MENIKAH TURUN RANJANG?

MENIKAH TURUN RANJANG?
36. Harus Malam Ini


__ADS_3

Kemudian kubaringkan kembali Evita kekasur. Masih saja menolak berbantal.


Sesaat diam-diaman, ia menatapiku lekat tanpa mengedip...aku balas memandanginya dengan bengong.


"Bajunyaaa..." Evita mengerang tertahan, terdengar mulai gusar.


"Oo...sorry. Aku lupa." Senyumku.


"Telanjangan saja."


"Nanti kau masuk angin. AC kamar sedang menyala."


"Oh."


"Tidurlah, Evita. Obat pereda pusing itu sebentar lagi akan bekerja."


"Buka saja..."


"Buka?"


"Iniiii..."


"Tapi kumatikan dulu AC nya, oke?"


"Tak usah."


"Oke oke."


"Tolong...aku mau duduk."


"Tak usah duduk. Kau masih lemah. Aku bisa membuka bajumu sambil kau tetap berbaring."


"Duduk sajaa..."


Fiuhh...ternyata seorang Evita akan seperti ini kalau sedang mabuk. Rumit.


Maka kubantu ia duduk. Jelas sesaat duduknya goyah. Kurangkulkan sebelah tangannya keleherku. Tapi dengan membandel ia menarik pulang tangannya itu.


Astaga, istriku ini benar-benar menggemaskan.


Kuberi dia kecupan ringan dibibir, ia pun mengerjapkan bulu mata, berusaha keras memfokuskan pandangan pada keberadaanku dihadapan duduknya.


Oh sayang, bagaimana aku tak semakin jatuh cinta padamu...


Cara menarik dirimu kupandang manis, caramu menerimaku pun kupandang manis, bahkan caramu yang menyeleneh ini...tetap mempesonaku.


Evita, kurasa kau adalah cinta pertama dan terakhirku...entahlah.


Tak ingin istriku mengkomando kedua kali, kuulur tangan untuk mulai membukai pakaiannya. Ia diam saja. Hati-hati sekali satu persatu yang melekat ditubuhnya ini kutanggalkan, hingga tersisa hanya bikini saja. Ia lagi-lagi hanya mendiamkan saat kedua tanganku mengulur kebelakang untuk membuka kait bra. Bra tanggal, menyusul ia menggerakkan duduk agar aku mudah melepas pantynya juga.


Sudah 9 malam ini aku tidur bersamanya dalam keadaan ia polos -ia rela melakukannya karena ia tau dan mengerti aku mencari kepuasan lewat merasakannya tanpa busana- namun di malam ini sepertinya hatiku merasakan lain, begitu aku selesai menuntaskan kepolosannya.


Apa yang membuatku merasakan lain?


Gairah yang kutemukan di pancaran mata Evita saat ia kemudian memandangiku dalam-dalam.


Mata bertemu mata...


Ketika Evita maju untuk memelukku lalu membisikkan kalimat lirihnya, aku pun dibuat tertegun mendengarnya.


"Ajari aku bercinta...."


&&&&&-&&&&&


Meski ia masih dalam pengaruh alkohol, aku tetap saja menemukan itu, sikap menarik dirinya bagian dari pertahanan diri itu. Ketidak-bersediaan terhadap percobaan hubungan intim ini. Karena ketika saatnya kusentuhkan bagian kejantananku ke kewanitaannya, ia pun spontan melakukan penolakan dengan mendorongkan tangan kedadaku, lalu menekuk kaki seposesif mungkin...

__ADS_1


Sangat siap membentengi segenap area kew*nitaannya dari jangkauan keberadaanku dihadapan berbaringnya.


Membuatku menghenyak, menyadari dengan segera bahwa mungkin ia memang benar-benar tidak menyukai hubungan intim.


Bahkan kerja alam bawah sadar itu pun, yakni disaat ia sedang mabuk begini, tetap tak mengijinkan tubuhnya menerima kehadiranku.


Oh, ini sepertinya akan sangat menyulitkan bagi kami berdua. Kalau sudah ketahuan seperti ini...


Tapi memangnya apa yang kau harap, Hari Pratama? Dalam keadaan mabuk ia akan dengan mudah begitu saja menerimamu? Menceracau penuh gairah hingga berakhir agresif memaksa kalian berdua bercinta?


Evita yang nyaris tertutup, dalam keadaan mabuk pun akan sama tertutupnya, Hari. Ketahuilah...


Tadi itu adalah pertemuan pertama kalinya kami. Dan itu cuma sekadar persentuhan biasa. Karena memang maksudku hanya sekadar untuk membuatnya mengadaptasi dulu, walau selama 9 hari ini saat mencumbuinya, mencumbui ringan tentunya, bagian itu baginya sudah tidak lagi menjadi pemandangan rahasia. Aku tak segan memperlihatkan, hanya mempertemukannya saja yang belum pernah.


Dan ternyata di pertemuan yang akhirnya terjadi, Evita tetap lebih memilih menolakku.


Tau betul apa yang barusan dilakukan tapi tak bisa berbuat apa-apa, Evita hanya dapat menyembunyikan wajah pada permukaan dada ini tanpa bersuara. Berdiam beberapa lama dibalik persembunyiannya.


Bukan keahlianku membaca pikiran manusia, tapi aku cukup memahami apa yang ada dalam benak istriku.


Menyikapi hal ini, penuh pengertian kurengkuh dia agar makin merasa nyaman merasakan bukit dadaku. Protektif menyediakan diri bagi sandaran beban yang sedang ia rasa. Sambil kusengaja menghindarkan kejantanan polosku dari menyentuhnya, seperti ia yang lebih dulu memperlakukanku sedemikian.


"Aku tak mau..."


"Iya. Tidak apa-apa. Tidak usah. Aku bisa mengerti."


Tanpa pemikiran macam-macam. Bukan hari ini toh hari lain pun masih bisa. Masih ada banyak waktu untuk melakukannya. Aku percaya bersama kebersamaan kami, mungkin lambat laun ia akan bisa juga membuka dirinya.


Tidak usah juga melakukannya sampai kapanpun? Baiklah...tidak apa-apa.


"Bukaaann...maksudku, aku tak mau seperti aku begitu tadi itu. Tapi aku tak bisa..."


Ooo?


Ada solusi? Apa solusi terbaiknya untuk hal ini?


"Maaf..."


"Shh...kau tak perlu minta maaf. Itu tadi toh bukan salahmu. Bukan dirimu sendiri yang sebenarnya itu yang mengkehendaki."


Entah yang mana bentuk diri sebenarnya Evita dalam hal ini.


Perlahan kuberikan juga Evita kecupan ringan dipuncak kepala, diantara elusan tanganku sepanjang punggungnya.


Hening beberapa saat...


"Coba lagi."


Coba lagi?


"Kita coba lagi?"


"Iya. Coba lagi."


"Tapi kau..."


"Tidak tau. Coba lagi."


"Ohh..."


Kesungguhan untuk kata-katanya itu ada diraut wajah istriku begitu ia memunculkan wajah dari persembunyian, menengadah melihatku, bertemu pandang denganku.


&&&&&-&&&&&


Pada mulanya, dan ini menjadi kali pertama kami melakukan ini, ia tak menolak saat aku membaringkan diri keatasnya, mengganti posisi berhadapan miring kami sebelumnya.

__ADS_1


Ia hanya menarik nafas tercekat sekilas sebelum menurunkan pandang dari wajah kebahuku.


Namun begitu merasakan hadirku menyentuh tepat permukaan v itu, mulai bergerak perlahan menggoda disana bersama kesiapanku untuk kembali ditolakkan, barulah ia memberi reaksi signifikan...memejam lebih rapat, membuat tegang dan kaku daerah pinggulnya.


Tidak hanya sampai disitu, daerah itu hingga bahkan ke ujung kakinya pun kemudian menyusul bergemetaran hebat, disertai tarikan nafas bagai berkejaran...


Aku sangat bisa merasakannya, juga cara Evita yang menahan nafasnya kemudian...


"Sayang..."


Beringsut bermaksud menggulirkan diri, bahu kiiriku serta merta dicengkram tegas oleh Evita yang menahanku.sambil menghenpas nafas,


"Hjangan!"


"Vita, tapi kau..."


"Jangan. Teruskan. Aku tidak apa-apa."


Kalimat yang justru terdengar melirih bagai menghiba. Untuk sesaat aku dikuasai bingung harus berbuat apa. Berhenti atau lanjut.


"Kau gemetaran, sayang. Kau masih tidak menginginkan ini..."


"Tidaaakk...aku tidak gemetaran. Aku cuma..."


"Kau merasa jijik sekali? Dengan apa yang kulakukan ini?"


Mata memejam erat istriku perlahan mengendur untuk kemudian membuka, mengerjap sesaat dibawah bahuku. Kuangkat dagunya, kupertemukan pandangan kami...lalu kutekan bibirku kebibirnya, memberi sebuah ciuman paling lembut, langsung saja untuk menenangkannya.


Ia pun terhanyut oleh buaian kelembutanku. Membiarkan salah satu tangannya kusampirkan kepundakku saat tangan kiriku kusisipkan kebawah, menariknya lebih rapat lagi karena semasih menciuminya ini hingga nanti, aku bermaksud akan bergerak lagi...


Kali ini aku harus lebih perlahan dan berhati-hati. Sambil mencoba mempengaruhinya dengan ciuman kami ini dan juga kata-kata sekiranya yang paling mengena.


"Ini tidak menjijikkan, sayang. Ini aku yang melakukannya. Suamimu... Pria yang kau cintai, satu-satunya pria yang juga mencintaimu dengan teramat sangat. Melebihi cintamu. Hm?"


Bisikan kata-kataku dipermukaan mulut istriku hanya membuatnya kembali memejam, sebelum mengangguk. Rangkulan tangan kirinya di belakang leherku kini disertai mengusap rambutku. Kesekian kali membuka mata, ia memperlihatkan pendar berkaca-kaca.


Aku harus bisa menaklukan Evita. Aku harus berhasil membuatnya menerima. Malam ini juga. Tidak bermaksud memaksa, tapi karena aku memang sedang meniti jalan yang sudah dibukakan sendiri olehnya.


"Katakan padaku sekali lagi kalau kau...tidak ingin aku berhenti."


"Jangann...jangan berhenti...Kumohon..."


"Kau yakin? Aku akan melakukannya lebih jauh lagi sekarang. Dengan seperti ini..."


Tangan kiriku menyusup disela himpitan, menggapai bawahnya. Begitu sudah menyentuh, sambil menatap pada mata Evita memastikan reaksi, kuusap beberapa kali area kewan*taannya sebelum meluncurkan jemari ini memasukinya...


Tak ada reaksi lain selain ia terkesiap...lalu mengerang pelan, menggeliat tanpa sadar. Jemari Evita mencengkram rambutku saat merasakan kedalamannya mulai kujelajah.


Menakjubkan ia tidak menolakku. Tubuhnya terutama daerah yang mulai kueksplor tak lagi dikakukannya. Mungkin karena ciuman-ciuman kecil ringan yang kulakukan atau juga bisikan kalimat penuh cintaku padanya, ia mengendurkan pertahanan...


"Kau tau aku sedang berbuat apa ini?" Bisikku perlahan dekat ditelinga Evita.


Pandangan sayu matanya padaku, helaan nafas berikut anggukan bersungguh-sungguh yang ia perlihatkan nyata didepan mataku...itu semua sudah cukup sebagai jawaban.


Jelajahku menyeruak lebih jauh, lebih dalam...ia menikmati dengan terengah-engah sambil meliukkan samar pinggulnya menanggapi setiap gerakan yang kulakukan.


"Rasakan sayang, ini sangat indah. Karena kita berdua yang melakukannya. Jangan merasakan yang lain, cukup rasakan aku saja."


Sambil berucap kuselesaikan permainan jemari untuk digantikan ke kenikmatan lain yang lebih indah lagi itu...


Bulu mata Evita bergetar terpejam menerima ciumanku dipucuk hidungnya dan rona memerah pun kian merambati dipipi, rona akibat mabuk alkohol dan cinta.


Ketika aku kembali bergerak menyentuhkan kejantananku ke kewanitaannya, ia tidak lagi menahan diri. Bahkan secara mengejutkan, Evita menggerakkan salah satu pahanya keluar, melebarkan ruang....


###############

__ADS_1


__ADS_2