MENIKAH TURUN RANJANG?

MENIKAH TURUN RANJANG?
35. Akhirnya Menyerah Kalah


__ADS_3

Berdasarkan penelitian, hanya ada 4 tipe orang mabuk :




Tipe Ernest Hemingways : orang ini adalah seorang penulis cerdas dan intelektual. Ia mengatakan kecerdasannya tidak bisa membuatnya mabuk.




Tipe Marry Poppins : mereka yang bertipe ini saat tidak mabuk sangat menyenangkan dan ketika mabuk tetap menyenangkan. Orang dengan tipe ini cenderung lebih bahagia dan 'manis' ketika di bawah pengaruh alkohol.




Tipe The Nutty Professor : orang dengan tipe ini cenderung mudah mabuk. Meski baru sedikit mengkonsumsi alkohol, kesadaran mereka langsung turun.




Tipe The Mr Hyde : orang tipe ini ketika mabuk jadi bertindak tidak terkontrol. kurang intelektual, mudah bertengkar atau berkelahi dengan orang lain.




Sejak awal, pengetahuan tentang ini pun sudah masuk kedalam persiapanku. Jadi menilik kondisi Evita --


"Bang, apa seperti ini menyesap jeruk lemonnya?"


Lamunanku masih berkutat memikirkan tipe yang mana kemungkinan tipe mabuk istriku, ketika terdengar ia bertanya seperti tadi. Ia sudah menjepitkan rapat sepotong irisan lemon disela bibir, membuat wajahnya sedikit nyengir karena pengaruh asam.


Sudah mau tertawa, aku menyenyuminya saja.


"Ya. Hisaplah. Baru kau minum lagi Tequilanya."


"Abang juga. Kita bersama-sama lagi."


"Oke."


Seiris lemon kuraih dan kuselipkan pada bibir dibawah perhatian pandangan mata tak lepas Evita padaku.


Rona memerah ternyata sudah makin jelas menghiasi parasnya. Ia juga sekilas membelalak untuk menegaskan penglihatan. Saat sloki penuh ketiga kusodorkan padanya, tangannya gemetar mengambil gelas itu.


Nah, koq drastis sekali?


1 detik lalu ia masih terlihat oke. 1 detik kemudian mendadak sekali ia menyeringai berlebihan oleh asam si lemon, dengan terkekeh pelan.


"Ayo, bersama-sama lagi." Katanya dengan masih menyeringai itu, usai meletakkan kembali irisan lemon ke meja.


Ada yang lain sekarang...Evita mendadak jadi tak sebersemangat tadi menghabiskan Tequilanya kali ini. Ini tak luput dari perhatianku. Ia bahkan jalan sendiri, tak menunggu instruksi dariku padahal ia meminta kami bersama-sama lagi meminum sloki ke 3.


Sepertinya dalam hitungan sedetik istriku sudah...


"Ahhh...selesai. 3 sloki. Hahaha...kepalaku koq terasa enteng banget ya sekarang?"


"Vita..."


"Bangg...sepertinya aku..."


Aku terlambat meraih Evita. Ia ambruk kelantai. Slokinya terpental.


"Vita...Evita..." Refleks aku berjongkok bersimpuh kesisi tubuh terkulai tertekuk istriku dilantai. Matanya tertutup. Tak mendengar panggilan beberapa kaliku padanya. Ia pingsan.


Pingsan?


&&&&&-&&&&&


'tak usaaaah...aku tak...mau...pakai bantal...kepalaku jadi...ahh...pusingggh...'


Tepisan tangan Evita pada bantal yang hendak kusurukkan kebawah kepalanya, membuatku urung meneruskan gerakan.

__ADS_1


Tadi ia keburu terbangun dan memberontak dari boponganku diatas kasur, sebelum aku sempat memposisikannya dengan bemar ke tengah, dekat kepala ranjang.


Alhasil Evita kulepaskan dan cuma bisa tergeletak mellintang serong diatas ranjang. Dan nampaknya ia juga sudah tersadarkan dari pingsan 5 menitnya, walau belum sepenuhnya.


"Sayang...kau baik-baik saja?"


Mata istriku masih memejam saat ia mengangguk 2x. "Aku mabukh." Suaranya pelan nyaris dibisikkan. Serak.


Umumnya orang mabuk lain akan menyeletuk menyangkal tanpa sadar 'aku tidak mabuk!', Evita diantara kehilangan setengah kesadarannya justru mengakui tulus dirinya sudah mabuk.


Mau tak mau aku pun menyenyuminya. How sweet.


"Kau mau minum obat sakit kepala?"


"Minum..."


"Ini..."


Benar-benar terlihat kepayahan. Titik airmatapun bergulir dari sudut mata Evita. Mendadak tangannya menampar botol air mineral yang bibir botolnya sudah kusentuhkan ke sela bibir terkatup Evita.


Dengan dahi berkerut dan mata masih terpejam, disilangkannya lengan kiri kewajah, menutupi salah satu mata. Lalu terdiam. Mungkin sedang menenangkan diri sendiri sebentar. Tapi yang jelas, Evita memang sudah dan sedang mabuk berat.


Dan efek samping berupa pusing ini, terlalu cepat datang.


Permukaan bibir itu nampak mulai mengering memucat. Keseluruhan wajahnya memucat.


Signifikan. Proses mabuknya terjadi signifikan. Beberapa menit lalu ia mantap dan memang sudah terkesan eforia memperlakukanku, lalu sedetik kemudian ia tak sadarkan diri. Cuma butuh 5 menit baginya untuk kembali 'tersadar'.


Aku tidak tau apa aku mesti khawatir atau tidak melihat kondisinya ini. Aku sendiri masih terjaga, hanya sedikit kliyengan tapi selebihnya aku baik-baik saja. Baru saja menghabiskan 1 botol penuh air mineral 600ml. Untuk menetralkan alkohol.


Mungkin pusing bagianku yang murni sebagai efek samping, akan kurasakan saat aku sudah tidur nanti lalu bangun di esok hari.


Dan sepertinya, Evita menyerah di sloki Tequila ke 3.


Sama, sama seperti aku di puncak gunung dulu bersama pacar SMA ku. Dia bahkan hanya sanggup bertahan di gelas terakhirnya yakni gelas ke 2. Aku di gelas ke 3. Aku sudah yakin sekarang tentang ini.


Membiarkan istriku sejenak dalam diam adalah solusi terbaik. Karena aku sendiripun tidak tau harus bagaimana atau berbuat apa. Aku belum pernah mengurusi Evita yang mabuk atau pingsan.


"Bang Hariii...pusiiinggh.."


"Ini, sudah kusediakan obat sakit kepala. Minumlah."


"Tidak mau."


"Kau maunya apa?"


"Tidur."


"Tidurlah."


"Peluk aku..."


"Oh. Oke. Kau mau aku membetulkan tidurmu sebentar? Kau belum di posisi yang benar disini."


"He eh."


Bagian lutut kebawahnya saja masih setengah menggantung ditepi ranjang. Evita mengulurkan kedua tangan, merangkul pada leherku saat kedua tangan ini kusurukkan kebawah sisi kanan kiri tubuhnya. Untuk mengangkatkan tubuh dan memindahkannya keposisi yang benar. Pada tengah ranjang.


Akhirnya, diiringi kernyit tertahan Evita aku berhasil juga memposisikannya dengan benar. Hanya untuk menyadari kalungan kedua tangan istriku pada leherku mendadak ia tarik kehadapan.


Tak mengantisipasi, segera saja aku terhempas keatas dadanya.


"Evita, kenapa..." Kuangkat kepala dan menghadapkan wajah kami. Ia tak menyahut, hanya menatap pada keberadaan mataku. Meski pandangannya kusadari tak fokus melihatiku, Evita berhasil menarik lepas kacamataku lalu memeluki lagi leherku dengan lebih erat, mempertemukan sendiri bibirnya ke bibirku...


Ciumannya dilakukan malas-malasan dengan memejam. Kalungan kedua tangannya pada leher ini terasakan melemah, karena kemudian satu tangan diturunkannya menggapai tepian jubah dengan diikuti pandanganku kesana...ia menyingkapkan tepi jubahnya dan menarik turun kepalaku kesana. Yang tak bisa kutolak, khawatir ia jadi tak terima dan mungkin akan menamparku juga.


&&&&&-&&&&&


Mengutip dari sebuah Laman, faktor eforia orang mabuk :


Ketika dalam kondisi mabuk alkohol, seseorang dianggap berada di ambang kesadaran dan ketidaksadaran. Hal inilah yang membuat orang tersebut mengatakan kejujuran, berperilaku aneh, hingga bertingkah jenaka...


'Undangan bercinta' itu jauh dari unsur manis apalagi romantis. Malah terkesan berputus asa dan dipaksakan oleh karena keadaan kepayahan dirinya.


Diluar dugaanku. Atau sebetulnya ini sudah sesuai dengan perkiraanku.

__ADS_1


Penampakan diriku dihadapan mata Evita tidak mungkin tidak, pastilah mampu memancingnya.


Bagaimana mungkin aku tidak lantas membuatnya terangsang meski ia sedang dalam keadaan di ambang kesadaran dan ketidaksadaran itu?


Wajahku, tubuhku, setiap sentuhan tanganku saat mengurusi mabuknya ini, terhampar didepan matanya. Pasti terasakan olehnya. Mungkin kelembutan dan ketelatenanku ini terbaca alam bawah sadarnya yang kemudian menjadi tersentuh dan terharu menerima perlakuan penuh perhatianku.


"Kau mau aku bagaimana, sayang?"


"Peluk aku."


"Sudah. Sudah sejak tadi. Aku masih memelukmu sekarang. Kau tidak bisa merasakannya? Merasakanku? Kau masih pusing?"


Meneguk air ludah dengan sulit, istriku menoleh kearah wajahku disamping wajahnya. Dengan posisi tubuhku membujur pada sepanjang sisi kanan tubuhnya, bertelekan sikut kiri diatas kasur agar bisa kuangkat kepala dihadapannya, tangan kananku melintang memeluk protektf tubuh atas Evita.


Butuh 5 jam untuk membuat orang mabuk perlahan tersadar. Butuh 18 jam untuk benar-benar terpulihkan dari alkohol.


Saat ini istriku masih dalam pengaruh alkohol.


Efek minuman Tequila galak, sayang. Itu tidak benar-benar biasa-biasa saja. Kalaupun saat ini kau sedang tidak ingat apa-apa dan biasanya orang yang usai mengalami mabuk lalu kembali tersadar, mereka tidak bisa mengingat apa-apa sebelumnya, aku sudah merekam semua ini untukmu...


Dari melihati wajahku, pandangan mata berat Evita mencoba melihat kebawah, menemukan letak tanganku seperti yang kukatakan tadi. Memastikan agar ia semakin merasakan, kupererat rangkulanku padanya. Sekali lagi ia menelan ludah, mencoba bersuara diantara sakit kepalanya.


"Tolong...bukakan ini...sempit."


Kucari kearah mana yang istriku maksud lewat gerakan halus tangan yang sudah ditumpangan ke lenganku.


Oo...simpul berpita pengait pada tepian bawah jubahnya, yang ternyata tertindih lenganku.


Sempit, sayang? Gaun tidurmu tidak sempit tidak longgar. Tindihan lengan kananku lah yang membuatmu merasa sempit.


"Sudah." Kataku usai mengurai ikatan pita itu.


"Lagi." Evita menggumam.


"Lagi?" Ulangku.


"Semua." Sambungnya.


"Semua?" Maksud Evita membukai semua pakaiannya?


"Panaaass..."


"Ohh...Tapi AC menyala, sayang."


"Obat... minum..."


Aduh, yang mana ini mesti kudahulukan? Buka pakaiannya, memberi minum, atau obat dulu?


"Obatmu dulu, Evita?"


"Ya..."


"Ini."


"Sakit menelannyaa..."


"Oke, akan kuhaluskan. Tunggu sebentar."


"Tak usah...sini."


"Bisa?"


"He eh."


"Buka mulutmu..."


Aku, yang sudah duduk bersila disisi berbaring Evita, lalu menopang dan mengangkat sedikit kepala istriku. Obat sakit kepala yang biasa ia minum untunglah bisa mengalir lancar memasuki mulut lalu ditelannya bersama air mineral.


Susah payah ia menghadapi mabuk ini. Efek samping merasakan pusing bahkan langsung dirasakan usai tersadar dari pingsan 5 menitnya.


Mungkin setelah ini ia akan kapok. Itupun kalau ia bisa menyadari kesusahan dan kepayahannya selama mabuk.


Tapi kau sudah bisa puas, bukan, sayang? Sesuai keinginanmu, kau sudah minum sampai mabuk.


Dan aku juga, entah bagaimana, aku merasakan kepuasan tersendiri dengan semua yang sedang terjadi ini.

__ADS_1


__ADS_2