua.


"Ya bu?"


'nak har, kau lagi dimana?'


"Rumah, bu. Kenapa, ibu?"


'aduuh, ibu ngga maksud mau mengganggumu, naak. tapi rian sakit lagi. sehabis kami pergi berenang beramai-ramai kemarin, mendadak pulangnya dia terserang panas, demam dan flu. ini ibu dan ayah sudah mau berangkat bawa dia berobat.'


O God...


Otomatis aku segera dirambahi kecemasan dan sedikit kepanikan,


"Seberapa parah, bu, seberapa sakit? Ohh...Oke-oke, mengerti. Ya saya akan segera kesana sekarang juga. Iya, kami berdua. Iya...Kami akan siap-siap. Tolong ibu, tolong pantau dan jaga Rian baik-baik...Iya, terima kasih. Saya yang seharusnya berterima kasih..."


Aduh kalau sudah mendapat masalah dengan kondisi kesehatan Rian begini, naluriku otomatis akan meng-cut off semua urusan lain yang sedang kuhadapi didepan mata.


Tapi Evita...


Tak dinyana istriku mendengar kata-kata bathinku barusan dengan menghadirkan wajah disela pintu yang ia buka sedikit saja, mengintipku dalam gaya yang pasti tidak ia sengaja ia tampilkan kekanakan. Kutautkan pandangan bingung padanya. Ia pasti sudah mendengar isi komunikasiku barusan dengan sang ibu lewat speaker ON-ku tadi.


"Akuu..." Aku tergagap begitu Evita akhirnya memunculkan diri sepenuhnya dengan berdiri rapat menempel pada daun pintu. Gagapku karena aku terhenyak sesaat melihat ekspresi dilematis diwajah Evita ; antara masih marah padaku, masih kesal, masih dendam kesumat mungkin, inginnya tak mau dulu bertemu aku tapi ia sama cemas dalam memandangiku.


"Aku ikut." Singkat saja cetusannya namun berjuta kali lipat kumensyukuri apa yang diucapnya itu.


"Ehm..." Entah kenapa aku mesti berdehem begini, "Baiklah, bersiaplah. Dan tentang..."


"Stop!" Satu tangan segera terangkat dari Evita kesisi wajah membuatku urung mengucap kalimatku : 'tentang yang terjadi ini, tolong tetap kau rahasiakan didepan mereka...' , "Aku tak mau bicara hal lain selain Rian saja."


Olala istrikuuu...


"Oke. Pergilah bersiap-siap. Aku mau mandi dulu."

__ADS_1


Mau mandi dulu? Kenapa mendadak kalimat ini terdengar jadi sensitif ditelingaku? Ditambah Evita mendengus sebal saja menanggapinya.


Achh...


__ADS_2