
Banyak kegiatan yang telah terjadi kemarin malam itu, kuputar ulang saat sedang ada waktu senggang memikirkannya. Dalam lamunan sepanjang waktu bekerja di hari Jumat ini.
Untuk menarik sebuah kesimpulan lebih akurat lagi, yang tentunya kupelajari dan kusimpulkan diluar sepengetahuan Evita.
Jiwa seorang pengacara, mana mungkin aku tidak melakukan analisis, mendefinisikan, dan mencari penjelasan?
Dan kesimpulannya, dengan sendirinya semakin terjelaskan gadis itu tidak termasuk kedalam definisi fobia nomor 2. Melainkan didefinisi nomor 1. Karena diluar dugaanku, Evita ternyata bersedia dan sanggup ambil bagian mengimbangi begitu aku sudah meningkatkan aksi bermesraan ke level lebih serius lagi. Ia terus meresponku. Terang-terangan memperlihatkan kesan tak berkeberatan.
Karena sedemikian merespon dan tak berkeberatannya ia, bisa kubayangkan, mungkin kami bisa berakhir berbuat lebih jauh lagi kalau saja aku tak segera ingat situasi...
"Ini terlalu beresiko, Evita." Kurenggangkan tubuh kami berdua, "Bisa saja ada orang yang iseng memvideokan kita, walau sebenarnya banyak juga dari mereka melakukan seperti ini disini. Jadi, kita sudahi dulu?"
Paham dengan apa yang kumaksud, Evita menganggukkan kepala. Hanya menganggukkan kepala. Tanpa bicara. Sejak memulai pun ia tak banyak bicara. Seolah memprinsipkan diri bila sekali saja ia memperdengarkan suara, itu bisa membuyarkan suasana.
Sangat lugu dan polos. Manis.
Yang terkesan lebih manis lagi, tangannya sendiri yang meraih kacamata dan memposisikan kembali benda itu kewajahku. Sambil menghindari tatapanku padanya saat kedua tangannya menegaskan sekali lagi letak benda itu sesudah bertengger dipangkal hidungku.
Bingung mau menertawai atau haru atau tak usah saja bereaksi, alih-alih melakukan itu, aku menatapi kearah bibir Evita.
Bibir gadis dihadapanku ini nampak memerah membengkak disana sini. Efek dari permainan cintaku yang kelaparan disana, selama belasan atau mungkin hingga puluhan menit aku melakukannya.
Juga rona berselubung gairah terpendam yang masih membias diwajah, aku yakin saat usai percintaan kami yang sesungguhnya, ia akan tampak lebih memikat lagi dari penampakan dirinya seperti yang sedang terlihat saat ini.
Baiklah, sedikit lagi kemesraan penutup, sebelum nanti benar-benar menyudahi.
Kecupan lembut kusesapkan di satu-persatu kedua kelopak mata Evita, sembari satu tanganku mengulur kebelakang guna merapatkan kembali tubuhnya pada dadaku. Ia lebih memilih meresapi tiap sentuhanku dalam kediam-diamannya, yang justru sebenar-benarnya mampu membangkitkan hasratku.
Oh ya ampun, tidak mungkin juga bisa mengabaikan begitu saja undangan dari bibir Evita yang kemudian merekah seolah tanpa disadarinya.
Aku memberi perhatian kesitu. Untuk kesekian kali walau tak semakin yakin ini untuk terakhir kali, kukatup permukaan bibir gadis ini dengan bibirku sendiri sambil tangan kiriku melepas lagi kacamata. Kembali kami berciuman panjang, lama, dengan penuh perasaan. Memperlihatkan Evita lagi-lagi bertekuk lutut menerima kehadiran setiap perlakukan romantisku.
&&&&&-&&&&&
__ADS_1
Jangan harap seperti wanita-wanita lain usai bermesraan dengan sang kekasih maka akan dilanjutkan ke acara bermanja-manja, Evita tidak.
Ia hanya kembali ke posisi semula, memeluk lutut itu. Kukuh dengan bentuk sikap tak macam-macam. Rapi dan terkesan membuat dirinya bagai tak pernah terkendalikan. Olehku atau apapun, termasuk oleh gairah itu.
Namun kali ini ia melihat padaku, ia memandangiku secara lebih mendalam dibanding sebelumnya.
Dengan kepala bersandar di puncak lutut tertekuk dan sedikit dimiringkan melihatiku, ia membiarkan saja aku mengingsut untuk duduk lebih mendekat, menempel kesebelahnya. Menyengajakan diri kutempelkan serapat mungkin sisi kiri tubuhku ke sisi kanan tubuhnya.
Rasanya indah dan mesra sekali. Aku benar-benar sedang dimabuk asmara terhadap seorang Evita. Bagai sedang mengalami puber kedua.
Kutawarkan minuman kaleng soda yang sedang kuminum kehadapan gadis ini.
Ia menggeleng. Lalu,
"Aku tak jadi mundur..." Ia membisik bagai menggumam. Aku menoleh dari permukaan kaleng cola ditangan ke wajahnya. Kedua mata kami saling bersitatap penuh arti keseribu kali dalam 5 menit ini.
Aku sangat mengerti apa maksud Evita. Kuulaskan senyum kecil,
"Kapanpun."
###############
Sabtu hari penentuan tanggal pernikahan, di kediaman opa Rudi dan oma Laras...
Jumat malam semalam, Mama dan papa telah lebih dulu berangkat untuk menginap disana, sepulang aku bekerja dan kuterima kembali anak-anak dari beliau berdua.
Suster Lina malam itu lembur dan menginap dirumahku supaya besok pagi-pagi sekali bisa segera mempersiapkan anak-anak dan barang-barang walau barang bawaan sebenarnya sudah mama siapkan sejak siang.
Pukul 10.15 Honda putih C*-Z-ku tiba dihalaman rumah Evita. Masih seperti biasa Safira lebih dulu datang menyambut disusul kemunculan kedua orangtuanya dan mama.
Anak-anak langsung dibawa Safira kekamarnya berikut mainan satu toko mereka dan barang-barang lain yang dibawakan oleh para kakek-nenek.
Evita tak terlihat, tak berminat menyambut kedatanganku walau Kamis malam yang lalu ia begitu berat hati kembali kerumahnya ini, melepas keberlaluanku bersama si Honda dengan mengikutiku sudah pada balik gerbang lalu kembali ke pinggir jalanan.
__ADS_1
Cintaku bersambut. Ia mengirimiku sebuah pesan teks singkat nan kyut 3 menit usai kendaraanku menjauh dari rumahnya. 'Love you, too.'
Ahh...sempurna sudah.
Tapi hari ini, di pagi menjelang siang ini, aku tak kebagian sambutan apa-apa. Masuk kedalam rumahnya tanpa kawalan pribadi seperti yang didapat anak-anak tadi.
Dimana bidadariku ini bersembunyi?
Desir halus dalam dada mendadak tercipta. Akhirnya kulihat juga Evita, sedang berada disana...di dapur?
Aku tidak yakin dia menyukai dapur. Dia bersama Lidia dan bik Isah duduk-duduk kompak mengelilingi meja makan lebih kecil yang terdapat di dapur. Sedang mengadon sesuatu.
Sepertinya sedang membuat panganan keik. Terigu, mentega, kaleng gula putih, telur utuh serta tumpukan kulit telur dan lain-lainnya bahan masakan memenuhi atas meja. Seperti itulah yang tertangkap pandanganku saat berjalan memasuki dapur itu.
Gadis besarku sudah nampak rapi dalam stelan pakaian rumah sederhana, melihat sekilas saja padaku.
Sistem pengendalian dirinya sedang ON rupanya.
"Mau ikutan bantuin, bang Hari?" Tanya Lidia menyenyumi penuh arti Evita dihadapan duduknya. Evita hanya pura-pura bersikap kalem tanpa suara.
"Cukup bantu makan saja." Sahutku santai, iseng menghampiri kebelakang kursi yang diduduki bidadariku. Lihat reaksinya, berlagak tetap mengkalemkan diri. Padahal aku bisa merasakan ada air terjun bergemuruh segera merambahi dalam dadanya begitu kusengajakan meletakkan depan tubuhku menempel pada belakang sandaran kursinya. Sehingga sedikit saja ia menggerakkan posisi punggung yang lekat pada sandaran, ia akan langsung bersentuhan denganku.
Bukannya Lidia tak paham. Lidia senyum-senyum dikulum memaknai pemosisianku ini.
Gadis besarku terus saja diam tak mau bergerak. Tak ingin menyentuhku. Tak ingin menyapaku apalagi berbasa-basi mengajak bicara. Ya sudah, aku kembali ke ruang tamu saja...
Setengah jalan mencapai ambang pemisah ruang makan dengan ruang tamu, bermaksud memergoki Evita kalau-kalau ia melihat pada keberlaluanku, aku membalikkan badan kembali menghadap mereka penghuni dapur. Malah bersirobok pandang dengan...oma Laras.
Bu Laras yang juga memiliki tubuh hampir setinggi putrinya Evita, sudah berdiri dihadapanku.
Safira, Evita dan ibu mereka memiliki tinggi tubuh sama. Sementara ayah mereka lebih tinggi sedikit lagi dan mendiang, Lidia serta Al memiliki tinggi sedikit dibawah mereka berempat.
Ada gurat prihatin terlukis diraut wajah bu Laras dalam memandang dalam-dalam padaku. Membuatku hanya dapat balas memandang tanpa tau harus berkata apa. Sampai oma kemudian diam-diam memberi isyarat kecil, aku paham, lantas mengikuti langkah beliau yang mulai berjalan menuju pintu kebelakang. Sepertinya mengarah ke kebun pribadi beliau. Mau bicara denganku disana, tersembunyi dari jangkauan perhatian orang-orang lain disekitar kami.
__ADS_1