MENIKAH TURUN RANJANG?

MENIKAH TURUN RANJANG?
7. Butuh Waktu Pikir-Pikir Duluuu?


__ADS_3

Kesimpulanku lainnya adalah, Evita lama tidak punya pacar dan hingga ke detik ini, belum pernah kudengar 1 info pun menyebut gadis itu sedang menjalin hubungan berpacaran dengan seorang pria.


Selama 12 tahun lebih mengenal baik Evita maupun seorang Safira, setauku aku belum pernah 1x pun mendengar kabar tentang kedua gadis itu pernah berpacaran...


Keduanya masih sebagai gadis yang murni.


Dan kini...secara kilat, lewat pertimbangan singkat, aku membulatkan tekad mengambil keputusan akhir.


Kupilih Evita untuk memasuki lembaran baru kehidupanku bersama dengan seorang wanita.


Menutup lembaran lama jalinan percintaanku dengan Ranti yang hanya sanggup hidup menikah selama 5 tahun saja dengannya, dan sudah 4 tahun ini kami berdua berakhir untuk selamanya.


Aku telah menetapkan pilihan pada Evita, semua orang di pertemuan tak terkecuali gadis itu merasa terkejut mendengarnya.


"Kenapa malah jadinya ke aku? Bukannya selama ini Safira yang mau kalian jodohkan dengan...bang Hari."


Saat itu juga selesai Lidia sama terkejutnya, akhirnya memahami apa yang sedang terjadi, aku memberi penjelasan di depan semua orang namun perhatian lurus kutujukan hanya pada Evita saja nun jauh di seberang sana.


Gadis itu memberi penolakan dengan menggeleng-geleng saja sambil mengernyit, saat sang ibu menyuruh datang mendekat duduk di sofa.


Dalam hati aku sudah ingin menyenyuminya, kalau hanya tinggal kami berdua, sangat rela aku yang berpindah duduk ke dekatnya.


Mendadak sekali di hari itu merasa begitu inginnya memulai berdekatan dengan Evita...


Sebuah perasaan baru. Keinginan baru.


Mungkin karena tergelitik perasaan sesudah menemukan sosok profil Evita seperti terlihat di pagi jam 10 tadi, sebelum pertemuan benar-benar dimulai jam 2 sore, sesudah acara makan siang dan beberapa famili turut datang menghadiri.


Apalagi sesudah aku berhasil menghimpun nyali mengemukakan apa yang kuinginkan di depan 2 pihak keluarga, keinginan baru itu pun terus bertambah kuat.


Pada jeda diantara waktu jam 10 pagi ke jam 2 sore, aku tak banyak bicara. Tepatnya semua orang dari ke 2 belah pihak keluarga menahan diri untuk tak banyak bicara, utamanya menyinggung pada tema inti pertemuan.


Safira menghilang bersama anak-anakku ke lantai atas, lama di atas.


Evita? Pamit pergi lagi setelah 1/2 jam tiba di rumah dari Depok, entah pergi ke mana bersama motor besarnya dan baru muncul saat makan siang telah dimulai.

__ADS_1


Menolak ikut makan siang, ia memilih menghilang ke kamarnya. Begitu pembicaraan telah dimulai secara resmi barulah ia muncul kebawah.


Meski sudah berganti penampilan ke stelan pakaian rumah sederhana, gadis itu tetap masuk ke dalam perhatian dan penilaian diam-diamku...


"Kau masih punya hak untuk menolakku, Evita... Kalau memang kau tidak bersedia, silahkan tolak saja. Tapi kalau bersedia...aku katakan sekarang ini juga kalau aku tidak akan berlama-lama untuk melamar lalu menikahimu."


"Iyyaa, tapi kenapaa... kenapa aku yangg... bang Hari pilih --"


Kata-kata dibiarkan gadis itu berakhir mengambang karena perlahan ia pun menyadarinya...ia telah menyingkirkan sikap dan ekspresi dingin itu lewat caranya menyahutiku ; menekan nada suara, menyamai cara berucapku yang kulemah-lembutkan. Atauu, tersungkankan dan jadi malu hati sendiri demi menyadari apa inti kata-kata pada kalimat terakhirku?


Intens ketegangan berkurang, setiap orang tentu saja sangat bisa menemukan perubahan Evita tersebut.


Secara fisik, aku sudah mulai hafal seperti apa sosok Evita.


Secara di diri-pribadi gadis itu...meski setelah sekian belas tahun barulah di hari itu aku punya kesempatan lebih dari 1 jam berada 'di dekatnya', sudah bisa kusimpulkan di hari itu juga, tidaak, dia tidak benar-benar sedingin dan sekeras apa yang sempat ia coba tunjukkan ke semua orang di hari itu.


"Kenapa? Tidak kenapa-kenapa kurasa. Aku hanya menurutkan kata hati. Kata hatiku menuntun pemikiran dan bicaraku memilih dirimu. Begitu saja."


Begitu saja.


Seluruh anggota keluarga kami yang hadir telah mendengar alasan yang kupaparkan. Tidak kutemukan lagi tanda-tanda ekspresi pertentangan.


Sama halnya dengan Safira, gadis itu sudah bisa menghela nafas panjang sebelum tersenyum lalu menyuarakan kata-kata semanis senyumannya,


"Aku setuju. Kalau bang Hari lebih memilih kak Evi, aku sangat setuju... Aku malah senang bang Hari memilih kak Evi daripada aku, karena aku sendiri tak suka menikah dengan seseorang tapi dengan melangkahi salah satu kakakku. Atau mungkin melangkahi kedua kakakku kalau bang Hari menginginkan pernikahannya dilakukan lebih dulu, sebelum kakak Lidia menikah. Seperti tadi kata abang, tidak akan berlama-lama lagi untuk menikah..."


Sunyi senyap sesaat sebelum Evita bersuara menyela.


"Aku butuh waktu untuk pikir-pikir dulu. Bukan berarti aku mengiyakan atau menolak, pokoknya aku mau diberi waktu untuk pikir-pikir dulu. Itupun...kalau ayah, ibu serta mama-papa bang Hari sama setujunya dengan Safira."


Kejutan demi kejutan belum akan segera berakhir...


Secara mengejutkan ayah Evita dan Safira menanggapi lebih dulu,


"Ayah sama dengan Safira. Setuju 101 %."

__ADS_1


Wahh...angin segar buatku. Setelah wajah-wajah yang sebelumnya tadi seolah menentang?


"Oma setuju. Biar Evita saja yang menikah duluan. Ibu nggak tahan liat anak ibu yang satu itu bawa-bawa motor gede seperti tadi pagi. Habis itu apa? Bawa motor balap? Mobil balap? Ya sudah lebih baik segera kawin saja, ngurus rumah-tangga, ngurus anak dan suami!"


Gelak tawa pun pecah.


Semburat memerah meronai pipi Evita saat gadis itu berkilah beralasan,


"Itu motor pinjaman teman, bu. Cuma motor pinjaman karena motorku lagi rusak dan masuk bengkel... Lagian, memangnya kenapa sih kalau anak perempuan ibu sampai punya kesukaan di motor atau mobil balap?"


Lidia tak mau ketinggalan buka suara,


"Aku juga setuju. Meskipun kalau kulihat secara kasat mata, Evita nggak gitu meyakinkan bisa sukses jadi ibu rumah-tangga yang ngga akan nyeleneh atau macem-macem, tapi selama pendampingnya seorang pria seperti bang Hari, udah deh, kita percayakan saja dia ke bang Hari. Beres."


Kembali tawa ramai terdengar. Aku mesam-mesem, senyum dikulum.


Dan Evita? Aku sedang belum berani lagi melihat padanya.


"Mama Alin setuju juga." Mamaku mengangkat 1 tangannya. 


Woahh...siapa tadi yang sempat mengecamku?


"Papa sebenarnya setuju ngga setuju. Papa cuma bisa setuju 50% karena papa dari awal lebih memilih ke nak Safira..."


Nah, ini yang menjadi kejutan tak kusangka.


"Pah," mama menggamit lengan papa, "Memangnya kenapa?"


"Sama seperti yang tadi Hari katakan, kata hati. Kata hati papa bilangnya begitu. Tidak setuju."


"Kami bisa mengerti, besan." Oma Laras memberi tanggapan, "Memang dari awal diskusi antar kita sesama para orangtua ini, besan lebih antusias membahasnya tapi antusiasnya besan lebih karena putri kami Safira yang kita mau coba jodohkan dengan nak Hari."


"Iya besan, begitulah. Tapi ya sudah, ngga usah terlalu kita fikirkan. Yang penting papa setuju walau harus papa bilang setujunya papa ini hanya berlevel 50%."


###############

__ADS_1


__ADS_2