MENIKAH TURUN RANJANG?

MENIKAH TURUN RANJANG?
31. Besok Malam


__ADS_3

Sepertinya tidak. Ini bukan mimpi atau khayalan. Sebab Evita nyata-nyata berdiri tegak dihadapanku dalam sikap kekanakan menggendong botol Tequila dilengan kiri, sudah menyanggupi akan meminum Tequila ini bersamaku.


Bahkan katanya sampai termabuk?


Tak terbersit sedikitpun kesan curiganya terhadapku. Atau, tidak atau belum menyadari kemungkinan apa yang akan terjadi apabila ia sampai dibuat mabuk oleh minuman berkadar alkohol hampir 40% ini.


Tentu saja, karena istriku ini toh belum pernah mengalami mabuk alkohol. Jadi bagaimana dia bisa tau efeknya akan seperti apa, selain yang umum terjadi dan mungkin ia sudah paham ini, peminum yang mabuk akan berubah menjadi kacau sekacau-kacaunya. Entah bagaimana dengan Evita sendiri, istriku pun tak tau apakah ia akan sama kacaunya dengan itu.


Jiwa ketomboyan Evita, jiwa petualang seorang Evita, jangan dipancing. Kalaupun akhirnya istriku terpancing, sungguh aku merasakan antara 'ngeh dan tidak 'ngeh sedang memancingnya.


Kalimat-kalimat padanya tadi kubuat alami saja keluar dari mulutku. Tidak dirancang sama sekali, tidak direncanakan A hingga Z-nya harus terucapkan apa atau seperti apa.


Oh Evita, aku minta maaf padamu. Karena aku sangat menyayangimu dan peduli padamu, terpaksa kunekatkan diri berbuat ini.


Bukan karena aku tak bisa menerimamu apa adanya dirimu. Tapi...karena terlalu cinta padamu, aku jadi begitu ingin membagi cinta yang kurasakan ini kepadamu mengikuti caraku, yang kuanggap cara ini yang lebih benar untuk dilakukan.


Demi kebaikanmu. Demi kebahagiaan rumah tangga kita, tak peduli mulutku sendiri yang pernah menyebut Hidup itu tak selalu tentang se*s...


Maafkan aku dan cintaku yang begitu egois...semoga kelak kau bisa memahamiku...


Yah, semoga.


Evita masih memandangiku menanti jawaban.


Kapan? Baiknya tidak malam ini, bidadariku. Aku masih merasa sedikit 'syok' menerima penerimaanmu ini, jadi butuh waktu sebentar untuk beradaptasi menerimanya sekaligus mem-prepare beberapa persiapan.


"Besok malam, sayang." Akhirnya aku memberi jawab demikian seraya mengambil botol Tequila dari tangan istriku dan mengembalikan kedalam kotaknya, "Seharian ini aku sudah begitu banyak minum kopi sambil mempelajari file-file klien kiriman asistenku. Jadi baiknya besok malam saja kita menikmati ini, saat kita sudah benar-benar nyaman dan santai. Bagaimana?"

__ADS_1


"Terserah. Terserah bang Hari saja." Gedikan kedua bahu Evita lebih terkesan kekanakan. Oke, terserah. Jadi, waktu pada besok malam itu diprioritaskan. Kami pun saling bertukar senyum. Bidadari kesayanganku sudah berhasil setengah jalan kutaklukkan. Tapi sepertinya, rasa dihatiku belum bisa benar-benar sreg.


"Tapi Evita, sungguh kau inginn...maksudku, kau bisa sekadar mencicip, menyeruput sedikit saja, tidak apa. Asal kau sudah bisa tau saja seperti apa rasa Tequila itu di lidahmu. Tak usah menenggaknya secara serius.


Kalau aku sendiri, yang pernah membuatku sampai mabuk itu meminum sampai 3 sloki.


Kau tau, 1 gelas sloki itu kurang lebih kira-kira 30ml. Jadi ya, di sekitar jumlah itulah aku kemudian mabuk. Atau mungkin lebih dari 3 sloki, entah aku lupa. Maklum aku sudah keburu tak sadar --"


Mungkin kata-kata terlontar ini terdengar membosankan bagi istriku karena kemudian ia menyela dengan menarik kedua tanganku, menempatkan mereka masing-masing kesisi pinggangnya sambil ia menggeser lebih dekat lagi ke meja.


Isyaratnya bisa kutangkap jelas, lantas kuangkat dan kududukkan ia pada pinggiran meja.


Hampir menyenggol kotak dus paket disebelah...


Berbasa-basi sesaat, istriku berucap, "Jus, bang Hari? Sekadar mencicipi? Noo. Sudah bukan umurku lagi cuma cicip-mencicipi. Aku sudah 17 tahun keatass."


Maka kurentangkan tangan, kugapai kedua tangan istriku untuk disurukkan kesela ketiakku. Kami berpelukan. Saling memeluk satu dengan yang lain. Manakala dirasanya masih kurang melekat, Evita membuka dan merenggangkan sela kedua paha, memberiku ruang supaya aku maju lebih merapat lagi padanya, maka...


Kami pun berciuman, dalam berbagai gaya, posisi dan efek suara bagai sedang melepas kerinduan terpendam.


Diantara pelukan erat kedua tangan Evita diseputar bawah ketiakku dan jepitan kedua kakinya menguasai sisi tubuhku.


Pada tepian meja makan yang sedikit lagi saja Evita bergerak mundur bisa menabrak 1 botol Tequila yang masih berdiri diatas meja.


Diantara pula gosokan dadaku pada pay*dara bulat penuh Evita, tak afdol berpelukan erat begini tanpa menciptakan reaksi kimia lewat gaya menggeseknya kami.


Belum lengkap pula percumbu-rayuan sepasang suami istri pengantin baru sebelum melakukan adegan-adegan erotis semisal gerakan perlahan naik turun salah satu kakiku disela kedua paha istriku ini hingga persentuhan pada lekukan tersembunyi disana mendorong Evita menggeliatkan pinggulnya.

__ADS_1


Berpegangan pada kedua bahuku, ia menarik ciuman, memilih menikmati dengan kepayahan permainan kaki kananku di area sensitif bawah tubuhnya. Atau gerayangan tanganku yang membuai satu demi satu bukit kembarnya, menciptakan geliat, lenguhan, rintihan, dan pastinya basah melembab. Atau, selusuran lidahku pada daun telinga hingga sepanjang sisi leher Evita.


Memang tak akan bisa disebut sempurna sebelum aku berhasil menidurinya dan membuatnya tersadar bahwa berhubungan suami istri itu bukan suatu hal menjijikkan melainkan sebenarnya sesuatu nan indah menghanyutkan...


Tapi seperti pengalaman yang sudah-sudah ia langsung menarik dan menutup diri begitu kuajak bercinta, maka kini aku tak pernah lagi mencobainya. Hasilnya, lewat sekadar bercumbu-rayu pun, kuakui aku cukup terpuaskan dan mencari puncak dengan aku sendiri memuaskan diriku.


Seperti itulah yang terjadi selama 8 hari terakhir ini. Masih untung, Evita tak banyak bicara dan tak banyak komentar tentang se*s unik kami...


Usai beberapa saat kami memuaskan diri bermesraan...


"Baiklah, bukan cuma mencicipi, kau boleh meminumnya. Seberapapun kau masih mau dan sanggup meminumnya, kita akan minum bersama." Tukasku pada Evita disambut tawa renyahnya.


"Can't wait," timpalnya senang.


Apalagi aku, sayang.


"Oke. Ngomong-ngomong kau tidak bosan hanya dirumah terus seperti ini? Aku tipe orang rumahan. Kau bukan orang rumahan. Sudah hari Senin hari ke 9 pernikahan kita, kita cuma keluar rumah 2x untuk belanja ke swalayan. Selebihnya tidak kemana-mana lagi. Apa kau tidak merasa bete?"


"No problem. Aku suka koq. 'Kan ada temannya. Asal ada abang disini bersamaku setiap menit setiap detiknya, aku tidak kepingin yang lain-lain lagi."


Aku tertawa. Evita tersenyum penuh arti. Seluruh bagian tubuh atasnya senantiasa diperkenanankan melekat erat pada tubuhku begini, aku pun tak menginginkan apa-apa lagi yang lain. Istriku ini sudah semakin melebur kedalam diri dan hatiku hari demi harinya. Sepanjang waktu di 9 hari terakhir, kami berdua bagai sulit dipisahkan lagi.


Istriku Evita Purnama Sari, SH. Masih berstatus perawan dihari ke 9 pernikahan kami. Cuma bisa memperaw*ninya sebatas pandangan mata.


Tidak pernah melarangku mencumbuinya, bahkan aku memintanya tidur disisiku tanpa busana sepotongpun, ia selalu mengabulkan.


Tiap inti bagian dirinya bukan lagi rahasia bagiku. Begitupun bagianku ini baginya. Memang terasakan menyiksa bagiku hanya dapat menyentuhnya tapi tak bisa memiliki sepenuhnya, namun lambat laun aku semakin mahir menjalankan kesabaran itu, jadi ya sudah, hidup toh harus terus berlanjut.

__ADS_1


###############


__ADS_2