
"Lalu seorang lagi adik iparmu itu?"
"Evita?"
"Nah, Evita itu."
Evita? Tanpa sadar entah kenapa aku malah terkekeh, "Hehe...yang satu itu tipe wanita unik."
"Unik?" Pandangan Irfan diam-diam segera meneliti lebih dalam ke ekspresiku. Tapi aku tak cukup menyadarinya.
"Yep," anggukku. "Lain daripada yang lain. Lain dibanding ke ke3 saudarinya."
Mungkin karena apa yang kukatakan ini terdengar cukup menarik perhatian Irfan atau entah karena kemudian aku tanpa sadar malah mengulas senyum-senyum dikulum, Irfan yang memiliki naluri pengacara tajam setajam apa yang juga kupunya, pria sahabatku ini secara halus menyimak lebih serius pada apa yang kuucapkan.
"Kenapa memang?" tanyanya.
"Gimana ya aku harus mendeskripsikannya? Dia itu...jenis wanita yang tidak akan mudah dihadapi. Dia itu seperti ikan yang berenang di tengah lautan, atau burung yang terbang di angkasa. Sangat berjiwa bebas, sangat petualang, sangat mandiri dan nyaris tertutup." ... Sangat petualang? Ya, hanya karena sempat kutau saja orang-orang dalam keluarganya sering menyebutnya aktif dikegiatan formal dan non-formal ini itu. "Selama mengenal satu persatu adik-adik istriku bisa dikatakan si Evita inilah yang tidak begitu kukenal saking susahnya dia berada di tengah lingkungan 2 keluarga besar kami. Kalau sedang ada pertemuan-pertemuan keluarga, kau cuma akan menemukan seluruh anggota keluarga mereka yang lain kecuali dia. Dia...sibuk sendiri dengan dunianya. Hahaha..."
"Oo...begitu rupanya." Jelas karena aku terlarut di pemikiran dalam benak pada tiap kata yang kuucapkan, masih juga belum kuambil hati cara Irfan manggut-manggut bersiratkan makna tertentunya.
Ditambah dengan aku berucap ini, "Tapi dia itu sangat cantik dan terkesan tomboy, Fan."
Respon Irfan sedikit mengangkat alisnya, "Oh ya? Sangat...cantik?"
"Sangat. Lebih cantik dibanding ke-3 saudarinya."
"Termasuk mendiang istrimu?"
"Ya. Istriku beraura lembut dan penyabar. Walau dia seorang pengacara. Tapi kalau dari segi wajah, yeahh...memang istriku tidak cantik-cantik amat."
"Kau sebagai suaminya saja bilang begitu terhadap istrimu."
"Aku cuma memberi penilaian secara fleksibel dan netral. Istriku dibanding Evita adiknya, dimataku tetap Evita yang terlihat lebih cantik. Evita dengan Safira atau Lidia, tetap --"
"--Evita yang lebih cantik."
"Yep."
Hening sejenak.
__ADS_1
Bukannya aku tidak ngeh pandangan tertentu Irfan itu dalam menekuri ke arah wajahku. Hanya tak kuambil hati saja.
Sikap, masih bisa kuusahakan biasa-biasa saja dalam berbincang dengan Irfan ini. Nada bicara? Sepertinya sih masih biasa-biasa juga.
Membahas istriku kakak beradik pada dasarnya tak begitu sering kuobrolkan dengan Irfan. Malah mungkin tak pernah ya? Iya, seingatku begitu.
Istriku kakak-beradik. Kalau cuma tentang Ranti seorang, ya sekali waktu pernahlah kuobrolkan dengan Irfan.
Meski bersahabat sejak sama-sama sepakat buka Biro Hukum bersama, aku dan Irfan tidak begitu menyukai membahas keluarga.
Mungkin karena dari pihakku sendiri yang sangat bisa berpengertian, menyadari dan memilah aku ini sudah berkeluarga sementara Irfan masih menjomblo, bujangan sejak lahir. Jadi kadang obrolan yang membahas keluarga kita, tidak selalu bisa masuk sepenuhnya ke dalam pemikiran atau daya tangkap seorang yang masih lajang seperti Irfan.
"Aku jadi penasaran juga kepingin lihat si Evita adik iparmu itu."
Beberapa saat kemudian Irfan buka suara. Kuangkat pandang dari dokumen klien di atas meja kerja yang sekilas sedang kuteliti, melihat padanya yang saat ini duduk di kursi seberang meja. Kursi yang biasa diduduki para klien saat sedang berkonsultasi padaku di dalam kantor kerja pribadiku ini.
"Aku punya fotonya dalam HPku." Kusandarkan punggung ke kursi, membungkuk sedikit menarik laci meja tingkat dua. Mengeluarkan HP dari dalamnya. "Kebetulan aku sempat menemukan foto-foto dalam HP istriku lalu beberapa kusimpan ke dalam HPku ini. Bukan cuma foto gadis itu tapi juga yang lain. Kau mau lihat 'kan?"
"Oh, bolehlah. Coba, mana, biar kulihat dulu."
"Tunggu sebentarrr...biar kucari dulu. Di folder mana ya foto dia itu?"
"Berapa usianya, ngomong-ngomong?"
"Wah, tidak lebih tua juga dari calonmu Safira."
"Hahaha...calon apaan. Belumlah. Nah ini dia. Ini cuma berupa foto. Kalau kau bilang dia tidak cantik-cantik amat seperti apa yang kubilang, itu berarti kita berdua punya penilaian yang berbeda. Relatif."
Sambil senyum dikulum lagi kuletakkan HP ke dalam telapak tangan kiri membuka Irfan.
"I see i see. Oke, coba kucermati dulu ini dengan seksama." Memulai mengamati pada gambar sosok Evita dalam foto, Irfan menekuri lalu mengangguk-anggukkan kepala perlahan. "Hmm...oke-oke. Orangnya terlihat berpenampilan sederhana saja. Dari segi wajah terkesan berprofil santai dann cukup terlihat ramah. Kalau kau sebut dia cantik, memang cantik. Tapi karena ini cuma nampak dalam foto, masih susah juga bagiku menganggapnya lebih cantik juga atau tidak dibandingkan ke kedua ipar perempuanmu yang lain."
"Ya... Pokoknya inilah si Evita itu."
"Okee, aku tau sekarang."
"Dann..." Maju sedikit mencondongkan tubuh untuk memperlihatkan Irfan foto lain dalam HP, yang masih dipeganginya dengan kedua siku bertumpu di permukaan meja, ujung telunjukku menggeser pada layar HP. "...ini Safira, lalu ini yang Lidia disebelahnya."
Pandangan mata Irfan serta merta menatap lebih fokus pada Safira. "Oow...Ini Safira. Terlihat kyut. Safira-mu ini bahasa ceweqnya kyut, imut-imut sekali. Cantik."
__ADS_1
"Pada dasarnya mereka ber-4 memiliki wajah yang cantik, Fan. Tak perlu heran, ayah mereka mantan model di tahun 70-an."
Wait, Safiramu?
"Ooo...pantees."
"Jadi begitulah story tentang mereka."
HP kembali berpindah tangan dan kemudian cuma kutaruh pada samping tumpukan kertas di atas meja. Di hadapanku Irfan sambil setengah membayangkan ulang, memicing samar saat kembali melihat ke arah wajahku, "Aku sreg pada adik iparmu yang Safira itu, Har..."
Bengong, aku nyengir, "Masa, Fan?"
Lebih dari serius dan penuh keyakinan Irfan mengangguk kalem. "He-eh. Mungkin karena aku penyuka wanita imut dan kekanakan. Kurang suka pada wanita-wanita yang terlihat kuat, sekeras baja, kelaki-lakian ataupun yang terlihat dewasa dari usia mereka. Gadis imut kekanakan itu terasa menggemaskan dan menggoda." Irfan menyenyumi sendiri omongannya.
"Oooww..."
"Kalau kau tak jadi jadian dengan iparmu yang Safira itu, kalau kau tak keberatan, kenalin sajalah dia ke aku, Har."
Sontak melongo aku cukup terkagetkan, "Ha? Serius, Fan? Kau beneran serius?"
Tersenyum simpul padaku Irfan membarengi anggukannya, meski ia santai menjawab, "Dua rius."
"Wah, ngga nyangka aku. Mengingat kau itu paling jarang bahass...oke, lupakan."
"Aku benar-benar serius," tegas Irfan. Ya, Irfan memang mulai nampak menyeriuskan dirinya di hadapanku. "Siapa tau. Siapa tau kau tidak ada jodoh dengan si Safira, berikan saja dia padaku."
"Hehee...okelah kalau begitu. Aku akan mengatur itu kalau memang aku dan Safira tidak jadi berjodoh."
"Siip. Thank you a lot."
"Bagaimana dengan usia kalian? Kau 38 dan dia...27?"
"No problem. Aku tak pernah pusingin umur. Yang penting aku suka dan cinta pada wanitaku, dan sudah tentu wanitaku pun harus begitu terhadapku."
"Ooo...Sounds so sweet."
"By the way Har, ngg...kau coba dulu saja pertimbangkan si Evita itu."
Evita? Safira saja aku tidak ada minat, apalagi Evita.
__ADS_1
Ah, pokoknya tak 1 pun dari mereka yang kuminati.
Aku benar-benar tidak sreg mencari istri baru yang berasal dari salah satu dari adik-adik iparku itu.