MENIKAH TURUN RANJANG?

MENIKAH TURUN RANJANG?
9. Bicara Empat Mata


__ADS_3

Bentuk mata Safira indah, memiliki pancaran mata jernih kekanakan.


Segenap keseluruhan profil dan ekspresi wajah gadis ini memang terkesan masih begitu kekanakan.


Yang selama ini tak pernah kupandang perlu untuk LEBIH kuperhatikan.


Meskipun Evita menurutku paling cantik di antara mereka 4 bersaudari, sesungguhnya Safira ini tak kalah cantik juga.


Tapi bukan bermaksud menomor-satukan tampilan kecantikan, hanya saja kecantikan Safira...tak cukup mampu membuatku terpaling seperti caraku berpaling dari Ranti ke Evita.


Oh by the way, sudah terjadikah? Aku sudah berpaling? Gigih menentang status iparan, beda usia, Safira kutolak tapi justru Evita ku 'cari', menunggu dengan sabar selama hampir 1 minggu ini untuk gadis itu muncul menanggapi?


Ketika akhirnya aku tak jadi memilih Safira, dengan hati baik dan polos itu, gadis ini ternyata masih mau sudi datang kepadaku. Saat ini secara baik-baik tanpa keemosionalan-tanpa tedeng aling-aling, meminta bicara empat mata denganku. 


Jelas mengesampingkan ego.


Cukup menyentuh. Menjadi bukti bahwa ternyata dibalik sifat dan sikap kekanakannya, Safira itu punya pemikiran mendewasa juga.


Ia begitu penasaran sangat ingin tahu kenapa, SECARA SPESIFIK, aku  memilih Evita.


Sudah kuantisipasi. Jenis pertanyaan semacam pertanyaan Safira tadi kemungkinannya akan datang lagi, dari siapapun yang tak cukup puas mendengar alasan sederhanaku tempo hari, 'kata hati'.


Jadi oke, akan kuungkapkan. Sekalian saja di saat ini aku mau mengambil hati Safira sebelum aku semakin melangkah maju kedepan...walaupun belum ketahuan Evita sang kakak mau menerima pinanganku atau tidak.


Spesifiknya nona cantik nan imut manis kekanakan, biar akan kujelaskan padamu sekarang juga...


"Maaf Safira kalau memang aku sudah membuat perasaanmu kecewa."


"Oke, aku maafin. Jadi?"


Eits...lihat, tanpa tedeng aling-aling.


"Baiklah, aku akan se'to-the-point pertanyaan darimu itu tadi."


"Oke, jadi?"


Haha...si kekanakan ini.


"Alasannyaa...kurasa aku...menyukai kakakmu. Evita. Itu saja alternatif alasanku kemarin. Itu saja yang bisa kukatakan padamu..."


Aku sejenak memberi Safira waktu untuk bereaksi. Jelas yang baru saja kuungkapkan adalah sebuah pengakuan. Tapi Safira lebih memilih diam saja dengan masih memandang pada wajahku...jadi aku berkesempatan menambahkan. "Ini baru kau yang tau," ucapku serius padanya. "Kau yang pertama tau. Orangnya sendiri saja belum tau."


Hening.

__ADS_1


Keheningan yang tak lama, menyusul terdengar tawa lepas Safira itu kemudian...


Sebuah bentuk tawa murni, bukan miris atau dipaksakan.


Tertawa dengan tulus dihadapan alis mengangkat heranku.


Begitupun saat ia kemudian mengakhiri tawa dengan mengembangkan senyum lebar di bibir, itu sama murni dan tulusnya.


"Kak Evi akan senang sekali kalau dia sampai mendengar ini."


Ooo...


Paras wajah Safira sudah bisa berseri-seri menggantikan awan mendung sesaat lalu di ekspresinya.


"Oh ya?"


Padahal aku sempat tak juga menemukan petunjuk menafsirkan arti tawanya tadi, jadi yahh, tak apa kalau memang Safira memandang lucu perasaanku yang menyatakan menyukai Evita ini. "Senang sekali? Kenapa bisa begitu?"


Mata indah Safira mengerjap jenaka, "Abang nggak pernah tau kan? Diam-diam kami ber 3 sebenarnya...menyukai bang Hari!"


Hah?


"Masa? Maksudnya bagaimana?"


Maksudnya mereka ber 3 diam-diamm...nak--


Seulas senyum penuh arti melintas di wajah Safira.


"Karena bang Hari sangat memperhatikan dan memperdulikan sekali keluarga kecil abang biarpun abang itu selalu repooot, sibuk teruuus dengan pekerjaan abang sebagai pengacara."


"Ooo...begitu rupanya."


Sesaat aku berseri-seri, berbunga-bunga. Manggut-manggut tanda mengerti. 'Menyukai' yang seperti ittu rupanya.


"Ya begitu. Kalau abang tidak seperti yang kusebutkan itu, apa abang pikir ayah dan ibu kami akan mau saja menyuruh abang berjodoh lagi dengan salah satu putri mereka yang lain?"


"Hehehe... Iya. Benar juga."


"Kami kompak sepemikiran, suatu kebanggaan banget kalau salah satu dari kami ber 3 bisa terpilih untuk menggantikan tempat almarhumah kak Ranti di sisi abang..."


" 'Haaa..." Bersama satu tarikan nafas panjang, aku pura-pura terkaget dramatis. "Masa sampai sebegitunyaa?" Lalu aku menyeringai. Mendadak sepintas terbayang Evita.


"Hm-mh," angguk Safira penuh keyakinan lugu, sadar tak sadar dirinya sedang membuka kartu truf Evita ke hadapanku. "Iya aku serius. Aku bukan sedang bicara mengada-ada."

__ADS_1


"Tapiii...bukannya kalian justru merasa keberatan--" Akulah yang mengada-ada.


"Keberatan?" Safira menggerakkan bahu sekilas. "Tidak. Siapa yang bilang? Coba tanya saja ke kak Lidia. Kalau saja kak Lidia belum punya tunangan, masih dalam taraf berpacaran biasa dengan seseorang, dia mungkin akan mengajukan diri untuk menggantikan kak Ranti...Susah dipercaya? Monggo, konfirmasi langsung padanya."


Astagaa...


Hehehe...kenapa bisa begitu ya?


"Oke-oke. Aku akan mencoba untuk  mempercayai informasimu ini," senyumku.


Balas senyum, Safira mengangguk-angguk. Katanya, "Tentang kak Lidia, jangan dibahas lagi. Kakak itu sudah punya tunangan. Dan lagi, toh bang Hari sudah memilih kak Evi."


"Tentu-tentu. Aku tidak akan mengambil serius info-mu tentang adik iparku Lidia. Jadi kalau tentang kakakmu Evita..."


"Tunggu dulu saja."


"Iya, tentu aku akan sabar menunggunya. Meski ini sudah genap 1 minggu masa penungguanku."


"He he he... aku nggak mau mendahului. Aku ngga punya hak meski itu sekadar memberi gambaran tentang pandangan kami terhadap bang Hari.


Karena itu, tolong obrolan bertema ini jangan diceritakan lagi ke siapapun juga. Jangan juga abang bahas ke keluarga kalau aku pernah datang ke sini dan mengajak abang bicara 4 mata."


"Hokeh. Siap, laksanakan!"


"Ihh, abang."


"Ini aku serius, Safira...jujur aku tidak pernah tau kalau kalian begitu berperhatian terhadapku semasih kakakmu hidup bersamaku. Aku menjalani kehidupan rumah-tangga kami sebenarnya dengan biasa-biasa saja, dan apa adanya semampu dan sebisaku. 


Keluargaku memang selalu kunomor satukan karena mereka bertiga adalah bagian dari hidupku. Separuh jiwaku.


Tapi tidak kusangka, kalian semua termasuk ibu dan ayahmu menaruh perhatian besar padaku. Dan cukup menyukai cara hidup yang kujalankan selama 5 tahun itu." Kesekian kali aku tersenyum di hadapan Safira yang pada wajah masih berbias senyum pula.


"Tetaplah seperti itu." Gadis itu berucap lembut, menatapi teduh pada arah pandangku. "Pun bila pada akhirnya, misalnya, kak Evita menerima abang...tetaplah seperti itu. Tentunya kalau bisa, lebih dan lebih baik lagi terhadap kak Evita."


"Safiraa..."


Menolak ikut terharu bersama keharuan yang kurasakan, Safira mengalihkan pembicaraan dengan mendadak menukas riang.


"Aku sebenarnya diam-diam sedang menyukai seseorang. Cowoq teman kerjaku di kantor, bang. Dia juga seorang duda, belum punya anak sewaktu istrinya sakit kanker rahim lalu tak lama meninggal dunia, 1 tahun yang lalu. Usianya lebih tua dari bang Hari. 39 tahun."


" 'Haa..." Kedua kali aku berlagak tarik nafas panjang dramatis.


"Ah- ha- ha- ha... kalau soal umur, aku no problem. Aku ngga pemilih pada umur. Yang penting aku suka sama cowoq itu."

__ADS_1


Irfhaaann...


&&&&&-&&&&&


__ADS_2