
Oh, Evita, ngomong-ngomong...kau sudah bersedia mengakui keberadaanku sekarang?
"Setuju." Evita memberi jawab, bersuara kalem ketengah yang hadir. Helaan nafas lega pun terdengar diantara anggukan-anggukan kepala sesudahnya.
Tersenyum pada gadis ini, aku salah seorang yang mengangguk-angguk.
Ya sudah tak apa. Walau aku sebenarnya ingin segera, kalau perlu awal bulan depan ini juga.
"Kalau begitu, kita akan cari tanggal tepatnya diantara hari-hari itu, yang tentunya bagusnya hari Sabtu atau Minggu. Nah setelah itu, menyusul kita akan bahas te*ek bengek lain seperti..."
"Maaf...tunggu sebentar, tolong ijinkan saya bicara sebentar." Mendadak Evita bersuara lagi, menginterupsi tanpa ragu semasih ayahnya bicara. Sontak mengejutkanku. Dan serentak yang lain juga.
Mengejutkanku karena setelah lama lebih banyak diam, gadis ini mendadak bersuara menyuarakan kalimat bernada serius dan terkesan mendesak seperti yang diucapkannya barusan.
Perasaanku langsung tak enak, secara otomatis diperingatkan pada 'masalah'nya itu.
"Evita," oma Laras juga sepertinya menduga hal yang sama...
Sang putri duduk diam sesaat dengan dilihati banyak pasang mata bertanya-tanya padanya, sebelum akhirnya ia pun mengucapkan kata-kata yang segera kuwaspadai, karena gadis ini sejenak mengedar pandang dulu ke sekitar sebelum berucap,
"Aku mau bicara. Ada hal yang sangat penting... Aku mau buka rahas --"
"For God sake, Evita!" Apa yang kukuatirkanlah yang membuatku refleks menarik kepala Evita dan menyurukkannya masuk kedalam dekapan sela leher dan kepalaku, menghentikan kalimat gadis ini disitu. Sebelum sempat terlambat.
"Mmphh," Ia mencoba membebaskan dekapan ketatku pada kepalanya, terpaksa menyembunyikan wajah dan suaranya.
"Evita, please. Stop. Jangan diteruskan."
Kepala yang ditelengkan seolah bersikeras agar aku membebaskannya, agar ia bisa bicara? membuatku akhirnya ambil keputusan singkat untuk mengamankan saja gadis ini.
Pandangan mata bingung dari semua yang hadir mengiringiku bergerak meraih dan memberdirikan Evita, kami berdua.
"Ayo, Evita."
"Hari, ada apa --"
"Bang --"
"Nak Hari, Evita kenapa --?"
"Har, mau kemana --?!"
"Permisi --"
Evita harus kubawa pergi, kugandeng dia pada pinggang dan kubawa keluar dari lingkaran kursi sofa. Setengah bergegas kuarahkan langkah kami keluar pintu teras samping, dengan gadis itu mau tak mau menurut dalam diam mengikuti.
&&&&&-&&&&&
__ADS_1
"Kau mau nekat, apa? Kenapa kau mau membuka rahasiamu didepan mereka??" Gusarku bagai tercekik, tak dapat mencegah itu terlontar keluar dihadapan Evita yang memandang sendu padaku.
"Tapi belum sempat kukatakan koq." Kilahnya. "Aku memang ngga mau terus merahasiakannya. Mereka sebaiknya tau juga tentang --"
"Evita-a!" Makin gemas kuhentak tangan ke udara, "Apa perlunya mereka tau tentang itu, itu rahasia pribadimu! Sepribadi apa warna pakaian dalam yang sedang kau kenakan! Demi Tuhan, masa' mereka harus tau juga kalau kau...kalau-kau..."
"Aku cuma berpikir aku tidak mau menikah dengan abang dengan menyimpan-nyimpan rahasia..."
"Iya! Tapi lihat-lihat dulu sayaaangg, apa yang mau kau ungkapkan ituu." Kucoba untuk tidak mengincar lengan atau bahu Evita untuk mengguncangnya keras-keras, menyadarkan gadis ini secepatnya.
Keras hati, gadis ini bersidekap dalam gelagat siap mengeluarkan jurus ambek.
"Setidaknya aku perlu mengatakan secara garis besarnya saja. Bahwa aku dan bang Hari --"
"Tidak ada yang perlu kau katakan, please. Kalau tentang hal itu, Evita, biarkan itu tetap menjadi rahasia kita berdua saja. Hm?"
"Aku tidak mau."
"Lalu?"
"Ahh, tidak tau."
"Aku memohonnya sekarang, please, turuti apa kataku ini. Aku sangat mencintaimu, Evita. Aku hanya tidak mau hal pribadimu ini jadi konsumsi publik. Meskipun publik itu keluargamu sendiri.
Kau pernah menawarkan janjimu padaku, Itu kumintakan padamu sekarang. Berjanjilah, kau tidak akan membocorkan rahasia ini pada siapapun juga."
Sewaktu gadis ini memintaku untuk tidak membanding-bandingkan dirinya dengan sang kakak almarhumah. Lalu aku berjanji tak akan melakukannya.
Karena gadis ini minta gantian, aku yang minta sesuatu padanya agar ia bisa menjanjikannya juga namun itu terpending, ya sudah saja kupakai itu sekarang.
Menimbang dalam keraguan, Evita lama memikirkannya. Hingga,
"Ya sudah, tidak jadi."
"Yang mana yang tidak jadi. Janjinya? Niatmu buka rahasia?"
"Ya yang tadi, mau buka rahasia itu."
"Koq cepat sekali berubah pikirannya?"
"Lah terus aku mesti gimanaa?"
Malah berdua jadi kompak terdiam.
Kalau saja kami tidak sedang berada di halaman tepatnya depan garasi...
Benar, begitu kutolehkan kepala kearah pintu masuk rumah sana, mereka satu persatu bermunculan. Dihadapan berdiriku, Evita tertunduk menyembunyikan diri dari arah pandangan mata masih kebingungan keluarga kami.
__ADS_1
"Hari, ada apa sih, Har?"
Itu suara mama. Duh, tidak lah. Tidak usah dijelaskan. Maaf, semua.
###############
Fix sudah. Akhir dari pertemuan adalah tercapainya kata sepakat dari kedua belah pihak keluarga. Acara pernikahan kami akan digelar saat telah dimulainya libur panjang anak sekolah.
Lagi-lagi kami berdua di wanti-wanti keras agar tetap jaga jarak aman dahulu sampai waktunya tiba nanti.
Fiuhh...
Siap siap siap. Itu sungguh bukan masalah besar. Yang menjadi masalah besar buatku pribadi adalah, memikirkan kembali rencana yang sudah mulai kususun dalam benak tentang Evita.
Ini memang terpikirkanku dengan begitu saja, bukan berasal dari ide siapapun.
Nah yang kemudian jadi keraguanku, apa rencana rahasiaku ini akan bisa berjalan mulus dan lancar? Akan berhasil?
Keraguan itu baru diakhir-akhir ini mulai hinggap menyerang keyakinanku. Yang sebelumnya sudah sempat sangat-sangat yakin akan tingkat keberhasilannya.
Itu sebelum aku tau Evita 'merespon' ku.
Saat ia menggeleng-geleng pada pernyataanku pada suatu pembicaraan kami tempo hari :
'...aku tak mau melakukan itu' ... 'meski denganku? apalagi denganku...?'
Ya, ada 2 arti yang bisa disimpulkan dibalik gelengan gadis itu kemudian, yang saat itu ia enggan untuk menjelaskan apa arti gelengannya
Pertama, Tetap Tidak Mau.
Kedua, Tidak Tau, karena tidak yakin dirinya nanti akan tetap tidak mau, atau berubah pikiran malah jadi mau.
Seperti itu.
Arghh... inilah jiwa seorang pengacara itu. Otaknya terus berputar. Berpikir, menganalisa, hingga jadi kebingungan sendiri. Mungkin bukan bagi seorang pengacara saja, semua orang pasti punya kans jadi kebingungan seperti yang sedang kualami ini kalau perkembangan situasinya malah melintir kemana-mana seperti ini.
Dan aku masih ingat betul tentang ketidak-terimaan Evita 'dipaksa-paksa', itu yang membikin aku harus berpikir dua kali untuk mencoba membicarakan lebih jauh tentang kedilematisan masalahnya.
Dilematis, ia menyatakan menghindari hubungan intim tapi sekaligus ia...tak menghindari percumbu-rayuan dariku.
Padahal dipikir-pikir kalau ia mudah diajak bicara terbuka, membahas si sebab-akibat, kuyakin aku mungkin bisa membawa keluhan dan dirinya itu sekaligus mengunjungi seorang dokter psikologi. Untuk berkonsultasi.
Bukan karena aku ngoyo dia harus atau harus segera disembuhkan, tapi karena aku sangat terpanggil saja untuk peduli pada masalah yang sedang ia alami.
Sekali lagi, jika jiwa seseorang seperti jiwa yang kumiliki ini, aku yakin orang itu akan kesulitan untuk sekadar tutup mata bagai tak peduli.
################
__ADS_1