
Sentuhan ringan saja oleh ibu jari kiri ini. Lihat, gadis ini tetap tidak melakukan pengelakan. Pun saat perlahan kumajukan wajah lalu sengaja berhenti setengah jalan untuk sekadar melihat reaksi lain, ia justru memejam...dan akhirnya menerima hadirnya kali ini bagian bibirku di permukaan bibirnya...bibir seorang wanita, yang sudah 4 tahun ini tak pernah lagi kurasakan.
Tak ada respon bukan berarti sikap Evita dingin. Meski bibir ini cuma kusinggahkan sebentar saja disana, hanya serupa kecupan bagai tak mengandung makna, Evita meresapinya.
Oke, sudah cukup, jangan dulu terlalu jauh.
Slowly but sure.
Yang penting, aku sudah bisa semakin diyakinkan, kemungkinannya Evita tak menghindari interaksi se*sual.
Utamanya sekali gadis ini tidak menolak kontak fisik bagian luar.
Oke, paham.
"Apa kau sudah pernah berciuman?" Pertanyaan yang terdengar olehnya ini membuat mata memejamnya perlahan membuka. Tentu tadi ia dapat merasakan hembusan nafasku ; aku berbicara, bertanya, sangat dekat di permukaan bibirnya. Dan masih sedemikian saat ia membuka mata.
"Belum." Menyahut dalam nada suara polos Evita bergantian memandangi mata dan pada bibirku. Ia tertarik... mengamati pada bagian itu.
Refleks menarik wajah kembali, kedua alisku mengangkat, "Belum pernah? Juga saat mereka pernah dekat denganmu? Ada lebih dari 3 pria sebelum aku..."
Ekspresi berpikir serius Evita seolah menganggap tema pertanyaanku sama seriusnya. So cute woman actually,
"Mm...hanya satu yang sempat mencium seperti ini. Tapii tentu saja yang seperti ini bukan termasuk berciuman, kan?"
"Seperti yang kulakukan tadi?"
"Ya. Bukankah tadi bukann...berciuman?"
"Maaf Evita, kubelokkan, kau tidak menolak yang kulakukan tadi --"
"Aku hanya merasa jijik pada kegiatan se*snya. Se*s yang sebenarnya."
"Oohh..."
"Aku tak mau melakukan itu."
"Meski denganku? Apalagi denganku?"
Kata-kataku sendiri saja sanggup membuat dadaku kemudian bergemuruh. Aliran darah berdesir. Mengencang dibagian tertentu pada tubuhku. Dengan sendirinya membayangkan melakukan se*s sesungguhnya dengan Evita.
Gelengan halus kepala gadis ini bisa berarti 2 makna saat ia diam saja tak menyahut.
Baiklah, jangan diburu-burui dulu.
Gadis ini suka padaku. Ia pun sudah berterima kasih aku telah memilihnya. Bila pada kenyataannya ia punya fobia se*s, takut pada se*s, takut bercinta dan menganggap bercinta itu menjijikkan, itu sepertinya cuma perasaannya saja. Teorinya saja. Begitu sudah bertemu pada prakteknya, dia sendiri mungkin belum tau apa ia masih akan menganggap hal itu menjijikkan atau bukan.
Jadi, biarkan teorinya kandas oleh prakteknya sendiri. Dan itu butuh bantuan dariku untuk menghadirkan bentuk prakteknya. Agar segera terungkap masih sebagai hal menjijikkan atau bukan kah, begitu aku mulai melancarkan serangan mencoba mengajaknya bermain cinta.
__ADS_1
Ya, begitu saja dulu untuk sementara ini.
Sekarang, ada baiknya mengalihkan pembicaraan dulu. Paling tidak, sambil menikmati seutuhnya suasana sekitar laut Ancol ini.
"Ngomong-ngomong, Evita, sebenarnya aku penasaran. Mengapa kau menamai anak remaja di Banten itu Pendekar Perkasa? Apa itu nama aslinya?"
"Haha...bukaan. Itu nama salah satu ayam jagonya. Ayam jago itu paling jago bertarung. Karena itu dia memberi nama si ayam sebutan Pendekar Perkasa itu."
"Ooo...begitu rupanya. Paham sekarang. Jadi nama anak itu sendiri?"
"Johandi."
"Johandi?? Nama yang sangat bagus."
"Dia punya saudara kembar juga. Johansyah."
"Astaga?"
"Aku sedang berencana membuatkan Johansyah sebuah pameran kecil. Dia pandai melukis. Lukisannya luar biasa bagus. Belum ada yang memfasilitasinya membuka pameran padahal hasil karyanya sudah banyak, lebih dari 70 karya, tapi hanya ia simpan di gudang saja. Mungkin bulan depan kalau sudah di ACC, dia bisa menggelar pamerannya sendiri di sebuah Balai Pendidikan dan Latihan Kecamatan."
"My goodness...Evita."
"Aku suka mereka berdua. Kalau saja aku punya keluarga sendiri, aku kepingin banget mengadopsi mereka. Tapi sudahlah, tak usah. Mereka mulai beranjak dewasa. Sudah mulai bisa menentukan masa depan mereka dan mandiri.
Johandi berencana membuat usaha ternak ayam. Juga, aku sedang mengusahakan hal itu supaya bisa terwujud di awal tahun depan."
Jadi seperti inilah kesibukan dibalik sering 'menghilang'nya seorang Evita Purnama Sari dari tengah keluarga.
Bagaimana aku tidak semakin jatuh simpati, salut dan bangga padanya?
Tak salah kalau kuhadiahkan ia pulasan senyum paling mempesona yang pernah aku miliki.
Ia pun balas senyum. Sebelum mengganti ekspresi ke wajah serius,
"Bang Hari..."
"Hm?"
"Tidak ada tindakan pelecehan se*sual terjadi padaku Tidak pernah ada sama sekali. Jangan tanya atau jadi penasaran kenapa aku menyebut bermain se*s itu, berhubungan intim itu, hal yang menjijikkan. Sampai kapanpun aku kesulitan menjelaskannya pada abang.
Pokoknya bagiku itu ya seperti itu.
Tapi kalauu...kalau bang Hari bisa... menerima --"
Alamak...
Niat hati ingin mengisi waktu dengan tidak hanya membahas se*s karena aku toh berminat juga membahas hal-hal lain dengan Evita, namun ternyata gadis ini sendiri yang mengembalikan obrolan ke tema itu.
__ADS_1
Dan yang tadi dinyatakannya diawal, oo...ternyata yang satu itu seperti itu rupanya.
"Evita..."
"Aku akan mundur kalau --"
"Bisa," anggukku bersungguh-sungguh menanggapi kalinat Evita. "Aku bisa menerimanya. Akan kuterima. Toh hidup bukan hanya tentang se*s semata, bukan sekadar tentang se*s semata, masih ada banyak hal yang harus manusia pikirkan.
Begitu kata beberapa orang yang pernah beranggapan seperti itu dalam menilai hidup ini. Dan aku, jujur menganggap hal itu ada benarnya."
"Tidak, tidak mungkin. Itu sangat mustahil. Untuk apa hidup menikah dengan wanita yangg..."
"Evita, dengar...aku sangat serius. Aku akan mengesampingkan itu...yang penting, aku bisa hidup bersama denganmu."
"Masa'? Bukan karena bang Hari sedang merasa kasihan saja padaku yang mengharap-harap supaya bang Hari tidak meninggalkan aku? Seperti yang sudah aku curhatkan dalam diari itu..."
"Apa dalam pandanganmu aku sedang terlihat atau terkesan seperti itu?"
"Ngg...tidak tau."
"Aku mencintaimu, Evita. Aku sudah jatuh cinta padamu. Aku sudah tak mungkin lagi...tak bisa kalau harus berpisah darimu. Benar-benar tak bisa..."
Dan Evita pun sukses terperangah.
Terlihat hampir-hampir tak bisa mempercayai apa yang telah didengarnya.
Untuk sesaat yang terasa begitu lama, kami hanya berdiam diri dengan pandangan masih saling bertatapan.
Ach, sudahlah, aku tak tahan lagi...maka kuangkat dan kulingkarkan lengan kiri ke seputar belakang leher Evita dengan telapak menangkup sisi kiri kepalanya...
Aku sendiri yang maju mendekatkan diri padanya, menyadari betul keraguan masih menguasai perasaan Evita sesudah mendengar pengakuanku barusan, sehingga ia enggan melunakkan pertahanan sikap pengendalian diri yang kini ia munculkan ke permukaan.
Wajahku maju mendekati wajahnya...ia hanya diam tak bergerak, tidak melakukan penghindaran begitu bibirku menyentuh bibirnya lalu...
Adakah orang-orang disekitar tengah memperhatikan pada apa yang akan segera kulakukan? Masihkah hanya debur ombak memecah ke pantai ini itu yang menjadi penonton kami?
Bagai sudah demikian kelaparan, kurangkum mulut Evita, kulum*t bibirnya yang seolah hanya pasrah saja menerima perlakukanku.
Butuh waktu membuat gadis ini melumer, meleleh, ketika lidah kutelusurkan diseputar kedua bilah bibirnya, akhirnya ia menyerah juga. Sela bibirnya perlahan merekah, menampakkan celah, membuat lidahku akhirnya bisa masuk disela itu karena ia sudah mengijinkannya.
Tidak ada reaksi penolakan.
Yang ada hanya gumaman lenguhan tertahan dan geliat kecil ketika akhirnya telapak tangan kanan kutempelkan ke sisi kiri pay*daranya, meremas bagian itu, memijat bagian itu, yang tak mungkin hanya sampai disitu saja...
Evita sungguh-sungguh menyerah. Penuh damba dirinya justru lebih membiarkan aku memperdalam ciumanku. Dan ia berusaha membalas. Tak punya pengetahuan dalam hal berciuman, ia terasakan betul olehku sangat gagap dalam memberikan balasan.
Jadi lebih baik kulakukan pengulangan saja dari awal, ajari dulu dia secara lembut dan pelan-pelan...sampai ia yakin ia mengharapkan yang lebih lagi...
__ADS_1
###############