
###############
Akhirnya kami mendapatkan kesempatan untuk membicarakannya...
Disaat ini, dinihari pukul 3.45 setelah aku bisa menikmati tidur selama hampir 7 jam setibanya dirumah semalam dan langsung saja menidurkan diri mematuhi komando Evita.
Ternyata aku memang sangat mengantuk dan segera bisa tertidur pulas, tak lagi terfikirkan Rian untuk sementara. Lalu terbangun beberapa saat lalu sewaktu samar-samar terasakan Evita bergerak turun dari ranjang pergi kekamar mandi.
"Mengajukan tuntutan? Untuk apa? Kenapa aku harus menuntut bang Hari? Itu terjadi begitu saja. Dan lagi, bukan abang yang memaksakan kehendak...aku yang memulainya."
Kumiringkan kepala dan menatap Evita, "Bagaimana kalau sebenarnya...memang aku yang memaksakan kehendak?"
"Ha? Maksudnya??" Kepala berbaring Evita diatas guling mengangkat. Menelungkup setengah meniduri sepanjang gulingnya, lalu ia bertelekan pada siku kiri supaya bisa balas menatap wajahku, "Tapi dalam video itu 'kan jelas-jelas aku yang..."
Tak lantas menjawab pertanyaan Evita, iseng kubayangkan sejenak andai aku yang berada diposisi si guling... Membayangkan tungkai kanan Evita yang sedang diayun-ayunkan itu ditempatkan pada pahaku ; secara perlahan-lahan saja di gosokkannya bagian itu menggodai paha liatku, kemudian digerakkannya naik sedikit keatas mencari sasaran baru, ganti menggosok-gosok disitu sambil pula Evita menyenangkan diri meresapi apa yang sedang dilakukan...
Imajinasi pagi. Kegiatan rutin kebanyakan pria saat baru bangun di pagi hari.
Ah ayolah, aku dan Evita masih sebagai pengantin baru. Baru 12 hari menikah. Lumrah saja setiap saat pikiran ini dipenuhi bayangan-bayangan panas dan pemikiran erotis. Apalagi sudah hampir 5 tahun ini aku berpuasa wanita dan se*s...
Terlebih lagi...istri baruku sangat cantik dan menarik, mustahil hasrat kelaki-lakian dalam diri ini tidak segera terbangkitkan meski hanya dengan melihati Evita yang menatapi wajahku lamat-lamat.
Seperti saat ini Evita sedang menekuri wajahku lamat-lamat, menanti jawabku untuk pertanyaannya tadi yang justru akhirnya membuatku disadarkan : tidak, kalau memang Evita tidak berniat mengajukan tuntutan secara hukum padaku, lebiih baik tak usah saja aku buka kartu. Membuka rahasiaku itu.
Biarlah rahasia itu kusimpan dan kubawa saja sampai mati. Karena toh setiap manusia pasti pernah punya rahasia dalam hidupnya, jadi rahasia milikku sendiri adalah tentang hal yang satu itu.
Ya begitu saja.
"Yang kumaksuud...bagaimana kalau misalnya," Aku ngles, "Bagaimana kalau misalnya memang aku yang memaksakan kehendak, apa kau akan mengajukan tuntutan terhadapku?"
Sudahlah sayang, jangan lagi semakin penasaran. Kuatir rahasiaku malah terbongkar.
__ADS_1
"Kalau itu termasuk kedalam tindak kriminal pemerkosaan, ya tentu saja mesti diadukan. Tapi bagaimana sih?" Evita mengerutkan kening, "Aku dan bang Hari 'kan pasangan suami istri, apa ada istilah suami memperkosa istri sehingga istri perlu melakukan tuntutan terhadap tindakan si suami itu?"
Aku tertawa, "Kalau begitu, sudahlah lupakan saja."
Sebaliknya istriku tidak tertawa. Ia masih berkerut pada kening, "Aku kurang paham hukum. Bang Hari yang lebih mengerti itu. Tapi coba sekarang kutanya, memangnya bang Hari ada niat mau mencobai aku lagi melakukan itu? Sudah tau aku bisa goyah kalau sedang terpengaruh alkohol, apa bang Hari suatu hari nanti akan menggunakan minuman beralkohol itu untuk --"
"Memangnya kau bisa kupaksa minum hanya supaya aku punya kesempatan menidurimu lagi? Memangnya kau akan mau-mau saja kubujuk, kalau suatu waktu nanti aku membujukmu kita minum lagi supaya kita bisa bercinta lagi?"... Evita mengikuti arah tangan kiriku yang terulur mendekat untuk mengucek sayang puncak kepalanya. Tulus kusenyumi dia, "Percayalah padaku, istriku, tidak akan terjadi lagi. Jangan khawatir. Kalau memang kau tidak mau melakukannya, ya sudah, tak usah. Tak perlu ada minum-minum lagi, tak perlu kita melakukan itu lagi. Oke?"
"Tidak oke. Kurasa...tidak apa minum dan mabuk dulu kalau memang dengan mabuk, itu bisa menolong."
Nah, apa maksudnya ini? Apa yang sedang dimaksud Evita ini sama seperti yang terlintas dalam benakku sekarang?
"Apa maksudmu?"
"Mm, maksudku...aku ada ide. Ini baru saja terpikirkan. Bang Hari, tak mungkin aku selamanya terus menghindarinya, jadi...kalau memang bang Hari sedang...menginginkannya...baiklah, aku bersedia minum dulu sampai mabuk supaya abang, maksudku supaya kita...bisa bercinta."
"Hwhat?!"
"Evita,"
"Ya?"
"Lupakan. Tidak usah. Aku bukan tipe pria sebrengsek itu memaksakanmu melakukan apa yang sebenarnya tidak kau suka melakukannya. Apalagi bercinta. Lupakan saja. Idemu itu bukan solusi terbaik dalam memecahkan masalah ketidaksukaanmu melakukan hubungan intim ini."
"Bagaimana kalau kukatakan justru sebaliknya? Justru ide ini kuanggap sebagai solusi terbaik..."
"Evitaa...sudahlah. Aku tidak akan bercinta denganmu kalau responmu padaku cuma didasari karena kau sedang terpengaruh alkohol. Walau kenyataannya kemarin malam itu...aku sempat melakukannya."
"Bagaimana kalau aku memohonkannya? Kuminta dengan segala kerendahan hatiku sekarang, pleeease, lakukan itu padaku. Bang Hari bercintalah denganku meski aku harus lebih dulu...dibuat mabuk."
Sekarang aku benar-benar merinding ngeri mendengar kata-kata terakhir Evita ini. Bukannya bereaksi sebaliknya jadi bergairah, sekujur bulu pada tubuhku berdiri meremang.
__ADS_1
Mabuk dulu baru bercinta? Evita? Yang otomatis disepanjang hayat kami, kami akan melakukan se*s kami dengan cara seperti itu disetiap kalinya?
"Kau sadar apa yang sedang kau..."
Sahutan Evita begitu cepat, "Sadar!" Terucap serius dan sepenuh hati. Hanya membuatku jadi tambah bingung. "Atau, bang Hari lebih suka untuk tidak meghiraukan permohonanku ini? Lihat, aku sedang memohon-mohon sekarang?"
"Evita, entah kenapa kau tiba-tiba jadi..."
"Tidak benar-benar tiba-tibaa..." Kali ini istriku bernada bagai berputus-asa, "Aku toh sejak menikah sudah mulai berusaha semampuku." Tukasnya setengah merajuk. Kuangguk-anggukkan kepala tanda membenarkannya. "Dan sekarang aku...sedang memenuhi janjiku. Seperti yang sudah kukatakan pada bang Hari aku akan berusaha menjadi istri yang baik, kata-kataku kemarin malam itu...kupikir dengan melakukan ide tadi itu, aku sedang mengusahakannya. Membuktikan omonganku."
Kata-kata Evita, menurutku Evita semakin hari semakin terbuka dan semakin banyak bicaranya padaku, kata-katanya sejak tadi ini memang sebenarnya...diam-diam mulai kupertimbangkan dalam benak. Meskipun dimulut aku bicara lain padanya, bereaksi lain menanggapinya.
Apa mungkin...sudah harus seperti itu jalan hidup yang digariskan bagi kami berdua dalam hidup pernikahan kami ini?
"Aku tetap tidak bisa menyetujui itu." Alih-alih menyetujui, masih juga kupertahankan 'penolakan' ini, lebih untuk mengetahui apa lagi yang akan disuarakan istriku.
"Bang Hariiii..." Dan erangan dramatis Evita adalah bentuk kegemasan tertahannya terhadapku. Tidak bisa saja ia baca bahwa didalam perasaan ini, kurasa aku sudah mulai bisa menerima idenya tadi itu.
###############
Paket kiriman Tequila dan Red Wine sudah tiba didepan mata.
Kompak memandangi nanar kearah 4 botol minuman keras beralkohol ini, baik aku dan Evita sama-sama hanya bisa termangu sesaat dihadapan mereka, yang seolah berdiri tegak menantang diatas meja makan kami...
Kembali menghadirkan 2 botol Tequila ditambah 2 botol Red Wine ber-merk paling terkenal di Indonesia, akhirnya kami bersepakat memutuskan, akan menjadikan mereka sebagai solusi, berbekal kutipan dari sebuah artikel kesehatan di media online yang aku dan Evita telah bersama-sana mem-browsingnya :
"Bukan hanya memberikan efek secara psikologis yakni mengurangi rasa takut dan gelisah, secara kimiawi alkohol juga dikenal sebagai aphrodisiac atau pembangkit gairah se*s alami. Pada perempuan, efek ini pernah diteliti di jurnal Nature tahun 1994.
Menurut para ahli ketika itu, alkohol dalam jumlah tertentu bisa meningkatkan hormon se*s testosteron. Dikutip dari Askmen, Jumat (24/2/2012), para ahli juga merekomendasikannya sebagai terapi bagi perempuan yang mengalami masalah libido atau gairah se*s rendah..."
Tentunya, tanpa mengesampingkan efek samping yang ada, kami akan tetap berusaha membatasi jumlah dan frekuensi pengkonsumsiannya.
__ADS_1
Jadi demikianlah, untuk sementara ini yang seperti ini saja. Dengan harapan suatu saat nanti seiring waktu berlalu, istriku bisa menghentikan penggunaannya, dengan kata lain, akhirnya mampu melakukan itu secara alami tanpa harus menggunakan pemancing ini. Who knows. Siapa yang tau...