
Aku hanya bisa manggut-manggut kebodohan, mencoba membalas sunggingan senyum Evita tapi berakhir dengan aku mengernyitkan wajah.
Menyervis sebuah kandang ayam?
Yeah, baiklah. Sepertinya memang tidak salah menyebut gadis ini lain sendiri beda sendiri.
Raut wajah saat tadi menceritakan si Pendekar Perkasa, memancarkan kesuka-citaan perasaannya dalam memberitau itu. Ada kebanggaan tersendiri terpancar disana dan Evita tak sedikitpun karenanya merasa malu padaku.
Gadis inilah yang tak lama lagi akan menjadi istri baruku, God, kejutan apa lagi yang akan dipersembahkan olehnya kehadapanku?
Ia mendadak terlihat kebingungan meraba-raba permukaan meja...
"Apa yang kau cari?" Tanyaku malah tanpa sadar ikut mencari-cari.
"Karet rambutkuu. Tadi kutaruh dibawah HP ini. Sudah tidak ada."
"Sejak tadi kau tidak menguncir rambutmu, Evita."
"Iya. Memang. Tapi karet itu sengaja kubawa dari hotel. Mau kupakai kalau-kalau angin diluar sini kencang. Karetnya warna hitam. Tipis. Halus. Bagus."
Gadis ini terus mencari celingukan. Mengedar pandang kesana kemari.
Jelas sulit kelihatan kalau memang begitu bentuk karetnya. Evita terakhir membungkuk kearah berlawanan dariku, mencari-cari ditanah sekitar bawah kakinya.
Bagaimana aku yang berkacamata minus begini bisa membantu mencari kalau gadis yang bermata masih normal ini saja tidak dapat menemukan?
"Angin sedang tidak kencang, Evita. Rambutmu tak perlu dikuncir. Nanti kita beli saja kunciran rambut baru."
Maksudku ikut mencondong diatas punggungnya hanya untuk menarik bahu kanannya supaya tegak lagi.
Ia sekonyong-konyong menegakkan tubuh dan justru langsung saja berdiri hingga tak ayal lengan kirinya menyambar kacamata dan wajahku.
Benda itu terlontar dari tempatnya untuk kemudian jatuh mendarat ketanah dibarengi seruan kaget dan ketertegunan Evita melihatnya.
Terkaget dua kali pada kecoa ditanah yang tersentuh gerakan tangan mencarinya tadi dan sentakan tubuh refleks berdirinya yang ternyata mengakibatkan kacamataku tersambar.
Aku sendiri bengong sesaat.
"Bang Hariii...kacamatanyaa..."
__ADS_1
Bangkit berdiri lalu maju membungkuk meraih si kacamata dari tanah, aku menyahuti Evita, "It's okay. Tidak knapa-knapa. Tidak rusak."
Betul tidak sedikitpun rusak. Syukurlah. Ku amati sejenak benda itu bolak-balik di pegangan tangan. Sama sekali tak menyadari gadis ini menahan tawa setengah meringis sebelum memperdengarkan suara nyata dari tawa itu.
Kutolehkan kepala melihat padanya.
"Ada yang lucu?" Aku memutar tubuh menghadap sepenuhnya padanya. Kutatap ekspresi tawa dan keseluruhan gadis itu...hatiku pun merasakan keterpukauan. Seterpukau Evita yang masih melihatiku.
Ramping semampai berbalut kaus turtleneck dan rok selutut, gadis itu dalam penglihatan 70% mataku benar-benar...secantik dan seseksi bidadari.
Tampilan ia berdiri dan tertawanya... Aku belum pernah tau seperti apa kecantikan seorang atau suatu bidadari tapi mungkin seperti gadis inilah sosok bidadari dari khayangan itu. Memancar glowing dibawah sinar matahari siang jelang sore ini. Sanggup membuatku bagai kehilangan kata-kata diantara keterpukauanku dalam melihat pada dirinya.
Sementara ia, menunjuk kearah wajahku masih dengan bias tawa diwajah, Evita cepat-cepat menurunkan tangannya.
"Sorryyy...bukan mau meledek bang Hari, tanpa kacamata itu bang Hari jadi benar-benar kelihatan banget kemiripannya. Apa Safira sudah memberitau ke abang kalau abang itu dimata kami bertiga kelihatan mirip banget dengaan..."
Tawa renyahnya berderaian lagi saat ia menggantung kalimatnya.
Tanpa perlu diperjelas pun aku tau siapa dia orangnya yang dimaksudkan gadis ini. Maka kuulaskan senyum. Senyum untuk mereka bertiga.
"Kalian bertiga?"
Mendadak saja Evita memperlihatkkan sisi kekanakan dirinya dengan nyata dan kali ini cara tertawa dan bicara kekanakan gadis itu menirukan Safira.
Bukan karena Safira yang ditirunya ini yang kemudian membuat perasaanku mencelos. Tapi karena saat ini seorang Evita sedang menyamaiku lagi-lagi dengan mister Enrique sekaligus tanpa sadar diungkapkannya cerita yang seharusnya tetap selamanya menjadi rahasia mereka bertiga kakak beradik.
Pengakuan tentang kompak bertigaan jatuh cinta berat padaku itu.
"Kalian, lebih dari menyukaiku..."
"Hoooh..." Tanpa terhindarkan Evita pun menyadari dramatis kecolongan bicaranya. Seolah skak mat-game over dihadapanku, ia tegak terpana.
Aku tertawa.
Sebelum ia benar-benar berhasil balik badan untuk kabur melarikan diri bersembunyi sesuai niat tersirat diwajahnya, kukejar dia...
################
Kembali ke hotel tempat kami menginap 2 hari 1 malam, tepat seperti perkiraan Evita si kembar memang tak mau dipisahkan dariku.
__ADS_1
"Kita ketemu di rumah, Rian..Restu. Papa ada urusan kerja sebentar yang ngga bisa bawa kalian ikut. Kalian ikut Opa Simon, okee?" Bujukku terpaksa berbohong pada keduanya didepan kamar menginap mereka bersama pengasuh dan Safira.
Rian tidak menangis, Restu yang mulai sesunggukan khas bocah 4 tahunan.
"Tapi akunya mau ikut pa' ajaa..."
Safira maju mendekat, membujuk lembut, "Rees, yuk, ikut tante sebentar. Kita beli es krim ke Cafe dibawah. Yuk. Mau?"
Rian justru yang maju mendekati Safira, "Aku mau juga, tan." Tukasnya dalam nada bicara khas bocah balita.
Alhasil Restu mau tak mau terpengaruh. Ia bolak balik melihat ragu padaku dan tante Safiranya sebelum berlabuh padaku,
"Tapi papa ikut juga kebawahnya."
Kuulaskan senyum pada bungsuku ini, "Iya. Tapi kalian duluan saja dengan tante. Habis urusan kerja papa beres, kita makan es krim bersama-sama nanti."
Dibelakang berdiriku Evita tak terkira merasakan keserba-salahan. Aku tau itu. Tadi aku sudah sempat memesankannya agar ia bersiap dan tak perlu turun tangan menangani keberatannya si kembar. Ia menuruti kata-kataku walau tetap jadi tak enak hati juga.
Sambil melempar pandang kearah Safira, kutemukan Safira dihadapanku melayangkan pandang kearah sang kakak. Evita kudengar bersuara,
"Ikut dulu saja, bang. Nanti kalau sudah tenang di Cafe, abang coba pamitan lagi pada mereka. Aku nunggu check-out di Lobby bawah."
Nampak Safira mengangguk-angguk tanda setuju.
Aku menimbang sejenak.
Sementara Rian dan Restu sudah dipegangi tangan kanan kiri tante Safira mereka, siap menuju lantai bawah.
Aku pun menyerah. Balik badan melihat Evita, gadis ini memberikan senyumnya untukku sebelum mengangguk 2x tanda ia setuju pada usulannya sendiri tadi.
Iseng kukerdipkan sebelah mata padanya, ia tertawa tanpa suara menanggapi itu. Menyapukan lambaian, isyarat supaya aku segera mengikuti Safira yang sudah mengayun langkah bersama kedua bocahku menuju lift berada.
Untunglah Yuan sangat anteng bersama oma-opa Simonnya di kamar hotel, sedang bersiap-siap disana. Sehingga aku tak perlu tambah repot mencoba memisahkan diriku dari mereka untuk rencana perjalanan pulang ini.
"Oke," balas senyumku pada Evita sebelum melambaikan tangan pamit padanya lalu mengayun langkah meninggalkannya di ambang pintu kamar hotel. Menyusul Safira dan si kembar.
30 menit lalu tak bisa kesampaian menciumnya karena situasi Taman yang terlalu ramai...sepanjang jalan kembali ke hotel terlebih lagi.
##############
__ADS_1