
Papa sempat menilai anak itu seolah tidak memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi...
Tapi ya sudahlah, kita lihat saja nanti akan seperti apa dia begitu sudah resmi menikah denganmu dan menjadi istrimu. Semoga saja kalian berdua kelak akhirnya bisa saling mencintai.
Kita percayakan saja semuanya ke tangan anak itu, calon ibu sambung ke-3 anak-anakmu."
Yuanita dan kedua adik kembarnya masih terlalu kecil untuk bisa lebih memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi diantara aku dengan Evita.
Yuan memang mengerti apa arti kata ibu tiri dan dia sudah menyatakan menyukai calon ibu tirinya adalah tante Evitanya sendiri.
Tapi si kembar masih 4 tahun, jadi aku samakan saja penerimaan mereka ber-2 seperti sang kakak karena begitu Yuan menjelaskan pada adik-adiknya secara bahasa kanak-kanak mereka, kedua adiknya bisa memahami. Mereka berdua menyatakan secara polos bahwa mereka juga menyukai yang sang kakak sukai, yaitu tentang penerimaan sang kakak terhadap calon ibu sambung mereka, tante Evita.
Wajah-wajah mereka bertiga tidak lantas menjadi bersedih atau murung, itu sudah kuanggap lebih dari cukup untuk di saat ini.
Dalam hal rencana menerima kehadiran Evita ketengah mereka ini, aku hanya berharap apa yang dikatakan oma Laras tepat bahwa anak-anak kecil seusia mereka masih akan lebih mudah diatur.
Dan di sinilah kami sekarang, sedang bersama-sama berada di sekeliling pusara Ranti. Calon ibu sambung bersama calon anak-anak sambung. Memanjatkan doa, dengan Evita di apit si kembar dan Yuan. Safira di sisi lain makam bersama suster Lina, om Simon dan istri. Dan aku berposisi di kaki makam...
Permohonan restu telah disampaikan. Bunga beraneka rupa ditaburkan, disusul prosesi penyiraman air kembang dan panjatan doa-doa. Maka selesailah sudah acara ritual sakral menziarahi makam Ranti ini.
Waktunya kembali ke kehidupan kami di Jakarta...
Check-out hotel masih tersisa 3 jam, aku menitipkan anak-anak pada Safira dan pengasuh mereka lalu mengajak Evita keluar hotel sebentar, bermaksud mengajak bicara lagi gadis ini. Melanjutkan pembicaraan yang memang sudah mulai kami lakukan berupa pembicaraan formal melibatkan pihak keluarga, maupun non formal yakni antara kami berdua saja.
Walau pada kenyataannya sejak hari Evita menyatakan menerimaku sekitar 2 minggu yang lalu hingga dihari ini, baru 2x saja aku memiliki kesempatan ketemuan lagi dan berbicara langsung 4 mata dengan Evita.
Kesibukan dalam pekerjaanku ditambah beberapa aktivitas Evita diluar hari kerja yang belum ingin ia liburkan sejak di 2 minggu lalu itu, tidak memungkinkan bagi kami untuk membuat banyak janji temu.
Alhasil, perkembangan pembicaraan kami sebenarnya masih begitu-begitu saja.
__ADS_1
Belum lagi ketatnya pelarangan papa dan mama agar aku tidak sering-sering mendatangi rumah oma Laras, inipun membawa 'pengaruh' membatasi gerakku. Hehehe...
Jadi saat ini selagi diberi kesempatan, aku bermaksud mengajak bicara Evita setidaknya membahas beberapa hal yang belum sempat terbahaskan sebelumnya. Lagipula, toh memang sudah waktunya bagi kami berdua untuk makin saling mendekatkan diri dan hati, jadi kurasa sah saja kalau aku kemudian mencuri waktu sebentar ingin berdua-duaan dengan calonku.
Memang faktanya kami sudah saling mengenal selama 12 tahun, tapi bisa dikatakan pada dasarnya aku belum benar-benar semengenal itu diri dan pribadi seorang Evita. Begitupun sebaliknya, dia terhadapku.
Apalah yang bisa kami saling ketahui bila selama ini kesibukan dalam rumah tangga masing-masing tidak memungkinkan bagi kami untuk bisa bertemu sesering mungkin meski notabene kami semua tinggal di 1 kota yang sama?
Ditambah seperti yang sudah diketahui bahwa seorang Evita selama ini selalunya hanya menyibukkan diri dengan dunianya sendiri...
"Masa sih aku ini dinilai seperti itu?"
Evita spontan terkesan memprotes begitu dirinya kudeskripsikan seperti sebutan tadi itu.
"Kau selama ini tidak merasa seperti itu?"
Dalam tampilan terbaru lain ini didepan mataku, ia berhasil membuat imajinasiku berkelayapan kemana-mana dalam membayangkan...
Bagaimana tidak?
Ia sekali lagi mengenakan kaus ketat itu, meski bermodel lain dari yang pernah dikenakannya saat ber-moge tempo hari.
Kaus Turtle-neck ketat putih lengan panjang berbahan rajut, dengan 2 mangkuk disebaliknya yang tak cukup tersamarkan pada bentuk. Berpadu bawahan rok jins biru muda pudar sepanjang bawah lutut, hingga sangat jelas memamerkan tungkai-tungkai jenjang indah nan eksotis - karena Evita memiliki jenis warna kulit seperti kulit yang dimiliki penyanyi Indonesia Shanty - jadi, apa lagi yang bisa diperbuat oleh imajinasi seorang pria sepertiku kalau bukan memgarahkan pikiran ke... membayangkan yang tidak-tidak?
Belum lagi harum lembut parfum bayi, rambut ikal tergerai lemas sebahu berwarna kecoklatan Coffee Brown, anting berbentuk bulan sabit perak dikedua daun telinga...ouchh, aku sudah yakin 101% didalam hati, Evita pastilah disaat ini memang menyengajakan diri tampil seperti ini sekadar untuk menggoda hasrat kelaki-lakianku. Mencoba memancing perhatianku.
Dan seperti yang sudah kukatakan tadi, ia berhasil.
Imajinasiku sudah berkeliaran liar kemana-mana bahkan sejak beberapa belas menit lalu aku menjemputnya ke kamar hotel bagiannya pada seberang kamarku. Aku...jadi sangat sulit untuk menahan diri dan pemikiran.
__ADS_1
"Tidak. Biasa-biasa saja. Kurasa aku sama saja seperti Safira atau kak Lidia."
Tidak, my pretty woman, kau sangat tidak sama dengan mereka.
Dan bolehkah aku melabuhkan pandang berlama-lama pada bibir, dada dan perut rata indahmu itu?
Demi untuk menjunjung tinggi nilai norma susila dan reputasi sebagai pria baik-baik yang selama 37 tahun ini telah kusandang tanpa cela, aku bahkan sok gengsi tak pernah mau menuntunkan pandanganku menikmati ke 3 bagian indah terbuka Evita itu.
Berlagak mengabaikan mereka saja, padahal...
Padahal aku sedang butuh untuk menikmatinya.
"Jujur kau tidak sama dengan mereka. Tidak ada kemiripanmu dengan mereka. Maaf kalau kukatakan bahwa kau itu... lain sendiri. Beda sendiri."
"Astaga...yang benar saja."
Evita sudah tau sekarang. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak merasa sebal. Ia sebal. Ia tak terima disebut lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri. Yang mungkin ini menjadi penyebab kakaknya Lidia menyebutnya Nyeleneh, Macam Macam, meragukan kemampuan Evita untuk menjadi seorang ibu yang baik.
Tapi sepertinya Evita tidak 'ngeh kalau orang-orang disekitarnya selama ini menilainya dengan penilaian tidak cukup enak ia dengar ditelinga.
"Tak perlu kau ambil hati, Evita." hiburku, mencoba meraih jemari tangan gadis itu diatas meja namun gadis itu memundurkan tangan, menolak kupegang. Tanpa menarik pulang tanganku, kubiarkan ujung jemari kananku tetap berada ditempat telapak Evita tadi berada sebelum kini gadis itu bersidekap, menyahut pada kata-kataku barusan,
"Memang tidak akan. Aku tau siapa diriku. Diriku sendiri yang lebih tau siapa aku ini. Aku menganggap diriku biasa--biasa saja. Baik--baik saja. Sama saja seperti Safira atau kak Lidia..."
Sekadar untuk mengalihkan perasaan, Evita memilih menghibur dirinya sendiri dengan mengatakan kalimat itu.
Seharusnya Evita tak boleh bersidekap...
"Baiklah-baiklah. Tak usah lagi kita bahas."
__ADS_1