MENIKAH TURUN RANJANG?

MENIKAH TURUN RANJANG?
8. Apa Kata Oma Laras, Apa Kata Safira


__ADS_3

###############


'bukan kami bermaksud memburu-buruimu untuk segera menikah lagi, nak har. bukan juga karena kami sudah tak ingin lagi membantu mengurusi dan menjagai si kembar dan yuan.


kami cuma ingin melihat kau memiliki istri baru secepatnya, selagi anak-anakmu masih berusia kanak-kanak yang belum terlalu mengerti apa-apa. anak-anak kecil tentu masih cukup mudah kita tangani seandainya kau disaat-saat ini sudah bertemu dengan jodohmu lalu menikah, lalu mereka memberi komentar.


istilah kasarnya, usia mereka sekarang masih gampang diatur lah.. tapi sedikit lagi mereka beranjak besar, mungkin mereka akan terlalu banyak komentar. percayalah.


karena itu, kami bahkan rembukan dengan pihak orangtuamu agar tak usah saja kau mencari jauh-jauh calon istrimu. kami merelakan putri kami safira untuk menggantikan posisi almarhumah kakak tertuanya sebagai istri barumu.'


Ini isi komunikasiku via telpon dengan oma Laras 2 hari setelah hari pertemuan dan diskusi dirumahnya.


"Ya bu, saya bisa mengerti."


'oma cuma mau menekankan, tidak ada manusia yang sempurna. safira punya kelebihan tapi tetap saja dia punya kekurangan. begitu juga dengan evita, ada kelebihannya dan kekurangan pun ada. sejauh ini ibu sebagai ibunya sangat menyadari seorang evita itu dimatamu pasti lebih terlihat pada kekurangannya daripada kelebihannya.


dia bukan sosok wanita yang meyakinkan kita sebagai seorang calon ibu yang bisa kita harapkan dan andalkan, apalagi sebagai calon ibu sambung. ibu tiri. tapi percayalah pada ibu, nak hari, calon anak-anak tirinya ini bukan siapa-siapa.


mereka bertiga adalah bagian dari darah dagingnya karena ibu mereka adalah kakak kandungnya sendiri. yang ibu sangat yakin secara naluriah dan alamiah itu akan memudahkannya menerimamu dan juga ketiga anak-anakmu, keponakan kandungnya, bagian dari dagingnya sendiri.'


"Ya, bu."


'beri dulu saja dia waktu untuk berfikir. dia masih kaget dan tak menyangka kau memilih dirinya. dia butuh waktu untuk menerima fakta nyata itu.


dia juga pasti sangat menyukaimu. sikapnya selama ini cukup baik, sopan dan hormat padamu meskipun kalian berdua sangat jarang berinteraksi. iya kan? dia benar begitu kan terhadapmu selama ini?'


"Iya ibu, itu benar."


'nah, jadi...ya begitulah. dia minta waktu untuk pikir-pikir dulu.


disini pun ibu dan ayah mertuamu tidak memburu-buruinya. kemarin dan sekarang dia pergi bekerja seperti biasa. bertemu dengan kami tapi dia tidak bilang apapun tentangmu.


dia itu memang sedikit tertutup, tidak seperti safira yang gampang diatur. tapi kalau evita sudah mendengar ibu dan ayahnya ini menyetujuinya untuk bersama denganmu, dia pasti akan lebih mendengarkan apa yang sebenarnya sedang diinginkan oleh kedua orangtuanya ini.'


"Ya, bu. saya juga belum ingin memulai komunikasi dengan evita. sebelum evita memberikan sinyal atau jawaban, saya akan menunggu lebih dulu."


'iya. dia sudah paham koq siapa kau, nak hari. dia sudah 12 tahun mengenalmu walau kenalnya tidak terlalu detil. itu sudah cukup baginya untuk melengkapi kesempatan berpikir-pikirnya itu. entah dia akan memberi jawabannya langsung padamu atau lebih dulu ke kami, kita tunggu saja dengan sabar untuk beberapa hari ini.'


"Oke. Apapun jawaban itu sebagai keputusannya, saya tetap akan menghormati keputusannya, bu."


'ya, nak hari. ibu berterima kasih banyak kalau begitu.'

__ADS_1


"Ya, ibu."


'oh ya, safira memintamu untuk mengajaknya jiarah ke makam ranti'


"Baik. Masih belum tau kapan tapi ya oke akan saya beritaukan nanti langsung ke Safira."


'iya. kalau saja makam ranti cukup dekat disekitar jakarta ini, ibu pasti akan sering-sering menjiarahinya. tapi karena ranti meminta untuk dibuatkan pusara disamping makam kakek-neneknya di semarang karena katanya ia akan merasa kesepian kalau dimakamkan sendirian di jakarta ini, ibu juga kesulitan untuk sering-sering pulang kampung ke semarang.


akhir-akhir ini ibu suka cepat kecapekan dan kaki ini ngilu-ngilu tak tertahankan. ya sudahlah, kapan-kapan saja ibu lagi enakan ibu akan pergi lagi menjiarahi ranti.'


"Ya, bu."


'nanti akan ada yang mau ibu tanyakan padamu, nak hari, tentang evita. tapi nanti saja kalau anak itu sudah memberikan jawabannya pada kita.'


"Ohh, oke. Silahkan tanyakan apapun yang ibu ingin tanyakan tentang...hehe...Evita."


'iya. hehe...semoga saja anak itu bilang iya.'


"Hahaha..."


'okelah nak har, terima kasih untuk obrolanmu dengan ibu ini. baik-baik jaga diri dan kesehatanmu, yaa. dan juga cucu-cucu ibu dirumah kakek-neneknya.'


###############


Benar Safira yang sedang duduk manis di sofa ruang utama kantor biro hukum tempat bekerjaku ini. Di luar tadi seorang sekuriti kantor memberitauku sedang ada seorang tamu mencari dan menunggu di dalam. "Tumben. Ada apa gerangan kau tumben datang ke kantor kerjaku?"


Senyum Safira semanis wajah imutnya, "Apa abang lagi sibuk?"


Terlebih dulu membalas senyumnya, aku menggeleng dan menyahut lembut,


"Tidak, tidak begitu sibuk. Hari ini Sabtu, biasanya aku akan benar-benar mulai sibuk sehabis makan siang nanti. Ada apa? Ada perlu bantuan hukum dariku?"


Aku bergurau. Safira tersenyum kecil. Gadis ini sepertinya sedang libur kerja di hari Sabtu ini. Dia mendatangi kantor biro hukumku tanpa pemberitauan. Untunglah aku sedang berada di kantor ini dan memang tidak sibuk bekerja. Belum, belum mulai bersibuk ini-itu.


"Kalau memang sedang tidak sibuk, bisa kita bicara sebentar? 4 mata. Sekarang juga."


"Oh, baiklah. Kita bicara di ruangan kerjaku saja kalau gitu. Ayo, yang di sana itu ruang kerja pribadiku."


"Oke."


Safira tidak menyadari sama sekali pandangan mata Irfan sedang mengarah pada dirinya.

__ADS_1


Lihatlah, Irfan melongo dengan takjub pada gadis ini sampai ia menghilang dari pandangan sahabatku itu, kubawa masuk ke ruang kerja pribadiku sambil aku menyengajakan menggoda perasaan Irfan, berjalan tepat di belakang tubuh Safira hingga otomatis aku 'menyembunyikan' Safira dari jangkauan pandangan mata mencari Irfan.


Hahaha...bisa kurasakan Irfan nyengir kheki di balik punggungku.


Nanti Fan, tenang saja. Safira tidak akan ke mana-mana.


"Duduklah"


"Free charge?"


"Sip. Dijamin."


"Makasih, bang Hari."


"Jadi ada apa? Ah, tunggu, biar kupesankan dulu minuman untukmu."


"Ngga usah, bang. Aku selalu bawa minuman di dalam tasku ini kalau pergi ke mana-mana. Kita langsung bicara saja. Bisa?"


"Oke kalau begitu."


"To the point ngga perlu panjang lebar berbasa-basi."


"Sip. Kupersilahkan."


"Aku tidak keberatan diminta untuk menikah dengan bang Hari."


Nah lhoo. Ternyata tentang tema itu.


"Oke, paham."


"Sama tidak keberatannya juga kalau abang akhirnya menolak aku."


"Safira..."


"Tapi aku tetap merasakan kecewa... Ngg, kenapa bang Hari akhirnya memilih kak Evi? Boleh aku tau apa alasannya? Akuu jujur benar-benar jadi penasaran. Sangat...penasaran."


Pengucapan 'sangat penasaran' itu nyaris terdengarrr...


Duh...


Aku hanya bisa terdiam beberapa saat dengan Safira memandang lurus kearah mataku dan mau tak mau aku balas melihat padanya...

__ADS_1


__ADS_2