
Ini bukan lagi di era Siti Nurbaya walau aku baru saja menerima perjodohan a la era itu.
Ini juga bukan era yang membatasi kebebasan muda mudi untuk berekspresi.
Ini era modern yang, setidaknya menurut pendapatku pribadi, sudah tidak lagi menganggap tabu seorang pria memberi kecupan singkat pada gadisnya, di depan mata publik sekalipun.
Kecupan singkat. Bukan ciuman.
Hal yang baru saja kulakukan.
Sambil berbisik dekat di telinga Evita mengucapkan kata 'terima kasih'-ku untuk jawaban 'iya' darinya, sesudah kata Terima Kasih dan sebelum kata-kata Untuk Jawaban Iyamu...di antara kedua momen itu aku menyisipkan momen mengecup singkat pipi kiri Evita, begitu kami sudah beranjak berdiri pada balik meja lalu aku mendekat padanya.
Melakukan itu sebelum kemudian kami berjalan melewati pemirsa di sebelah kiri meja.
Evita tidak memberikan reaksi norak, untunglah.
Ia memang sempat terkejut menerima sentuhan singkat bibirku di pipinya tapi responnya cukup menawan hati ; hanya melihat sekilas padaku lalu tersenyum kecil. Tanpa komentar apapun ia membiarkan telapak tangan kanan ini menyentuh pada punggungnya...diam di situ sambil aku terus berjalan di sisinya menuju pintu keluar KFC.
Fiuhh...
Entah seperti apa kemudian reaksi terakhir dari pemirsa-pemirsa kami di dalam tadi begitu melihat keberlaluan kami...
Sesampainya kami di luar, berdiri berhadap-hadapan di halaman resto KFC di sinari lampu penerangan jalan karena hari memang sudah malam, aku mengucapkan setengah membisik kata-kataku sambil menyapukan punggung jari telunjuk membelai pipi kiri Evita,
"Kita tunda dulu saja untuk di hari ini. Sudah mau malam. Sudah malam. Sebaiknya kau langsung pulang saja. Besok kau masih harus berangkat kerja lagi. Nanti kita cari waktu yang tepat untuk kita melanjutkan pembicaraan ini."
Aku sangat menyukai memperlakukan wanitaku secara jentelmen, care, protektif dan sudah termasuk itu kedalamnya bentuk sikap kesopan-santunanku, hormat dan seganku pada segenap para mahluk bumi yang biasa disebut sebagai kaum hawa.
Terlahir sebagai anak bungsu dalam keluarga tanpa seorangpun adik apalagi adik perempuan, karena itu dalam setiap hal-setiap suasana, aku selalu mencurahkan segenap kasih sayang yang kupunya pada wanita-wanita tercintaku.
Terutama sekali pada mendiang, Yuan, mama dan kini...bertambah satu lagi.
Kembali berusaha mengerahkan pengendalian diri berhubung kami sudah berada di area sangat publik, masih saling berpandangan dekat, Evita mengangguk sambil menyahut singkat saja.
"Ya."
Tanpa ragu aku meraih kedua pergelangan tangan gadis itu.
Tanpa sungkan tanpa gugup, ia membiarkan lagi aku memperlakukan manis dirinya. Membiarkan aku menumpuk, menyatukan kedua telapak tangan Evita di dalam tangkupan kedua tanganku.
__ADS_1
Masih tersisa hawa dingin dari kami berdua disitu, bekas curahan beberapa lama AC dalam resto dan udara malam.
"Tentang Safira, jangan terlalu kau fikirkan." Aku berkata serius pada Evita kemudian, "Jujur, kami memang sudah bicara tentang hal ini. Dia akan baik-baik saja, Evita. Percayalah."
Kini memandangiku dengan kurang yakin, Evita terlihat ingin mencoba mengatakan sesuatu tapi ia mengurungkan. Memilih memberi jawab bagi kata-kataku hanya dengan sekali lagi sahutan singkat, menyerah pada apa yang tadi sudah mau ia ucapkan tapi dibatalkan.
"Baiklah."
Ada apa, ada yang mau kau katakan? Bisikku di dalam hati.
"Dan aku janji, aku bersumpah, aku tidak akan pernah berubah pikiran. Tentang aku menyinggung ingin berubah pikiran, tadi aku cuma becanda. Main-main. Cuma ingin menggoda perasaanmu."
"Ya. Aku tau."
"Kuharap kau juga. Kumohon...jangan sampai pernah kau berubah pikiran."
"Janji. Sumpah. Tidak...akan."
"Trima kasih. Pakai jaketmu. Kutemani kau mengambil motor di tempat parkir kantormu."
Kesekian kali, kembali hanya dibiarkannya saja tanganku membantu merentangan jaket kulit yang dilepas dari pinggang, yang sedari tadi hanya Evita belitkan kainnya pada bagian tubuh satu itu.
Diam-diam mulai kuhafal satu persatu kebiasaan-kebiasaannya dimulai dari yang di hari ini.
##############
Ranti Kemala Sari, Lidia Novita Sari, Evita Purnama Sari, Safira Mega Sari... Ranti, Lidia, Evita dan Safira.
Hanya Ranti bernama panggilan berakhiran I sementara ketiga adiknya A. Dan nasib istriku ini juga berbeda sendiri dibandingkan ke 3 adik-adiknya.
Di hadapan pusara makam istriku, aku bersama ke-3 putra putriku serta Evita dan Safira berlutut mengirimkan doa untuknya. Juga memohon restu darinya bagiku dan Evita untuk kami berdua yang sudah siap menyatukan hubungan kami, sesegera mungkin kedalam ikatan tali perkawinan.
"Iya, tak perlu berlama-lama lagi. Secepatnya saja di tahun ini juga. Apalagi nak Lidia itu sudah berkali-kali menegaskan tidak keberatan dilangkahi oleh adiknya dan kau. Karena tunangannya masih terikat kontrak kerja dengan perusahaan asing tempatnya bekerja itu. Dilarang menikah sebelum kontrak kerjanya selesai di 2 tahun mendatang."
Demikian kata mama beberapa saat usai aku mengumumkan kepada orangtuaku bahwa Evita menerima dan bersedia menikah denganku.
Papa yang 50% saja menyetujui kami kemudian berbicara buka kartu,
"Papa setuju. Baiknya memang kalian buru-buru menikah saja. Menghindari hal-hal tak kita inginkan. Papa pikir dengan papa pura-pura tak menyetujui sepenuhnya kau dan nak Evita, anak itu akan membuatmu kesulitan atau menolakmu.
__ADS_1
Tapi dia sama sekali tidak menolakmu walau dia tau betul aku tidak menyetujui kalian 100%. Ya sudah, tunggu apa lagi? Kita adakan saja pernikahan kalian itu di tahun ini juga. Tak usah pakai pacaran atau pertunangan segala."
Akhirnya papa membeberkan tentang kepura-puraan beliau itu.
Aku dan mama bertukar pandang, kompak geleng-geleng kepala lalu mama pun tertawa,
"Dasar papamu itu, Har...ada-ada saja idenya ini."
"Kalau misalnya Evita menolakku karena beralasan tentang papa yang tidak sepenuhnya setuju, apa yang akan papa lakukan kemudian?" Tanyaku pada papa.
"Simpel saja. Akan kusuruh kau mencari wanita yang lain.'
"Papaa..." mama menebah dada, "Ya koq kejam begitu sih, pah?'
Tak bersungguh-sungguh menyergah, papa mengibas tangan,
"Aku tidak butuh calon mantu yang tidak ada dukungan morilnya berjuang untuk mendapatkan anakku, ma. Itu saja. Tapi ya sudah, tidak perlu dibahas kemana-mana lagi. Nak Evita sudah mau dengan si Hari ini, ya sudah. Itu sudah cukup."
"Benar juga sih, Har." Mama melihat padaku. Aku mengangguk-angguk.
Papa menambahkan sambil menunjuk-nunjukkan gagang kacamatanya kemuka,
"Restu penuh dari orangtua itu mutlak, Hari. Tapi perjuangan dan pengorbanan dari calon istrimu pun tak kalah pentingnya. Tanamkan pesan ini ke anak-anakmu nanti."
"Baik, pa."
"Nanti kutelpon besan Rudi." Lanjut papa, "Kita rembukan lagi. Sementara itu, kau dengan Evita tetap harus jaga jarak dulu. Ja-ngan ma-cam ma-cam! Jangan bikin malu ke-2 keluarga. Kau mengerti apa yang sedang papa maksudkan ini?"
Tertawa singkat kuanggukkan kepala,
"Mengerti, pa. Sangat mengerti."
"Bagus. Pergi berziarah ke makam Ranti. Ajak Evita, anak-anakmu dan beberapa yang lain kalau memang ada yang mau ikut. Kalian minta restu di sana dan berdoa. Yang akan kau nikahi itu adik kandung mendiang istrimu. Beban mental yang harus kau sandang jadi jauh lebih besar dan berat. Paham?"
"Paham, pa."
"Bagus. Papa jujur benar-benar senang Evita mau menerimamu. Karena papa sedikit banyak tau kalau anak itu bukan jenis wanita atau manusia yang mudah untuk dihadapi.
12 tahun papa memperhatikan yang satu itu, dari dia masih berseragam putih abu-abu sampai sekarang mengenakan seragam PNS, papa lihat dia itu memiliki kepribadian yang keras, tegas, mandiri, tapi kebetulan saja dia lebih suka menarik diri.
__ADS_1
Selama ini dia tidak menyadari pantauan dari orang-orang disekitarnya utamanya dari pihak keluarga kita. Papa contohnya. Bagaimana dia tidak kebagian pantauan papa, wong dia bagian dari salah satu adik kandung menantuku koq.