MENIKAH TURUN RANJANG?

MENIKAH TURUN RANJANG?
40. Masuk Ruang Perawatan


__ADS_3

###############


Terdiagnosa positip, hasil Rontgen dada dan pemeriksaan darah Rian menunjukkan putraku terserang Pneumonia.


Disebabkan oleh virus atau bakteri yang masuk kedalam pernafasan hingga menetap didalam paru-parunya, kemungkinan terjadi di saat atau usai mengikuti kegiatan berenang keluarga, bukan benar-benar kemarin tapi di 2 hari yang lalu.


Karena kondisinya cukup serius, demam tinggi dan sesak napas, akhirnya Dokter spesialis merujuk putraku untuk segera menjalani rawat inap di Rumah Sakit untuk beberapa hari kedepan atau tergantung pada perkembangan kesembuhannya. Dimana selama mendapatkan perawatan itu, Rian akan diberikan antibiotik berikut cairan tubuh lewat infus, dan juga oksigen untuk membantu pernapasannya.


Oma Laras tak kuasa menahan tangis demi melihat sang cucu tercinta akhirnya ditempatkan pada salah satu ranjang perawatan Rumah Sakit. Sementara aku...


Ini bukan kali pertama anak kembarku harus dirawat inap di RS.


Bukan kali pertama kami melepas dia sendirian didalam ruang perawatan steril sana, siap dipasangi infus hingga bahkan selang oksigen, hanya mampu mengisak kesakitan tanpa kami diperbolehkan hadir menemani dan memberinya penghiburan...siapakah yang paling merasakan sedih, cemas, dan juga takut kalau bukan aku sebagai orangtua kandung Rian satu-satunya?


Dengan murung aku berjalan meninggalkan para kerabatku di ruang tunggu itu, termasuk Evita, ia terlihat masih canggung menempatkan diri ditengah situasi saat ini diantara kami dan Rian. Sebab ini kali pertama bagi istriku terlibat langsung dalam proses pemeriksaan dan perawatan Rian di RS.


Kutujukan ayunan langkah kaki menjauhi kamar perawatan anak, bersembunyi kesebuah sudut lorong sepi pada ujung selasar bangsal anak, disitulah baru berani kutumpahkan isak tangis tertahanku...


Memedihkan hati rasanya. Airmataku mengalir tak terkendali di pipi. Rian cuma seorang anak kecil berusia 4 tahun. Ringkih dan rapuh, harus menanggung sakitnya disetiap kali itu menyerang. Hati siapa yang sanggup melihat anak sekecil dan selemah itu harus selalu berjuang bagai tanpa akhir melawan setiap derita penyakitnya?


Aku sudah pernah satu kali kehilangan orang tercinta, ditinggal pergi untuk selama-lamanya. Dengan faktor riskan kondisi kesehatan Rian yang sulit stabil disepanjang hidup 4 tahunnya, aku gamang. Selalu dikuatirkan akan Rian sewaktu-waktu dapat terenggutkan lagi dari tanganku, menghilang dari dalam hidupku.


"Bang Hari..."


Menyusut isak, aku menoleh kebelakang. Tak sempat menyembunyikan bekas air mata ini yang terlanjur tertangkap pandangan Evita, sudah berdiri tegak tak jauh dari berdiriku. Aku berbalik.


"Evita..." Suara yang terdengar sengau oleh karena cairan memenuhi rongga hidung akibat menangis. Sesaat berusaha tampil tegar, mencoba tersenyum tapi ternyata tak bisa, akhirnya aku meluruh juga begitu Evita mendatangiku lalu merengkuhkan kedua tangan keseputar pinggangku. Memeluk sangat erat...


Kuderaikan airmata tanpa segan atau malu dalam dekapannya. Kuluapkan segala keluh kesah itu padanya yang mulai dari saat ini akan kujadikan ia sebagai tempatku bertumpu dan mengadu dalam hal tentang sakit Rian, karena ternyata ia sudi menjadikan dirinya seperti ini bagiku.

__ADS_1


"Selang infus dan selang oksigen itu terlihat mengerikan, Evita," Isakku sambil membenamkan kepala lebih dalam dileher istriku, "Kalau bisa jangan dia yang menerimanya. Aku saja."


Sedih yang sulit tercegahkan kalau itu berhubungan dengan Rian dan sakitnya, seperti sakit parah Pneumonia yang saat ini sedang ia alami.


"Rian akan baik-baik saja, bang Hari, percayalah." Evita menekankan tangan memeluknya, "Rian anak yang kuat. Dan penuh semangat. Jangan jadi sedih, abang harus bisa juga sebersemangat Rian."


Berjam-jam sejak pagi hingga petang menjelang malam pukul 6.30 saat ini, ia tak mau beranjak pergi dari tempat ini. Tetap menemani meski ia hanya lebih sering berdiam diri ditengah aku dan beberapa kerabat yang menyempatkan diri datang menengok kondisi sakit Rian.


Aku tetap memberi perhatian diam-diam pada Evita. Karena ia adalah istriku sekarang dan biar bagaimanapun sekaligus sebagai ibu sambung bagi Rian.


Tapi karena ayah dan ibunya lebih fasih dan aktif mengurusi putraku selama berada di sini seharian ini, hingga oma sendiri yang memangku atau menggendong putraku, akhirnya Evita hanya dapat sekadar menghadirkan diri saja tanpa banyak bicara.


"Ibu menyuruh kita pulang. Apa bang Hari mau pulang? Aku tau bang Hari tidak cukup tidur sejak kemarin..."


Kalimat Evita membuatku sejenak terngiang ucapan terakhirnya di dalam mobil tadi pagi yang menyatakan dirinya menolak aku serta itu untuk yang kali kedua. Tidak akan lagi, tidak mau lagi, demikian tegas Evita dan aku cukup bisa memahami apa yang dimaui istriku ini.


Lalu tanggapku sebelum benar-benar mengakhiri pembicaraan kami pada tema itu : "Baiklah, akan kita bicarakan nanti."


Evita memaafkanku pun, itu perlu dibahas juga lebih jauh lagi. Akankah ia murni memaafkanku tanpa mengajukan tuntutan apapun, atau...atau sebaiknya...demi kepuasan bathinnya, ia ajukan saja tuntutan itu padaku. Kepuasan bathin yang akan bisa menutupi kemarahan dan ketidakterimaan atas perbuatanku itu padanya.


Baik, nanti aku sendiri yang akan menyarankan Evita untuk mengajukan tuntutan itu.


"Aku memang kurang tidur...tapi kurasa, aku bisa istirahat dan tidur disini saja. Aku tak akan pulang dulu malam ini."


Kata-kataku lebih terdengar seperti gumaman dileher Evita. Ini adalah salah satu bagian dari bentuk sikap merajuk terselubung. Evita merenggangkan kami tanpa melepas pelukannya, mau tak mau kuangkat kepala, istriku memandangi wajah terutama mataku penuh perhatian,


"Pulang saja dulu." Bisiknya sambil mengangguk satu kali, "Istirahat dan tidur dirumah. Lebih baik disana, tidak disini. Disini bang Hari tidak akan bisa istirahat dengan nyaman. Malah bisa makin kurang tidur."


Pojokan sudut lorong tempat kami berada dan berdiri ini sangat tersembunyi dan nyaris tidak tersentuh mata orang disekitar. Pelukan tangan Evita diseputar pinggangku sembari ia mengelus-elus perlahan bagian bawah punggungku, terasakan begitu romantis dan menyentuh. Memunculkan keinginan agar ia menciumku atau aku saja yang melakukannya. Sayang ia kemudian mengakhiri pelukan begitu aku menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Mau dimanapun aku berada, aku tak akan pernah bisa merasakan nyaman. Selama Rian masih berbaring didalam sana...dan selama tubuhnya itu masih kesakitan seperti itu."


Mataku kembali membasah, memandangi Evita sendu.


Tertular sendu yang kurasakan, Evita balas memandang padaku dengan mata berkaca-kaca. Dalam pendaran tatapan berkaca-kaca, kedua tangan Evita terulur lagi namun kali ini merengkuh leherku, bersuara lembut dan perlahan sangat dekat dipermukaan bibirku, sangat nyata tak menghiraukan akan sekitarnya,


"Sejak kapan aku jatuh cinta padamu, bang? Sejak disaat itu..." Ia sangat berani melakukannya, menyapu ringan bibirnya kepermukaan bibirku, seolah tau betul suaminya ini sedang membutuhkan persentuhan ini.


"Vita..." Aliran dalam darahku pun berdesir manakala dengan lebih berani Evita maju satu inchi lagi menyentuhkan bawah kami, melakukan gerakan ringan disana namun tetap terasakan erotis, tak bisa kupungkiri ini cukup mampu melipur kesedihanku.


Akhirnya karena didukung situasi yang diyakini masih aman terkendali, ditambah aku menyukai apa yang sedang dilakukan Evita ini dan merasakan butuh menanggapi...maka sekalian saja kupegang pinggul Evita, menariknya rapat ketubuhku, hingga ini semakin meningkatkan sensasi sensual bagi kami berdua.


Lebih dari sanggup menepis sesaat kegundahan akan sakit Rian...


"Sejak kejadian aku melihatmu menangis beruraian airmata disisi nisan kakak yang kau usap-usap penuh kasih sayang... Di saat itulah pertama kali aku merasakan perasaan yang sangat kuat itu...jatuh cinta padamu.


Melihatmu menangis persis seperti kau yang barusan tadi itu, aku waktu itu sudah begitu inginnya...memelukkan tangan padamu seperti yang kakak dan adikku lakukan, memberikan penghiburan mereka padamu.


Nyatanya aku tak bisa... Susaah. Terlalu segan. Terlalu malu. Tak ada keberanian..."


"Aku sangat mencintaimu, bang Hari. Belum pernah merasakan begitu mencintai yang seperti ini.


Pulanglah dulu sebentar kerumah, istirahat dirumah. Demi aku, demi Rian, sehatlah selalu untuk kami semua. Ikutlah pulang, nanti aku yang bawa mobilnya. Atau kita pulang naik taksi saja? Tim back-up abang sudah bersedia koq stand-bye menjaga Rian disini selagi abang pulang kerumah. Hm? Oke?"


Aku bahkan tak sempat sekadar tersenyum karena serta merta dengan keberanian yang masih sama, Evita menghujani bibirku dengan kecupan-kecupan ringannya.


Dari menciumi asal, lantas ia meningkatkan level penyaluran hasrat. Digigitnya dan ditariknya bibir bawahku sebelum kemudian ia merangkum mulutku...mengundangku berciuman, maka kami pun berciuman dengan tidak lagi memperdulikan situasi.


Disekitar kami berada memang sepi, tapi 5 lantai keatas sana, gedung RS ini punya banyak pasang mata...

__ADS_1


###############


__ADS_2