
"Ohh...inii...iya iya, sudah cukup jauh kesini. Aku tau dimana ini. Kenapa, bang Hari? Abang kelelahan sampai nyasar begini? Mengantuk? Maaf, aku...aku malah tidur terus. Jam berapa sekarang? Oh, sudah hampir jam 1 malam. Sudah mau dinihari. Apa bang Hari mau istirahat disini dulu saja? Bang Hari mungkin tak kan mengijinkan aku gantian mengemudi walau aku cukup baik mengemudi. Apa kita sebaiknya gantian saja?"
Demi langit, bumi, segenap alam semesta beserta isiannya...aku tak ingin kita gantian mengemudi. Aku hanya ingin mencium atau paling tidak menyentuhmu...
"Evita..."
"Baiklah, istirahat sebentar saja disini."
Bersamaan diakhir kalimat gadis ini, terdengar dering HP dari dalam tas perempuan dipangkuannya. Sangat jelas terdengar. Itu nada dering dari panggilan telpon, kalau tak salah. Aku sudah menghafalnya sekarang.
Merunduk sedikit ke pangkuan, Evita hanya mendiamkan saja bunyi panggilan itu sampai suaranya berhenti sendiri. Ia melihat padaku saat itu kutanyakan,
"Tidak kau angkat?"
"Ini panggilan grup, isinya cuma kami-kami saja. Kalau bukan dari orangtuaku, mungkin dari kak Lidia atau 2 adikku. Mungkin mereka mau menanyakan aku sudah ada dimana."
"Sepertinya Lidia. Dia sudah meng-smsku. Barusan. Dan ya dia menanyakan kita sudah ada dimana."
"Mmm...bang Hari?"
"Hm?"
"Selagi kita ada disini, sambil istirahat sebentar...boleh aku memberitau abang sesuatu?"
"Memberitau sesuatu?"
"Ngg..."
Evita terlihat berubah serius dalam melihat padaku. Juga ekspresi ragu meneruskan bicara, terlihat terbias jelas diwajah meski suasana dalam mobil tak begitu terang, hanya temaram saja oleh sinar dari lampu jalanan diluar sana.
"Ada apa, Evita?"
"Ngg...ini mungkin akan terdengar mengagetkan buat bang Hari. Aku sebenarnya sudah ingin memulai membahas sewaktu kita masih di hotel tapi kulihat kesempatannya tidak ada."
"Mengagetkanku?"
"Mmm...aku punya 2 buku diari yang jadi buku harianku selama 3 tahun terakhir."
Sambil berkata demikian Evita beralih dariku ke tas dipangkuan yang kemudian ia angkat dan buka restletingnya.
Aku terus memperhatikan pada apa yang dilakukannya, dari dalam tas itu ia mengeluarkan 2 buah buku seperti yang dimaksud tadi. Keduanya memang seperti bentuk buku diary berukuran setengah besarnya sebuah buku tulis biasa. Tangan gadis ini mengulurkan kedua buku itu kehadapanku.
__ADS_1
Dengan dahi berkerut kuterima kedua buku itu, kuamati sekilas bentuk buku dan rupa pada sampulnya.
"Kau ingin aku membaca buku harianmu ini? Ini buku diari pribadimu, Evita.."
"Hm-mh. Yang diatas itu, ada pembatasnya. Coba bang Hari buka di bagian yang sudah kubatasi itu."
Dengan dahi tambah berkerut bingung mengamati buku diary Evita ditangan, kunyalakan lampu dalam mobil diatas kepala lalu pada salah satu buku yang memang sudah ditandai sebuah pembatas buku berbahan plastik, kubuka halaman pada bagian itu. Kubaca tulisan tertera disana...
"Tadi siang ibu sudah mengirim pesan untukku, sepertinya sudah ada tanggal yang masuk sebagai rencana keluarga kita. Tanggal-tanggal ancar-ancarnya sudah tak lama lagi. Kata ibu bisa jadi dalam 2 sampai 4 bulan ini. Karena itu, aku rasa lebih baik dari sekarang saja aku memberitau bang..."
Suara Evita terhenti begitu ia menemukan keterperangahan diekspresi wajahku setelah tulisan demi tulisan pada halaman buku hariannya yang ditandai mulai kubaca, terus membacai ke halaman berikutnya.
Bagaimana aku tidak jadi terperangah karena terkejut?
Isi tulisan Evita ini...baru halaman pembukanya saja sungguh tidak kusangka-sangka. Dan kemudian aku menatapi dirinya dengan tatapan benar-benar tak bisa percaya itu.
Ia memperlihatkan sebuah senyuman getir dibibir.
Sungguh ini memang sulit untuk bisa ku cerna dalam logika.
"Apa ini serius?" Tanyaku, "Evita, kau bukan sedang ingin mengerjai atau menguji perasaanku, kan?"
Gadis ini memperlihatkan gurat sesal diwajah, menyahut dengan berat hati sambil mencoba menghindari tatapan menyelidikku.
"Astaga, Evita..."
###############
'12 februari...
dia menagih janji lagi. tanggal 14 lusa dia benar-benar mau datang kerumah. aku mesti bagaimana?' aku tak mau berpacaran dengannya. aku hanya mau kami berteman saja. berteman akrab karena kami bekerja di kantor yang sama...'
'4 april...
akhirnya dia pun berlalu. ya sudah tidak apa. lagipula, cepat atau lambat dia memang harus mengetahui ini. aku bukannya abnormal. aku hanya tak mau melakukan itu. itu benar-benar kuanggap sesuatu yang menjijikkan dan dia tak bisa terima.'
'30 maret...
sudahlah, aku memang benar-benar sudah lelah dan malu menjelaskan tentang ini. lagi dan lagi ke orang berikutnya. sudah, tak perlu lagi ada orang ke 4 yang mesti kuberi penjelasan. tidak apa, evita, kamu pasti bisa. hidup sendirian sampai akhir, sudah umum dimuka bumi ini. sudah banyak orang yang melakukannya.'
'5 september...
__ADS_1
ya aku tau dia sangat serius. dia bilang tak jadi masalah? mana mungkin itu tak jadi masalah? 3 yang lain telah pernah mundur teratur hanya karena hal ini. tidak mungkin, tidak mungkin dia tak begitu menginginkannya. dia masih sebagai pria waras. mungkin cuma aku didunia ini yang tidak waras itu.'
'8 maret...
kenapa semakin aku ingin menghindarinya, semakin banyak pria yang menginginkanku? apa aku sedang di uji, tuhan? aku tidak keberatan hidup sendiri selamanya karenanya. karena inilah konsekuensi yang harus kuterima dari apa yang jadi keputusanku dalam hidup ini...'
'24 februari...
ujian bagiku rupanya masih belum berakhir...dia pria yang selama ini sudah kukenal sebagai bagian dari keluargaku. ya tuhan, apa dia serius ingin memperistri aku? bagaimana kalau inipun kukatakan juga padanya? akan seperti apa reaksinya? dia pria ke 5 dalam 3 tahun terakhir yang terang-terangan menyatakan menginginkanku. jadi apa yang harus kulakukan sekarang?'
'7 maret...
terjadilah. aku bukannya hendak mempermainkannya. kalaupun saat ini aku menerimanya, lihat saja nanti apa dia akan berubah pikiran begitu aku pada waktunya nanti memberitaukan ini padanya. ya ampun, aku jadi kepingin bersikap egois saja. ambil aku, seriusi aku, tapi jangan tinggalkan aku kalau memang pada akhirnya dia tak bisa menerima ini. tetaplah bersamaku meski tanpa ini diantara kami...maukah dia?'
'9 maret...
aku sudah ingin mundur dan menyerah saja. lebih baik aku yang mengalah, masih banyak yang lain yang bisa menggantikanku untuknya. walau aku tak mau kehilangan dia, aku juga tak mau mengecewakan dia. aku masih belum berubah. aku masih tak mau menginginkan itu. tidak, itu masih kuanggap sebagai sesuatu hal menjijikkan dalam pemikiranku. mungkin benar aku ini tidak normal. bagaimana mungkin dalam suatu hubungan pernikahan tidak melakukan itu? tapi aku memang tidak mau. tidak, aku tidak mau. sampai kapanpun aku tak mau itu....jadi, baiklah. aku harus mengambil langkah tegas. aku akan mundur saja...'
................
Sangat mengejutkanku. Sampai-sampai aku kesulitan mencoba memahami ini semua.
Evita, berikut buku harian ini dan pengakuannya...2 buah buku harian sebagai bukti konkret yang tak mungkin ini cuma sekadar diada-ada oleh gadis itu. Lembaran halaman demi halaman pada tahun awal cerita, kini sudah mulai nampak lusuh. Jenis pulpen yang dipakai sebagai alat tulis pun ditiap waktu berbeda-beda. Begitu juga dengan gaya penulisannya. Itu bukti tulisan demi tulisan ini telah cukup lama dibuat secara bertahap.
Seumur hidupku, ini kali pertama bagiku menemukan masalah seperti ini. Dan justru ini, aku yang akan mengalami.
Jelas sekali Evita membubuhkan sebuah gambar hasil coretan tangannya pada salah satu halaman buku diary dan itu dibuat sekitar 2 tahun yang lalu. Halaman itulah yang ia beri penanda pembatas buku dan ditunjukkan padaku.
NO S*X.
Tidak ada se*s? Tidak ada hubungan intim?
Tentu saja sangat mengejutkanku. Ini adalah Evita yang berterus terang mengakuinya. Bukan klien atau orang lain. Evitaku.
Ternyata gadis itu menganggap dan menjadikan hubungan se*s atau hubungan intim itu sebagai sesuatu hal yang menjijikkan. Dan dia kukuh tak mau menginginkan itu apalagi untuk melakukannya.
Evita, bagaimana bisa? Kenapa? Apa sebenarnya yang telah terjadi padamu?'
Genophobia, Coitophobia, Erotophobia...
Apa kau benar-benar phobia terhadap salah satu dari phobia ini?... phobia berhubungan se*s?
__ADS_1
Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Kami lakukan?