
Lebih baik kucoba saja mencari yang lain.
Tapi siapa?
Sampai saat ini aku belum lagi dekat dengan siapapun wanita.
Salah satu klienku? Sepupu? Siapa kira-kira di saat-saat ini yang bisa dengan mudah dan instan kudekati lalu kupacari, lalu tak usahlah berlama-lama mungkin akan langsung kuajak naik pelaminan?
Oke, apa tidak lebih baik saja menyewa jasa seorang wanita bayaran untuk berpura-pura menjadi pacarku?
Achh...tapi bagaimana kalau setelahnya keluargaku meminta untuk segera saja aku melamar dan menikahi wanita itu?
Bushett!
Tidak-tidak. Ide yang satu ini akan lebih memusingkan lagi. Bisa-bisa malah menjadi 'konflik' baru dalam kehidupanku yang pada dasarnya sudah begitu merepotkan. Dalam tanda kutip.
Tidak lah. Lupakan ide konyol yang satu itu, Hari Pratama.
Tenang dan santai saja dulu. 'Toh kau bukannya sedang disuruh maju ke medan perang di luar negeri sana, hanya sedang akan dicobai dijodohkan dengan Safira.
Jadi? Jadi apakah aku lantas harus menerima begitu saja percobaan perjodohan ini dengan gadis itu?
Oohh...membayangkan duduk berduaan dengan gadis itu saja sudah membuatku langsung 'patah semangat'.
##########
Pada suatu pagi jam 6.45 beberapa hari kemudian...
"Kita mau kerumah opa Rudi dan oma Laras ya, pah?"
Si sulung Yuanita menghampiri aku yang sedang mengeluarkan beberapa potong pakaian salin anak-anak dari dalam lemari, di dalam kamar tidur mereka.
Terdapat 1 ranjang berspring-bed tanpa kepala-ranjang dalam ruangan ini, cukup lebar untuk si kembar tidur berdua di situ. Ranjang Yuan sendiri berada di seberangnya, lebih kecilan semuat dirinya saja.
Itulah perabot pengisi kamar tidur anak-anak ini selain 2 buah lemari pakaian terbuat dari kayu jati dan bercermin, 2 lemari plastik kontainer, sebuah meja belajar 1 1/2m, sebuah keranjang besar berisi mainan si kembar dan sebuah sepeda yang diminta salah satu si kembar harus disimpan dalam kamar ini.
Sebuah ruangan yang lumayan luas. Kudesain ulang sejak kepergian Ranti dan anak-anak semakin tumbuh besar, semakin membutuhkan ruang tidur yang leluasa.
Dulu ruangan ini setengah dari luas sekarang, lantas kurenov digabung dengan ruang kerja Ranti di sebelahnya.
__ADS_1
Karena mendiang sudah tidak ada maka ruang kerjanya kuputuskan dibongkar.
"Iya kak. Kita kan sudah lama nggak main lagi kerumah opa-oma," jawabku sambil menoleh sekilas pada gadis kecilku sementara tangan terus sibuk beres-beres ini itu.
"Oo begitu." Gadisku manggut-manggut, "Menginap, pah?"
"Ya. Hari ini berangkat dan pulangnya minggu besok. Jam 9 nanti kita sudah jalan," jelasku.
Yuan bergerak mencari lihat kearah pandanganku. "Kalau begitu aku boleh bawa boneka yang banyak, pah?"
Membuat aku sendiri akhirnya berhenti bergerak, sejenak mencurahkan perhatian dan senyum pada gadis kecilku ini... Yang banyak disebut orang wajah Yuan sangat mirip wajahku sedangkan si kembar disebut-sebut lebih mirip ke mendiang ibunya.
Kupercayai saja anggapan itu, karena memang sepanjang yang sering kudengar anak perempuan lebih cenderung mendekati kemiripan wajah atau perilaku ayahnya. Apalagi anak perempuan anak pertama.
"Boleh. Boleh banget. Kakak minta tolong saja pada suster Lina supaya sus menyiapkan boneka yang kakak kepingin bawa."
Wajah Yuan segera berseri-seri senang. "Asiiik..oke, pah. Mainan adik kembar juga yah, dibawa yang banyak, boleh?" pinta gadis ini lagi penuh harap aku mengabulkan.
"Iya, sayang " senyumku sembari mencubit sayang pipi cabi Yuan. "Sama mainan adikmu juga, boleh dibawa yang banyak."
"Yaaaais, tengkiu paah..."
Rencananya di hari ini juga aku dengan Safira akan dipertemukan dan diajak bicara. Diskusi tentang rencana perjodohan yang tidak bisa lagi kuhindari.
Harus kupatuhi. Menghadirinya.
Tak mungkin bisa kuhindari kalau misi dibaliknya membawa nama anak-anak. Demi kebaikan anak-anak yang sudah butuh belaian dan kasih sayang dari seorang ibu yang baru, namun sebaiknya ibu baru atau ibu sambung yang harus terasakan bagai ibu kandung saja bagi mereka bertiga. Demikian kata keluarga.
Jadilah...aku sebagai anak lelaki penurut mengiyakan menyanggupi menghadiri pertemuan itu. Belum tau akan terjadi seperti apa, besar harapanku cuma 1, aku batal dijodohkan dengan Safira.
Sungguh aku tak mau berjodohan dengan gadis itu apalagi sampai jadi menikah dengannya.
Tapiii...ya sudahlah, lihat nanti saja dulu bagaimana akhirnya.
Bersama mama dan papa, ketiga anakku dengan baby-sitter mereka seorang pengasuh bernama Lina yang mulai kupekerjakan 2 tahun terakhir begitu Yuan masuk TK, aku mengemudikan mobil papa mengunjungi rumah mertua yang biasa dipanggil oleh para cucu dengan sebutan opa Rudi dan oma Laras, nama masing-masing mertua.
Sebelumnya lebih dulu akan kujelaskan, rumah papa-mama satu kompleks perumahan dengan rumah milikku, hanya beda 1 gang. Untuk mencapai keberadaan rumahku harus melewati keberadaan rumah papa tanpa ada alternatif jalan lain.
Yuanita dan si kembar menghabiskan banyak waktu di rumah kakeknya ketimbang di rumahku, seperti itulah proses tumbuh kembang anak-anak yang sejak lahir tak pernah membutuhkan kehadiran pengasuh.
__ADS_1
Mama dan papa adalah pengasuh kandung terbaik yang pernah ada di muka bumi ini. Pengasuh sejati bagi cucu kesayangan mereka.
Adapun Yuanita serta si kembar adalah cucu pertama-kedua-ketiga opa Rudi dan oma Laras dan sudah barang tentu baru ada mereka bertiga saja sebagai cucu mereka.
Dan ketiganya sebagai pula cucu mama-papa.
Cucu ke enam-tujuh-delapan orangtuaku yang sudah lebih dulu mendapat 2 cucu dari anak kakak tertuaku. 3 cucu lain dari abangku.
Dan aku adalah adik bungsu mereka berdua.
Kakak serta suami dan anak-anaknya tinggal di Surabaya.
Sementara abang dan keluarga kecilnya tinggal di Singapura.
Jadi bisa dikatakan papa dan mama selama ini, selama tinggal di Jakarta ini, hanya 'lebih dekat' denganku dan keluarga kecilku ini.
Masih belum bisa dipastikan di pertemuan keluarga kami ini nanti akan dihadiri oleh siapa-siapa saja, dari sanak famili ke 2 keluarga besar kami.
Selanjutnya, rumah orangtua Ranti-Safira... Rumah mereka yang sedang dalam perjalanan kami tuju ini berjarak cukup lumayan, sejauh 1 1/2 jam perjalanan bermobil dari rumah kami.
Rumah opa Rudi yang besar dan luas berlantai 2.
Beliau memang benar seorang mantan model profesional di era remajanya tahun 70an, dan sekarang memiliki kesibukan berbisnis kuliner dan juga cinderamata di beberapa tempat wilayah Jakarta dan Bali.
Sedangkan sang istri oma Laras adalah seorang pensiunan pegawai BUMN.
Di rumah ini masih ditinggali lengkap yakni mereka berdua dan keempat adik iparku, seorang pembantu, seorang supir keluarga dan seorang tukang kebun yang mengurusi kebun bunga milik oma di belakang rumah sana.
Selama ini bila sedang datang berkunjung, si kembar akan memilih bermain di kamar Safira karena hanya kamar gadis itu yang berada dilantai bawah, berikut kamar tidur mertuaku dan kamar pembantu. Kamar tidur Lidia, Evita dan Alfonso berada di lantai atas.
Hari Sabtu dan Minggu seperti di Sabtu ini, Safira yang bekerja sebagai Teller sebuah Bank swasta mendapat hari libur penuh pada hari Minggu. Kadang di hari Sabtu masuk kerja juga, tapi 1/2 hari kerja saja.
Di Sabtu sekarang ini rupanya dia sedang libur kerja penuh.
Dia itulah seperti biasa yang paling rajin menyambut di setiap kami datang.
Seperti saat ini muncul bersama oma Laras, menyambut mobil kami yang memasuki halaman rumah mereka. Begitu anak-anak turun lebih dulu dari dalam mobil bersama Lina, Safira langsung meraih Rian ke dalam gendongannya, tapi menuntun Restu berjalan di sampingnya. Menaiki 3 anak tangga teras, menanti dengan sabar Restu meniti tiap undakan secara berhati-hati.
Selalunya seperti itu, Rian masuk dalam gendongan Safira. Karena kondisi Rian yang bertubuh lebih kecil dan ringkih dibanding adiknya.
__ADS_1
Dengan kondisi Rian yang sebenarnya memang mudah sakit-sakitan, membuat semua orang lebih condong berperhatian lebih pada kondisi dirinya yang dipandang lemah...