MENIKAH TURUN RANJANG?

MENIKAH TURUN RANJANG?
39. Mencoba Memulai Percakapan


__ADS_3

Disuatu pagi cerah pukul 7, diantara kecemasan memikirkan kondisi Rian, sekaligus kekuatiran membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa kudapat sebagai keputusan akhir dari Evita...


Sekadar tertangkap lewat sudut mataku pun aku bisa melihat sikap diri istriku ini saat ini sama antengnya dengan sosok Monalisa dalam lukisan klasik terkenal itu. Duduk kalem dan tenang memeluk tas tangan kecil didepan perutnya, memusatkan perhatian hanya pada jalanan didepan sana, tak mau terpengaruh sedikitpun akan perhatian atau curi-curi lihatku kearahnya.


Sudah tak berbias kemarahan, itu yang terlihat diraut wajah cantik Evita sejak 1 jam lalu, sewaktu tanpa bersuara sepatah katapun ia menyusulku masuk kedalam mobil lalu duduk rapi setelah memasang seat-beltnya.


Syukurlah. Juga tidak masam, tidak dingin, tidak acuh tak acuh, tidak membuat jarak berarti selain hanya menampilkan mogok bicara itu saja.


Jadi ya sudahlah, tidak apa-apa.


Begitu sudah duduk bersebelahan, sekalian saja kuteruskan penerapan 'dilarang keras saling berbicara selagi mengemudi'-nya itu.


Maka mulailah kami berkendara dalam suasana saling mendiamkan. Kalaupun berbicara hanya boleh tentang Rian saja, oke ya sudah, tentang Rian saja.


Rian sebagai salah satu anak kembarku sudah sejak lahir terdiagnosa memiliki imun dan paru-paru lemah. Entah sudah berapa banyak waktu kami membawanya pergi berobat sejak saat itu. Untunglah disetiap kali jatuh sakit, ia selalu sanggup bertahan mengatasi dan melewati sakitnya dengan baik.


Sangat mendewasa dan mandiri. Jarang sekali cengeng atau rewel. Sangat berpengertian seolah memahami dirinya harus sedemikian, mengingat tidak ada seorang ibu yang bisa ia harapkan untuk mencurahkan perhatian padanya, disaat ia sedang jatuh sakit atau saat ia sedang ingin merajuk bermanja.


Safira itulah...salah satu adik iparku yang selama ini paling dekat dengan Rian, seolah stand-bye menyediakan diri dengan berusaha keras mengisi kekosongan dihati Rian akan keabsenan kehadiran seorang ibu kandung.


Lewat perhatian dan kasih sayang keibuan yang senantiasa Safira curahkan bagi anak-anakku, terutama terhadap Rian.


Oh ya, berbicara tentang adik-adik iparku...Lidia jelas telah naik tahta menjadi kakak iparku. Adik dibawahnya naik ranjang menjadi istriku, dan adik dibawah mereka berdua sebentar lagi akan menyusul naik pelaminan.


Semakin hari Safira dan Irfan semakin intens membahas kearah pernikahan. Sepakat tak mau berlama-lama berpacaran, kemungkinan diawal tahun depan mereka sudah akan menggelar acara pernikahan.


Aku tak perlu heran menanggapi makin dekatnya hubungan mereka berdua karena toh, memang mereka telah saling menemukan tambatan hati sesuai kriteria yang diinginkan masing-masing.


Ditambah, Irfan adalah figur seorang pria ngemong dan penuh kedewasaan, Safira yang imut memanja sungguh sangat cocok dipersandingkan dengannya. Dan dariku sendiri, memang sudah dari awal aku mendukung hubungan mereka berdua, tak ragu sedikitpun dalam menebak suatu saat nanti Irfan pasti akan naik pangkat juga menjadi calon adik iparku.


Semoga saja kelak mereka berdua bisa benar-benar jadi menikah...


Sementara pernikahanku sendiri yang baru berjalan 11 hari ini? Yeah, masih di level 0,01% di pencapaian kestabilitasan.


Saat ini saja pernikahanku sedang memasuki fase pertama masa ujiannya, dengan Evita yang terus saja mendiamkanku, belum juga terkesan berniat melumerkan perasaannya.


Membuatku mau tak mau mengikuti dulu apa maunya ini, sambil menanti perkembangan kearah mana selanjutnya kediam-diaman kami akan berakhir.


Pagi ini dalam balutan pakaian kasual, istriku dibaliknya terlihat baik-baik saja. Terlihat cukup nyaman berhias riasan tipis diwajah, berbaju atasan t-shirt putih dipadu celana jins biru tua...nyaman, kalau ingat semalam ia jelas-jelas telah begitu menguras energi dalam membalas cintaku.


Ya ia lebih suka menampilkan diri dengan terlihat baik-baik saja disepanjang dimulainya perjalanan ini. Hanya lebih memusatkan perhatian kedepan sana walau menyadari betul sesekali lirikan mataku atau tolehan kepalaku yang sekilas-sekilas itu tertuju pada dirinya.


Memasuki menit ke 20 perjalanan yang masih dalam kevakuman, sudah barang tentu aku mulai dihampiri rasa bosan itu. Lama kelamaan jadi menjemukan juga saling diam-diaman seperti ini, tanpa sepotong katapun terlontar dari salah satu kami menyelingi.


Jadi baiklah, biar aku saja yang mencoba memulai percakapan.


Tapi tunggu, coba kupikir sebentar, tema apa sebaiknya yang cocok untuk dicetuskan sebagai pembuka percakapan? Kalimatku sewaktu dirumah itu saja, yang sempat diinterupsikan Evita?


'tentang yang terjadi ini, tolong tetap kau rahasiakan didepan mereka...'


Hmm...ya ini saja, walaupun intinya tetap saja menyerempet pada tema itu.

__ADS_1


'Evita...tentang yang terjadi ini diantara kita, bisakah...ngg, maksudku tolong tetap kau rahasiakan dulu ini didepan mereka setelah kita bertemu mereka nanti. Kau bisa?'


"Ehm...Evita..." Akibat dorongan perasaan bersalah, aku jadi sepelik ini menghadapi istri sendiri, "Sebenarnyaa...aku lebih menyukai menyetir sambil sesekali kita mengobrol..."


Ouch, malah tema ini yang keluar dari mulutku.


Lama Evita baru memberi respon. Ia mau memberi respon. Syukurlah. Walau tanggapannya masih terkesan datar, berdecak singkat lebih dulu sebelum memberi sahutan, "Terserah bang Hari."


"Kenapa sih kau tak suka aku mengemudi sambil mengobrol?" Tanyaku sambil menoleh sekilas pada Evita tanpa lalai melihat jalan yang akan kulalui diantara tangan kanan mengontrol stir kemudi. Tangan kiri selektif menghandle tuas gigi, berikut masing-masing kedua kaki mantap pada pedal gas dan pedal rem.


"Peraturannya 'kan memang sudah seperti itu. Tidak dibolehkan mengobrol dengan orang yang sedang menyetir. Mengundang bahaya. Bisa mengganggu fokus si pengemudi."


Jelas sudah, Evita bukan terhadapku saja menerapkan pengaturan dilarang mengemudi sambil mengobrol itu.


Dan...heyy, perhatikan, istriku sudah berminat memecah kebisuan. Good. Permulaan yang baik.


"Itu betul juga," Manggut-manggutku, "Tapi aku ingin dikecualikan. Sudah punya pengalaman 22 tahun mengemudikan mobil, kurasa aku sudah cukup baik menempatkan fokus biarpun sedang menyetir seperti ini sambil berbicara denganmu... Aku ingin kita berdua sesekali berbicara disela aku mengemudi begini, Evita. Karena aku suka mendengar bicaramu, suaramu, diantara kebisingan dan kemacetan ini..."


Evita menoleh sekilas padaku, "Ya sudah begitu saja."


"Ya sudah begitu saja? Maksudmu mulai dari sekarang kalau kita berdua sedang bermobil, kita akan sambil berbincang?"


"Hmh."


"Okey. Di copy."


"Ada lagi?"


"Ada lagi?"


"Evitaa..."


"Tak apa. Ngomong saja. Sedari tadi abang bersikap seperti itu. Kepingin ngomong sesuatu tapi ditahan-tahan terus. Seperti itu kan sebenarnya? Ya sudah ngomong saja, apa lagi yang mau bang Hari katakan."


Waduh...


"Aku bukannya menahan-nahan. Memang aku sedang belum kepingin bicara apapun."


"Bohong."


Iya aku bohong.


"Serius."


"Bohong banget."


"Ya sudah kalau tak percaya."


"Ya sudah kalau tak mau ngomong."


"Bagaimana kalauu...kau saja yang mengatakan sesuatu?"

__ADS_1


"Tidak ada yang mau kukatakan."


"Yakin?"


"Memangnya abang mau mendengar apa dariku?"


"Kau tau betul apa yang ingin kudengar darimu."


"Tidak tau."


"Kalau begitu, cobalah katakan sesuatu. Apa saja. Apapun. Karena memang aku 'kan kepingin kita sambil mengobrol."


"Misalnya apa?"


"Kau cuma mencuweki banyak kata-kata dan pertanyaanku sejak kita dirumah. Ingat?"


"Ohh...lalu?"


"Lalu?? Ya sudahlah, lupakan saja --"


Aku tau, bisa merasakan, Evita tersenyum tanpa harus kupastikan melihatnya. Senyum dikulum. Sebelum ia menolehkan kepala keluar kaca jendela disebelahnya.


Sifat atau karakter seorang Evita, sangaaaat pandai menjaga perasaannya tetap tersembunyi.


Tapi sekali waktu ia mengungkapkan perasaan, bantal dan guling pun berterbangan.


"Jangan melihati aku terus seperti itu...bisa berbahaya."


"Habisnya kau..."


"Iyaaa...ya aku baik-baik saja. Yaa aku mau kita berdua membicarakannya tapi nanti saja. Ya oke, aku akan tetap merahasiakannya didepan mereka nanti bahkan sampai kapanpun juga... Dann yaa, aku memaafkan...bang Hari."


Aaaahh...akhirnyaa...hehehe...


Sejuk terdengar ditelinga. Bagai sedang tersirami satu baskom air es dikepala...


Senyum simpulku perlahan merekah sempurna.


Bikin aku mendadak kepingin saja menghentikan kendaraan ketepi jalan lalu merebahkan istriku ini disepanjang kursi jok mobil, tentunya pada kursi belakang, lalu kembali bercinta dengannya hingga ia mengulang lagi mengeluarkan rintihan dan des*han memanja itu. Sewaktu aku memulai melakukan desakan demi desakan tajam pada dirinya itu...


Heyyy... Fokuuus, Hari Pratama. Kembali pada setirmu.


"Tapi bukan berarti aku membolehkan bang Hari meniduri aku lagi, tidak, aku tidak mau itu lagi."


"?????"


Senyum lebarku seketika padam.


Bayangan mengulang kenangan indah ayunan panjang dan dalamku didalam Evita, yang membawanya kepuncak lalu mengalami pelepasan, hingga berakhir dengan ia terkulai lemas... juga seketika ini ikut terpadamkan.


###############

__ADS_1


__ADS_2