
&&&&&-&&&&&
Tidak bertindak gegabah Irfan hanya membiarkan Safira berlalu begitu saja, kuantar masuk ke dalam sebuah taksi terparkir depan kantor.
Pria sahabatku ini lebih suka menarik tanganku lalu menginterogasi,
"Itu Safira kan? Ada apa? Kau dan dia..."
"Bukan dengannya. Tapi Evita, Fan."
"Hwhat?!"
"Evita dan aku. Aku dengan Evita."
"Kau? Kau menerima perjodohan dari keluargamu itu? Seriuus? Tapi kenapa? Kau kan tidak suka dijodohkan, apalagi dengan adik iparmu sendiri. Dan kau sekarang malah menerimanya? Iparmu yang bernama Evita itu? Kau benar-benar mempertimbangkan gadis itu?"
"Ya. Correct."
"Tapi kenapa, Har? Setelah sebelumnya kau bilang rencana itu bikin kau pusing 7 keliling--"
"Aku sendiri masih belum yakin kenapa. Yah mungkin karena..."
"...karena kau menyukai Evita."
"Ha?"
"Sudah sejak lama kau memendam perasaan suka padanya. Diam-diam menyukainya, naksir. Itu yang terbaca olehku dari caramu tempo hari membahas tentang dia."
"Hahaha...
Oke, Fan. Tapi jangan disebut sejak lama. Aku baruu saja merasakan suka padanya di-ac..."
"Bukan. Bukan baru saja di acara itu. Kau sudah lama suka pada gadis itu. Hanya saja kau belum dipertemukan momen yang tepat untukmu akhirnya menyadari sepenuhnya apa yang kau rasakan."
"Ah, masa... Aku dengan Evita sangat jarang bertemu--"
"Jarang atau rutin bertemu bukan suatu penghalang perasaanmu tersimpan bagi seseorang, Har. 1x kita bertemu seseorang pun kalau kita langsung merasa suka, ya suka. Kalau kau pernah mendengar istilah jatuh cinta pada pandang pertama itu.
Apalagi si Evita bukan baru 1x saja kau pernah bertemu. Sudah 12 tahun kau mengenalnya tak peduli kalian jarang atau sering berkesempatan ketemuan."
__ADS_1
"Astaga, Faan..."
"Atau pendapatku ini keliru? Penilaianku terlalu berlebihan?"
"Hmm... Mungkin tidak."
"Jadi apa kau akan menikahinya?"
###############
Oma Laras sudah. Safira sudah. Bahkan Irfan pun sudah. Terakhir Lidia kemarin sore. Mereka ber 4 menemui dan menelpon aku membahas Evita. Tapi gadis itu sendiri di hari ke 10 ini, belum juga ada kabar berita darinya...
Masih harus memikirkan dan mempertimbangkan lebih lama lagi, Evita Purnama Sari? Kira-kira sampai kapan, aku boleh tau?
Aku rasa aku sudah mencapai titik terpuncak di yang namanya kesabaran.
Meskipun aku ini seorang pengacara profesional yang mana jenis pekerjaanku ini membutuhkan skill kesabaran super ekstra, yang sebesar-besarnya seluas-luasnya, akan tetapi dalam menunggu jawaban sebagai kepastian dari gadis itu...aku menyerah.
Sudah tidak sanggup menunggu lebih lama lagi mengetahui jawaban itu darinya.
Maka kuputuskan di hari ini juga aku akan 'menagih' jawaban itu, langsung menemui gadis itu ke tempat ia bekerja seusai jam kerja kami berdua. Tanpa janjian terlebih dulu, tanpa pemberitauan apapun pada siapapun.
Sore pukul 5.10 menit setelah sabar menunggu namun tak pelak gelisah sekaligus sedikit berdebar-debar...akhirnya bisa kulihat juga gadis itu berjalan keluar dari kantor Instansi tempat ia bertugas. Berjalan mengayun langkah ringan menuju tempat parkir kendaraan di sebelah bangunan gedung utama kantor...
Meneguk air ludah di tenggorokan nyaris tercekat aku fokus memperhatikan kearah gadis itu dari tempatku berdiri ini, di pos sekuriti pintu gerbang utama, karena kupikir dengan berdiri tegak di dekat seorang mas muda sekuriti penjaga pos ini tak mungkin Evita tidak melihat ke keberadaanku.
Masih lengkap dalam penampilan sehari-hari bekerja ; di hari ini berupa setelan jas Single Breasted Suit sewarna biru dongker dilengkapi dasi biru tua dan kemeja putih dibaliknya, plus sepatu hitam licin mengkilat dan kacamata minus model frame KISEKI kehitaman berbahan polycarbonate, aku cukup menyadari kekontrasan tampilanku dengan suasana tampilan pegawai kantor Instansi ini.
Pria ber-jas di antara pegawai Instansi berpulangan berseragam coklat sedang?
Enggan membuang-buang waktu menghiraukan hal ini, hanya keberadaan Evita di kejauhan sana saja lah yang lebih kuperdulikan.
Gadis itu sudah berada di atas motor matic-nya... Motor matic beserta si pengendara berjaket kulit ketat hitam dan berhelm Retro Butterfly hitam-pink, mulai menggelincir meninggalkan area parkiran mengarah ke pintu gerbang.
Penampilannya yang benar-benar cantik mempesona...
Benarkah aku sudah sejak lama diam-diam menyukai Evita?
Bahkan sarung tangan berjenis bahan kulit hitam itu, semakin membuat penampilan gadis itu terlihat menarik, trendi dan penuh gaya meski sedang berseragam Instansi di balik jaket kulit hitam.
__ADS_1
Sarung tangan kulit yang hanya membungkus setengah saja lubang bagian jarinya. Umum dikenakan kaum pengendara motor pria, di kedua telapak tangan gadis itu, sarung tangan pembungkus itu terlihat seolah terciptakan khusus untuk seorang wanita bernama Evita saja.
Perhatianku masih ke arah sarung pada tangan menghandle stang itu saat motor Evita sudah benar-benar mencapai depan pos lalu berhenti persis menyamping di hadapan berdiriku ; yang empunya tak dapat menutupi keterkejutan begitu 'ngeh melihatku, lantas ia memutar kunci kontak mematikan mesin motor.
Ini kali pertama bagiku berada di tempat ini...dan juga pertama kalinya aku diberi pemandangan menarik semacam saat ini di depan mata.
Mas muda sekuriti bergantian melihat ke arah kami berdua untuk kemudian maju menuruni satu undakan pos menyapa dan berbicara pada Evita.
"Slamat sore, bu Evita. Ini ada tamu yang datang mencari bu Evita. Sudah hampir 15 menit menunggu di sini. Apa ibu mengenal bapak ini?"
Evita melepas helm dari kepala, tanpa lepas perhatian dariku dan aku juga sedemikian padanya.
"Iya. Kenal. Makasih, mas Trio."
"Sama-sama, bu. Silahkan..."
&&&&&-&&&&&
Apakah ini kali pertamaku juga duduk berduaan berhadapan satu meja dalam restaurant K*C ditemani hidangan burger+cola, dengan seorang gadis bernama Evita yang bahkan sudah 12 tahun terakhir ini kukenal, dan masuk ke dalam kehidupanku sebagai salah seorang dari 4 adik iparku?
Nampaknya memang begitu.
Ini kali pertama bagiku dan dia bertemu dalam situasi seperti ini. Hendak mencoba bicara 4 mata setelah ia dengan sedikit berkesan berkeberatan, akhirnya menyetujui untuk bertemu dan bicara denganku di dalam resto KFC yang kupilih ini. Karena kebetulan resto ini berada tepat di seberang gedung kantor tempat kerjanya.
Situasi dalam resto KFC tidak begitu ramai karena belum waktunya jam makan malam.
Meja kami berada cukup jauh dari pintu masuk atau konter wastafel, memungkinkan kami merasa nyaman duduk berhadapan walau sesungguhnya tidak sepenuhnya benar-benar nyaman. Mengingat aku dan Evita berada di tempat ini untuk membahas perihal keputusan Evita, akankah ia mau menerimaku atau tidak sebagai calon jodohnya...calon suaminya.
Yah, begitulah faktanya.
Evita mencubit sepotong kecil roti burgernya lalu perlahan memasukkan potongan roti itu ke dalam mulut, mengunyah sama perlahan di bawah tatapan mataku yang lurus dan fokus hanya melihat pada wajahnya, matanya.
Aku sedang membandingkan rupa mata gadis di hadapanku ini dengan mata gadis lain yang sedarah dengannya, namun ternyata ada banyak perbedaan di kedua rupa mata keduanya, gadis ini serta sang adik Safira.
Mata Evita sama bagus, namun yang bikin beda adalah fitur luar tampilan si mata. Milik Evita berkelopak gemuk seperti sepasang mata seorang yang baru habis menangis. Nyaris macam sembab, namun sembab yang dimiliki gadis ini bukan dari habis menangis lama. Sembab ciri khas bagian matanya.
Kalau bagian Safira memancarkan sirat kekanakan, gadis di hadapanku ini memiliki kesan tajam dan kuat.
Mata itu beralih malas-malasan dari tengah ruangan kepadaku begitu aku bersuara bertanya basa-basi.
__ADS_1
"Apa motormu yang tadi itu yang baru saja masuk bengkel?"