
###############
'Pakeet...'
Pas benar, kebetulan aku sedang berada didapur dan Evita dihalaman depan menyiram tanaman. Jadi dialah yang menerima kedatangan si kurir paket, mengantar 'kado pernikahan' dari Irfan. Sesuai pesanku pada pria itu, cukup memakai jasa kurir biasa saja untuk mengurangi kecurigaan.
Dan itu pasti paket dari Irfan, waktunya sudah cocok dengan sms pemberitauan darinya. Lantas aku tersenyum sendirian begitu mendengar suara istriku berkata seolah membenarkan apa yang kuduga, sambil ia berjalan memasuki ruang makan,
"Bang, ada paket untuk abang. Darii...namanya Irfan Mahardika. Abang kenal?"
Tepat
Sambil melangkah pelan-pelan mengaduk kopi dalam mug dipegangan, kuhampiri istriku, berdiri kesamping kanannya. Sebentuk kotak paket selebar dus helm berbalut plastik warna hitam sudah diletakkan diatas meja.
"Irfan salah satu partnerku di Biro. Mungkin kado pernikahan dari dia buat kita. Seingatku kemarin dia tidak bawa kado ke resepsi...," Tanggapku. Sehari setelah pernikahan, aku dan Evita berduaan membongkar-bongkar kado dan memang tidak mendapati ada kado dari Irfan. Jadi aku tak ada masalah menyuruh pria itu mengkadoi aku dan istriku isi paket ini. "Bukalah, Vit." Kataku kemudian, berlagak serius mengawasi istriku mengangkat dus itu lagi, meneliti dengan membolak balik sebelum meletakkannya. Tidak terlalu berat, tentu saja aku tau.
"Oke. Aku buka." Evita menurut. Segera menuju dapur mengambil gunting lalu kembali lagi dengan benda itu ditangan.
Diam-diam aku menyenyumi istriku yang tentu tanpa curiga kini kedua tangannya cekatan mengguntingi plastik pembungkus dus...
Sebuah kotak lain berupa kado persegi bersampul indah pink pun muncul kepermukaan, begitu istriku selesai menyingkirkan pembungkus paket dan langsung tertawa singkat melihatnya.
Senang melihat sampulnya yang cantik. Apalagi isinya, pasti lebih cantik lagi, mungkin demikian istriku membathin.
Senyumku tambah lebar begitu Evita berpaling melihatku, mengangkat alis minta persetujuanku untuk membukai lagi, "Ya, bukalah." Anggukku. Lalu menyeruput kopiku dalam-dalam.
Saat istriku balas mengangguk dan mulai membukai kadonya diatas permukaan meja, hati-hati kuhela nafas panjang.
It's show time, sepertinya. Sudah dimulai dengan sendirinya. Dann...
"Astaga, apa ini?" Kardus kado sangat tebal sehingga tidak memberi petunjuk bagi Evita tentang benda apa kira-kira isi didalamnya semasih ia mempreteli pembungkusnya.
Begitu terpampang didepan mata apa isi kado itu, ia pun serta merta mengernyit bingung, mengangkat ke 2 benda berupa botol berbentuk tak kalah mewah dari dalam kotak, diperlihatkannya kehadapanku.
Aku jelas wajib terlihat surprise. Maka aku berlagak surprise. Pura-pura membelalak tak percaya,
"Gila. Tequila!" Seruku sambil melihat sekilas pada Evita.
"Tequila, bang?" Ulang istriku, bergantian melihati aku dan kekedua botol ditangan.
__ADS_1
"Iya, aku sering dijamu yang beginian di acara undangan klien. Lihat ini, ini tulisannya. Apa kau pernah meminum ini?"
Sering? Oh Hari...hati-hati terjebak bualanmu itu. Perhatikan kata-katamu. Oke?
Oke.
"Melihatnya saja baru kali ini." Sahut Evita masih berekspresi berhias kernyit.
Aha. Sepertinya masih rejekiku.
Kuletakkan mug ke meja. 1 botol kuraih dari pegangan istriku, sisanya diberdirikannya keatas meja.
"Mungkin semacam minuman Sampanye perayaan. Sampanye terlalu mahal jadi Irfan memilih ini untuk kita. Ibaratnya ya untuk tanda kita merayakan hari pernikahan kita."
"Ooo..."
"Ini jenis minuman keras, sayang. Minuman mengandung alkohol. Lihat ini, ini namanya, Tequila J*se Cue*vo 18*0 Repos*do. Setauku perbotol harganya sekitar Rp 1.125.000. Jenis Tequila berwarna madu, beraroma manis antara Karamel, Vanila dan Kulit Jeruk. Buatan Perancis.
Tapi aku tetap akan meminumnya. Nanti. Mau tidur. Untuk sekadar menghargai pemberian sahabatku. Kau?"
Gawat kalau Evita menggeleng. Langsung saja kandas rencanaku sebelum dimulai. Deg-degan juga melihat dia berpikir bolak balik...
Adapun meminum minuman beralkohol terutama jenis Tequila, dalam jumlah tertentu memang dapat juga meningkatkan dorongan sek*ual.
Meminum jenis minuman beralkohol membuat seseorang kehilangan rasa malu, sehingga cenderung melakukan perilaku beresiko seperti merayu ataupun membiarkan dirinya dirayu.
Karena spesifiknya, minuman jenis ini mengandung anti depresan sehingga membuat orang merasa lebih rileks. Efek ini membuat orang bisa kehilangan rasa canggung, sehingga lebih berani mendekati lawan jenis karena tidak memikirkan lagi resiko penolakan.
Jadi intinya efek alkohol dari meminum Tequila ini, dapat menimbulkan kesan hangat, penuh cinta dan seksi. Seandainya Evita meminum ini minimal 2 sloki dan maksimal 4 sloki, sudah bisa dipastikan, dibayangkan, mau tak mau - suka tidak suka - terima tidak terima, ia akan mengalami semua hal itu tadi.
"Aku belum pernah meminum ini. Maksudku, aku tak pernah minum minuman beralkohol apalagi Tequila." Tangan Evita menerima botol dari sodoran tanganku kehadapannya, setengah merenung menerawang dengan wajah sedikit ditunduk, memandangi si botol Tequila berukuran 750 ml setinggi sekitar 30cm ditangan.
Tak mungkin aku tak menghiraukan benaknya yang mulai menimbang ini. Tapi untuk mencegah ia menerima 'tawaran'ku, itu lebih tak mungkin lagi. Justru sangat berharap istriku akhirnya...mau. Mau meminum Tequila ini bersamaku nanti. Begitu ia mengiyakan, diluar sepengetahuannya aku akan segera menggelar persiapan.
"Minuman beralkohol bisa bikin mabuk. Apaa bang Hari juga sampai mabuk?"
"Pernah 1x. Tapi diawal, pertama kali mengenal Tequila dan meminumnya. Berikutnya mungkin karena makin terbiasa, aku jadi tau seberapa banyak yang harus kuminum tanpa membuatku jadi mabuk."
"Ooo..."
__ADS_1
"Tidak apa, sayang. Biar aku sendirian saja yang minum. Kalau memang kau tak mau, kau cukup minum jus saja sambil menemani aku meminum ini."
Niat sedikit membohongi memang ada. Tapi untuk membuat Evita tertawa, tak ada niat.
Evita tertawa. Merasa geli mendengar tawaran jus itu. Padahal aku teramat tulus dibalik pemaksaan terselubungku, tak apa lah kalau istriku akhirnya lebih memilih pada jus. Sudahlah, makin pasrah saja pada kemungkinan istriku akan menolak Tequilaku.
Namun secara mengejutkan...tak urung dan tak ayal aku dibuat terkejut, Evita mengangguk sambil mengucapkan kalimat terdengar nan keramat bagiku,
"Oke, ayo kita minum."
"Hah?"
"Minum. Tequila ini. Aku akan menemani bang Hari meminumnya. 'Kan untuk perayaan pernikahan kita? Tapi berapa gelas kira kira yang tidak harus membuatku mabuk? Ah, masa bodoh. Aku tak takut mabuk.
Aku belum pernah mabuk, mabuk minuman beralkohol. Tapi selama ada bang Hari menemaniku meminum ini, biarkan aku mabuk. Aku mau mabuk untuk pertama kali. Sekali-sekali. Cari pengalaman. Bang Hari akan terus menjagai aku 'kan, kalau aku kenapa-kenapa?"
"Sayangg...kau tidak sedang becanda 'kan?"
"Kenapa memang?"
"Kau tak pernah mabuuk."
"Tak pernah."
"Iya, kau tak pernah mabuk. Jadi apa kau yakin kali ini mau mab..."
"Yakin. Aku tak mau lihat abang minum sendirian. Akan kutemani."
"Evita, aku tidak menyarankanmu meminum ini, sayang. Pikirkan lagi."
"Koq bang Hari kesannya kayak melarang aku gitu sih? Semakin dilarang justru aku malah makin penasaran, baang."
"Tidaak...aku cuma..."
"Jadi kapan?"
"Ha?"
"Kapan tepatnya kita mau meminum ini?"
__ADS_1
"Ohh..."
Gila sekali kau, Hari. Apa aku tidak sedang bermimpi, atau berkhayal?