
Cukup menangkap kedalaman makna kata-kataku ini, Evita sumringah pura-pura mengabaikannya dengan malah melontarkan pertanyaan unik,
"Kacamata bang Hari minus atau plus?" Evita menunjuk sekilas kearah frame hitam sedangku pada wajah.
Pengalihan tema pembicaraan? Oke.
"Minus." Jawabku mencoba mengikuti dulu pengalihan ini. Evita manggut-manggut.
"Minus berapa?" Tanyanya lagi.
"Silinder 2." Keharuman parfum bayi dipenciuman ini bikin aku teringat aroma bedak Yuan semasih dia balita dulu.
"Ooo...kalau dibuka, apa bisa melihatku jelas dalam jarak segini?"
"Kira-kira kejelasannya 70% saja."
"Ooo..."
"Kau mau coba lihat pakai ini?"
"Tidak lah. Nanti bisa jadi minus sungguhan."
"Memang. Mm, apa kau sedang berminat ingin tanya jawab denganku sekarang?"
"Apaa bang Hari minat juga?"
"Boleh. Ayo kita lakukan saja. Jadi siapa sekarang yang mau memulainya?"
"Sambil menjawab disusul balik bertanya?"
"Oke. Kau mau memulai duluan?"
"Bang Hari saja duluan."
"Hokeh. Pertanyaan tanpa batasan alias apa saja, setuju?"
"Setuju."
"Sip. Aku yang mulai. Kalau kau tidak bisa atau tidak mau menjawab 1 pertanyaanku, hukuman untukmu aku akan terus bertanya pertanyaan lain sampai kau bisa menjawabnya. Bagaimana?"
Evita sudah langsung bisa tau kalau aku sedang mencoba merancang pertanyaan jahil menjebak untuknya lewat caraku menyenyuminya penuh arti. Ia pun menertawai itu sesaat.
Aku menyenyumi sambil meraih telapak tangan kirinya, menyatukan dalam genggamanku disertai tatapan merunduk sekilas gadis ini kearah itu.
Terasa menyamankan perasaan merasakan bentuk jemari dan kulit lembut gadis ini melebur dalam tangkupan tanganku.
Hampir 2 bulan lalu kenyamanan ini belum menjadi miliku. Kadang terpikirkan juga di akhir-akhir ini, kenapa bisa sedemikian cepat kami berdua tau-tau saja sudah semakin dekat? Dengan begitu mudah, lancar, tanpa masalah berarti apapun.
"Oke deh. Begitu saja." Sahut Evita menyela pemikiran selintasku tentangnya.
Sambil mengangguk-anggukkan kepala sengaja kupusatkan perhatian sejenak menunduk kebawahnya, dengan ia mengikuti melihat kemana pandanganku mengarah.
__ADS_1
Segera menyadari kemungkinan aku hendak mengajukan pertanyaan jahil atau neko-neko sekadar menggoda, ia pun pasang ekspresi berlagak waspada namun dalam sikap jenaka,
"Seluruh bagian tubuhmu ini sudah bisa kutebak berapa saja ukurannya tapi yang mau kutanyakan, apa kau sangat menyukai mengenakan kaus ketat seketat yang sedang kulihat ini?"
Maka tak ayal ekspresi waspada Evita pecah menjadi tawa. Kunikmati itu sambil meremas lembut telapaknya dalam genggamanku.
"Pertanyaan kedua saja." Senyumnya kemudian.
Aku balas senyum,
"Oke. Berarti kau tidak mau menjawab."
"Habisnya pertanyaannyaa..."
"Jadi?"
"Iya, aku suka pakai kaus ketat. Kalau sedang bepergian keluar rumah."
"Okeee...paham "
"Artinya sekarang giliranku bertanya. Aku sudah mau juga menjawab pertanyaan bang Hari tadi."
"Oke, tanyalah."
"Apa aku masih boleh terus bekerja? Maksudku setelaah..."
"Boleh. Tak kan kularang. Apa kau masih ingin terus bekerja biarpun nanti kau sudah berstat --"
"Mauku begitu. Tapi lihat nanti saja. Apa aku masih boleh terus aktif disemua kegiatan aktivitasku?"
"Ooohh... senangnya."
"Kau masih punya hak, Evita, melakukan apapun yang kau inginkan dalam hal hobi, kesenangan terutama kegiatan sosial itu. Lakukan apapun yang kau ingin lakukan dengannya asal, kau yakin kau akan selalu bisa membagi waktumu dengan baik.
Karena kurasa aku menyukaimu, juga karena kulihat kau begitu menjiwai apapun yang kau sukai. Aku menyukaimu yang seperti itu.
Awalnya kupikir aku tidak cukup suka pada semua hal itu.
Sifat dan perilakumu, kebiasaan-kebiasaanmu sepanjang yang kutau, bahkan kepribadianmu yang dimataku lain daripada yang lain... kuanggap kau bukan tipeku."
"Bang Harii..."
"Aku keliru. Ternyata aku menyukai seorang Evita yang selalu sibuk sendiri dengan dunianya.
Aku menyukai Evita yang begitu percaya diri ber-moge. Aku menyukai kau yang cantik, kau yang mau menerimaku, kau yang tak mau aku mengganti pilihanku pada yang lain...aku suka kesemuanya itu dan semakin hari semakin menyukainya."
"Oh ya ampun..."
"Kau tau Evita, mata dan pikiranku sudah menutup pada yang lain. Aku tidak menginginkan yang lain, hanya kau saja yang kuinginkan. Aku bersumpah hanya kau saja."
"Trima kasihh..."
__ADS_1
"Seberapa suka kau padaku?"
"Ha?"
"Safira, Lidia dan kauu...diam-diam kalian bertiga kompak sama-sama menyukaiku. Jadi jujur, menyukai dalam konteks apa atau taraf apa dan kalau perasaan menyuka itu sesuai dengan apa yang ada dalam pemikiranku sekarang, seberapa sukanya kau sebenarnya padaku?"
Keberseri-serian sisa pernyataan berterima-kasihnya barusan serta merta berganti rona wajah tersipu tak tertahankan.
Berarti memang konteks menyukai itu sesuai apa yang sedang terfikirkan dalam benakku sekarang. Evita memahami apa maksud dibalik kata-kataku.
Dicobanya menoleh kearah berlawanan menghindari tatap pandangku yang bertahan padanya, namun akhirnya ia berpaling lagi juga melihat padaku. Memutuskan untuk memberikanku jawaban.
"Tak terukur." Sesingkat itu saja jawab darinya, namun bagiku, itu terdengar sudah berarti segalanya.
"Tak-ter-u-kur," ulangku mengeja jenaka sambil manggut-manggut tanda mengerti, memandangi Evita sambil mengulas senyum menanggapi ekspresi wajah melembutnya dalam melihati aku, menyusul ia menambahkan dalam nada bersungguh-sungguh mendalam,
"Aku senang dan teramat bahagia...bang Hari lebih memilih aku. Sekali lagi terima kasih, bang Hari sudah mau memilih aku dan kemarin itu begitu sabar 10 hari menunggu jawaban dariku."
Evita menekan lebih erat penuh perasaan telapak kirinya yang menelungkup diatas telapak tangan kanan terbukaku, ditangkup menutup oleh tangan kiri ini.
Pernyataannya, pertanyaanku, jawabannya untuk yang kutanyakan itu dan juga berbagai reaksi manis yang kemudian ia tunjukkan, tepatnya kami berdua tunjukkan...menjadi awal semakin bertemu dan bertautnya kemistri didalam hati kami berdua, tanpa dapat dicegah lagi...
Sangat menggetarkan hati. Ini akan menjadi kenangan terindah tersendiri bagiku. Dan tak mengapa bila hanya aku saja yang dapat memaknai keindahannya.
Lama menyengajakan diri saling berdiam tanpa suara, dengan telapak dan jemari masih bergenggaman erat, suatu saat Evita menarik nafas dan menghembuskannya perlahan diikuti tatapanku memperhatikannya melakukan itu.
"Sebelum terlupa..." ia berucap lalu berhenti sebentar, melihatku penuh harap,
"Hm?"
"...aku tidak mau ada perbandingan antara aku dengan kakak, atau aku dengan siapapun yang lain.
Jangan pernah membanding-bandingkan aku terutama dengan kak Ranti. Dalam hal apapun. Aku ya aku. Dia ya dia. Harus selalu seperti itu."
"Ohh... Oke. Beres. Promise. Aku janji akan selalu mengingat pesanmu yang satu ini."
"Trima kasih lagi. Dan bang Hari, abang mau aku ganti menjanjikan juga? Apa yang abang mau aku janjikan untuk abang?"
"Mm...apa ya kira-kira?"
"Pikirkan. Katakan. Dan nanti lihat apa aku memang bisa menjanjikannya untuk abang, atau tidak."
"Hmm...sepertinya masih belum ada clue. Belum ada petunjuk. Bagaimana kalau kau berikan aku waktu dulu untuk memikirkannya?"
"Boleh. Oke. Silahkan."
"Tidak dihari ini. Nanti kapan-kapan aku mengajukannya."
"Oo begitu. Oke kalau begitu."
"Masih ada lagi yang lain yang ingin kau tambahkan?"
__ADS_1
"Ngg...sepertinya tidak ada lagi. Tapi biar kucoba pikir sebentar."
"Ok. Take your time."