
&&&&&-&&&&&
Para hadirin di ruang tamu jelas sekali bereaksi beragam. Ada yang terhenyak lalu tertegun diam, ada pula yang terang-terangan memandangiku lewat tatapan tak percaya itu, usai mendengar pernyataanku barusan.
Tak terkecuali Evita, gadis itu terkejut, serta merta melontarkan tatapan tajam kearahku dari arah tempat duduknya di seberang sana, seolah bak harimau lapar siap menerkamku.
Sungguh membuatku jadi sedikit gentar diberi ekspresi keras sedemikian maka kupilih mengalihkan perhatian pada yang lain.
Mama dan papa memandangiku bagai kehilangan kata-kata.
Oma Laras dan opa Rudi suami istri saling bertukar pandang rikuh lalu kompak melihat kearah putri-putri mereka, Safira di sini dan ke Evita di sana.
Di tempat duduknya pada salah satu kursi sofa Safira diam tertunduk. Di sebelah gadis itu, om Dante adik papa dan om Simon adik oma Laras tak bereaksi lebih hanya tersandar ke kursi sedemikian rupa.
Begitulah yang tertangkap pandangan sekilas ini pada mereka sebagai reaksi demi reaksi akibat pernyataanku.
"Hari...mama dan papa tidak sedang becanda denganmu, Har." Terdengar suara mama sebagai pengomentar pertama. "Kau mana boleh...mana boleh bicara begituu?" Mama menekan nada 'begitu-nya, sangat tidak enak hati pada para besan yaa aku paham.
"Tidak, ma." Tak ingin terpengaruh kugelengkan kepala tegas, melihat pada mama namun intinya menujukan bicara pada hadirin sekalian, berusaha mengabaikan sejenak bayangan akan reaksi Evita tadi.
"Aku sama sekali bukan sedang becanda, sebaliknya, aku lebih dari serius... Kalau kalian para orang tua dan tetuaku begitu menginginkan aku untuk menikah lagi dengan salah satu dari adik-adik iparku, kutegaskan sekali lagi bahwa ya aku bersedia. Dan tidak akan berkeberatan. Asalkan...aku menikah dengan Evita, bukan dengan Safira."
Setan mana yang sedang bersemayam dalam otakmu ini, Hari Pratama sehingga kau bisa berkata seperti itu? Kau mengincar seorang wanita yang 1000% bukan tipemu, man!
Hening lagi.
Keheningan yang aneh karena di ruangan ini sedang berkumpul lebih dari 5 orang manusia dewasa.
Mama nyaris sudah mau mendelik saja padaku yang dianggapnya makin ngeyel karena mengulang penegasan itu.
Papa melihat pada om Dante, sang adik hanya balas melihat tanpa memperlihatkan reaksi lain.
Evita? Aku belum berani lagi melihat kearahnya. Tapi aku sedang menunggu reaksi gebrakan hebat darinya, entah apakah dia akan mengamuk panik atau histeris sesuai dengan wataknya yang disebut banyak orang jauh dari kelemah-lembutan, atau segera angkat kaki, juga sesuai karakter sifat dirinya yang pada dasarnya tak menyukai keramaian suatu pertemuan.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kompak berdiam diri usai mama berkomentar dan aku menegaskan menanggapi, suara opa Rudi ayah Evita akhirnya terdengar memecah kebisuan.
"Kau dengar itu, Evita?"
Barulah di saat opa Rudi bertanya seperti itu, jantungku terasakan berdetakkan 2x lebih cepat. Suara opa Rudi dan kata-kata terucapkan bernada beratnya justru membuat suasana makin tak mengenakkan. Kira-kira mungkin seperti itulah yang sebenarnya.
Andai Evita berkata sesuatu berintikan kata penolakan to the point, maka selesai, aku tak akan mau beralih membahas ke adiknya Safira.
Diskusi harus selesai dengan sendirinya dan aku sendiri yang akan bersuara menyatakan itu. Pertemuan bubar, rencana perjodohan turun-ranjang wajib disudahi, dilupakan.
Karena toh aku masih punya hak menentukan apa yang kumau. Semisal mengakhiri pembicaraan bertema ini dengan cukup sampai disini saja.
Tapi bila sebaliknya Evita secara mengejutkan menerimaku...maka bisa jadi aku akan mengakhiri diskusi dengan...mungkin terjatuh pingsan?
Suara opa Rudi padanya tak lantas mujarab karena Evita masih saja memilih berdiam.
Oma Laras sang ibu memandang perlu turun tangan juga dengan memanggil namanya.
"Evita,"
Dan sejak dimulainya diskusi berisikan kata demi kata pembuka dari para orangtua kami, gadis itu kucuri-curi lihat lebih memilih hanya duduk menunduk-nunduk saja diantara tangan bersidekap dan sebelah kaki berpangku santai, sesekali menarik keluar satu tangan dari sidekapan, melihat pada layar HP dipegangan tangan itu.
Santai dan nyaris terkesan acuh tak acuh diantara aliran pembicaraan pada sekitarnya...
Dan itu di sedetik lalu.
Sedetik lain kemudian, di detik ini, begitu fokus pembicaraan sudah beralih total sepenuhnya pada dirinya, Evita kini memperlihatkan sikap dan reaksi berkebalikan.
Pasang sikap dan ekspresi dingin, sedingin suaranya yang pada akhirnya ia perdengarkan ke tengah ruangan, "Kenapa aku?"
Menciptakan keheningan lagi.
Ketegangan dalam keheningan.
__ADS_1
Pertanyaan atau pernyataan tanpa basa basi, membuat yang mendengar tak ayal terdiam membisu. Dan aku, fiuuh...diam-diam kuhembuskan nafas tertahan.
Evita mengulang nada datarnya, "Kenapa malah jadinya...ke aku?"
Pertanyaan yang terasakan lebih ditujukan padaku...
Ya tentu saja, memangnya siapa lagi yang sedang berkepentingan dengannya?
"Hari..." Suara mama terdengar bak ketukan palu di akhir putusan vonis dalam ruang sidang, "...kau jawablah pertanyaan Evita itu."
Belum sempat aku membuka mulut mendadak terdengar suara riang di tengah suasana mencekam ini. Suara riang berasal dari ambang pintu ruang depan.
"Hallo semua, slamat sore menjelang malam. Maaf terlambat hadir karena tadi ada pekerjaan yang tak bisa kutinggalkan. Jadi bagaimana kesimpulan akhirnya? Hasil diskusi dari pertemuan ini maksudnya, bang Hari, bagaimana? Apa bang Hari dengan adikku Safira jadi menikah?"
Lidia muncul dengan gaya ramai seperti biasanya ia. Hanya membuat suasana di ruang tamu menjadi semakin kaku dan hadirin lebih memilih tak menyahutinya.
###############
Namanya Evita Purnama Sari. 29 sedikit lagi menjelang 30 tahun. Seorang Pegawai Negeri Sipil alias ASN, dipekerjakan di sebuah Instansi Pemerintahan Daerah.
Sarjana Hukum. Menolak menjadi pengacara mengikuti jejak kakak pertama karena saat berusia 21 tahun dan masih sedang kuliah secara iseng mengikuti tes CPNS, ia berhasil lulus pada semua test. Lalu memutuskan menetap di pekerjaan sebagai ASN tersebut hingga sekarang.
Masih menyempatkan diri menyelesaikan kuliah dan meraih gelar SH-nya.
Pertama kali bertemu dan mengenalnya saat ia masih berseragam putih abu-abu,17 tahun, dan aku untuk kali pertama pula datang berkunjung kerumahnya, 1 minggu setelah jadian dan berpacaran dengan sang kakak tertua, Ranti.
Mengunjungi rumah mereka 12 tahun lalu untuk merayakan kelulusan Ranti yang telah berhasil meraih gelar SH-nya padahal kami baru saja 1 minggu resmi berpacaran, Ranti tak segan mengundangku datang ke sana.
Selama hampir 3 tahun masa berpacaran dengan kakaknya dengan sesekali datang berkunjung ke rumah mereka, bisa kukatakan pada masa-masa itu hanya Evita lah dari ke 4 gadis bersaudari ini yang paling jarang bisa kutemui di sana baik secara sengaja maupun tak sengaja.
Dikenal memiliki segudang kesibukan terlebih menjelang Ujian Akhir di SMA-nya, jika aku sedang datang ke sana, akan mudah bagiku disambut pada kedatanganku oleh Ranti sendiri maupun Lidia atau Safira namun bisa dikatakan dari setiap 10 kali kunjungan, mungkin hanya 1 kali saja diselama itu aku berkesempatan bertemu Evita.
Itupun hanya sebentar saja, tak lebih lama dari beberapa menit. Karena selebihnya ia akan menghilang berlama-lama ke dalam kamarnya, atau pergi keluar untuk keperluan apapun aktivitas-aktivitas gadis itu di luar sana.
__ADS_1
Aktivitas positif tentunya. Karena kalau bukan, bukan suatu kegiatan yang jelas, sudah barang tentu orangtua gadis itu tidak akan pernah memberi ijin untuknya berlama-lama di luar sana.
Itu yang menjadi kesimpulanku selama 3 tahun berpacaran dengan Ranti, dengan sesekali waktu datang mengapel ke rumah mereka.