
###############
Hari ke 11 sejak pernikahan, pukul 1.30 malam jelang dinihari...
Secara insting aku membangunkan diri. Karena banyak hal mesti kulakukan mulai dari sekarang, yang memang sebaiknya kulakukan semasih Evita lelap dalam tidur. Untunglah ia masih lelap dalam tidur.
Begitu bangun dan membuka mata dengan menyadari aku dan istriku masih seperti cara tidur kami dimalam-malam sebelumnya, aku pun hanya bisa nyengir sendirian.
Masih sesuai kebiasaan tidur dan bangun yang telah diterapkan Evita sejak di hari pertama, istriku memang hampir selalu tak mengijinkan dirinya sendiri, apalagi aku, melewati bantal guling tameng atau benteng pertahanan tidurnya itu...kali ini pun rupanya kami masih sedemikian. Tertidur rapi di sisi ranjang masing-masing. Istriku pada bagiannya diseberang sana dan aku pada bagianku sendiri.
Belum pernah terjadi salah seorang bahkan tanpa sadar tertidur sembarangan berguling kesana berguling kesini.
Sedikit penjelasan dari oma Laras adalah juga sebagai pelengkap pemahamanku,
'cara tidur Evita? dia bukan tipe grasa grusu. tidak grabak grubukan. anteng lah. sejak bayi dia seperti itu. setau ibu sedikit mendengkur, iya. kalau dia sedang cape banget.'
Itu sebab demi tetap menghormati penerapan istriku, usai kami mengakhiri percintaan yang sempat terjadi 2x beberapa saat lalu, aku tidak lantas membuat sikap tidur berlebihan terhadapnya hanya karena akhirnya kami sudah berhasil bercinta...
Bias cengiran tipisku berangsur memudar berganti keseriusan memperhatikan wajah tertidur lelap Evita dihadapan wajahku. Bentuk tidur damai tanpa mimpi, kalau diperhatikan pada bulu mata dan kelopak mata yang tidak bergerak-gerak ini.
Mengenang sejenak percintaan kami, aku membayangkan lagi bagaimana istriku melakukannya dengan sepenuh hati dan perasaannya. Tak butuh waktu lama dirinya menerima lalu memahami apa yang harus dilakukan. Tak butuh waktu esok atau hari lain kami memulainya, waktu di malam ini juga akhirnya kami melakukannya.
Percintaan yang dipenuhi muatan kasih dan sayang, sarat emosi terpendam, membawa kami berdua lebur menyatu pada berbagai perasaan yang belum pernah kami alami sebelumnya. Bersama gelombang demi gelombang kenikmatan mendera, bagai tak menginginkan adanya sebuah akhiran.
Tapi tetap harus berakhir juga dengan kli*aks yang lebih dulu dicapai Evita, sengaja kubuat dirinya lebih dulu mendapatkannya barulah kuhimpun sendiri untuk giliranku berikutnya. Mencurahkan segenap elemen cairan sakral itu sepenuhnya didalam dirinya.
Usai menuntaskan kerinduan kubiarkan istriku tetap bertahan ditempat semula ia berbaring, sementara aku sendiri menarik tubuh dari dalamnya, dari atasnya lalu membaringkan diri agak jauh dari sebelahnya.
__ADS_1
Tak ada pembicaraan. Apa lagi diskusi. Kompak tanpa komentar apapun selain aku menyempatkan diri menyenyumi Evita yang kemudian memejamkan matanya. Setengah mengantuk menyambut bantal guling yang kudekatkan lalu segera saja jatuh tertidur memeluk benda dalam kamar terfavoritnya itu.
Terlihat begitu kekanakan... Kuselimuti dengan sayang bersama sisa keterengahan dan kelelahannya, menutupi tubuh polos dan lembab oleh keringat akibat bercinta, dan nampaknya secara keseluruhan bisa kupastikan gairah Evita di awal tadi sudah tersalurkan dengan sangat memuaskannya.
Masih dengan memandangi tidur lelap Evita aku berucap dalam hati : akan kubawa semua kenangan ini dalam ingatan andai karena semua ini, aku diwajibkan berpindah tempat menghuni sel penjara...
Ah, tapi masih besarkah kemungkinannya? Setelah Evita jelas-jelas sebagai pihak yang lebih dulu menginginkannya?
Bukan sedang mencari pembelaan diri, aku hanya sedang menelaah apakah ada kemungkinan Evita memaafkanku lalu melupakan ketidak-terimaannya.
Begitulah.
Tidur Evita lama. Tidurku sebentar saja. Saat ini aku menghadapi laptop untuk melakukan beberapa edit video hasil rekaman. Sebelum nanti beberapa saat lagi aku pergi keluar berkendara, meninggalkan sementara Evita dan sebuah memo :
'...maaf aku menyingkir darimu, tak menemani saat kau sudah terbangun.
dan sayang, tolong rahasiakan dulu semua ini dari siapapun tanpa terkecuali.
aku bermobil sebentar cari angin...'
Sesekali kulayangkan pandang dari sofa yang kududuki kearah tidur lelap Evita. Memastikan. Mungkin kekuatan alkohol sudah mulai melenyap dari dalam tubuhnya. Tersisa sekarang adalah hanya lebih pada sakit dan nyeri disekujur badan akibat dari kegiatan percintaan.
Catatan No 4. Keberanianku , centang.
Keberanian memulai semua ini hingga mengakhiri dengan indah. Sekarang tinggal menunggu reaksi Evita sebagai kesimpulan akhir hasil dari semua yang telah kulakukan.
Tapi sepertinya sudah bisa disebutkan pencapaiannya adalah Kesuksesan. Dengan tingkat keberhasilan tercapai di angka 90 berbanding 10. Lebih dari fifty-fifty.
__ADS_1
Sungguh puas dengan semua yang sudah berhasil kuwujudkan, sudah bisa menarik napas lega salah satu 'beban' pikiranku akhirnya terbebaskan.
Adapun reaksi dari Evita begitu terbangun nanti lantas segera menyadari semuanya, berikut memo terselip dibawah HP dan video tersunting yang sudah kukirim ke nomor ponselnya...oke, tidak ada perbuatan tanpa konsekuensi. Aku telah lebih dari siap untuk mempertanggung-jawabkan.
&&&&&-&&&&&
Langit subuh kota Jakarta pukul 4.25 tak berhias bintang maupun bulan saat aku mengulet, meregangkan otot tubuh malas-malasan dikursi kemudi sambil menembus pandang keatas sana lewat kaca depan mobil.
Kembali terbangun tapi kini berada didalam kendaraan, terparkir sendirian pada sisi jalan luar komplek perumahan tempat tinggalku, kemudian kuedarkan pandangan kesekitar.
Suasana sekitar masih sepi-sepi saja. Sesekali dilintasi satu-dua kendaraan dijalan beraspal mulus pada sisi kiri keberadaan mobil, mulai dilintasi pula oleh satu-dua orang yang terlihat mengayun langkah menuju mesjid tak jauh dari keberadaan gapura komplek didepan sana. Untuk melakukan ibadah rutin subuhan.
Melongok kearah HP diatas dashboard, itu pun tak kalah sepi dari apapun notifikasi... Sudah bangunkah Evita sekarang?
Kemungkinan sudah. Dia bukan tipe terbangun terbirit-birit untuk berangkat kerja. Jam pergi tidur dan jam terbangunnya selama ini konstan jarang berubah. Itu yang pernah diberitaukannya padaku.
Kalau memang masih tidur, bagus, ia perlu menghabiskan banyak waktu dengan tidur untuk memulihkan stamina, mengembalikan energi, membiarkan sejenak waktu lebih lama lagi terjeda dan aku tetap belum akan pulang sekarang.
Kalau memang dia sudah bangun, apa reaksinya?
Kugapai HP dari dashboard untuk mengecek kamera CCTV dirumah lewat sebuah fitur aplikasi online...ternyata tampilan situasi disana masih dalam keadaan tanpa penerangan. Terutama ruang makan yang letaknya bersisian dengan kamar tidurku, tidak terjadi aktivitas apapun selama 2 jam terakhir sesudah aku meninggalkan rumah. Usai sedikit berberes kamar lalu mengedit 2 video hasil rekaman kamera.
Ini seperti Evita belum bangun dari tidurnya. Kalau sudah, ia pasti sudah akan menyalakan semua lampu yang ada disekitar luar kamar tidur.
Benarkah? Masih tidurkah dia?
Dan mengapa kemudian mendadak terdengar suara benturan keras tertangkap di salah satu kamera CCTV pada HP ku, yaitu kamera yang berada di ruang makan yang sekaligus menyorot keberadaan pintu kamar tidurku?
__ADS_1