MENIKAH TURUN RANJANG?

MENIKAH TURUN RANJANG?
29. Rencana 2 S/D 4 Sloki Tequila


__ADS_3

Membungkuk sedikit, kubisikkan tanya persis dibalik telinga kanan Evita, "Apa aku perlu meneruskan, atau kau ingin mandi dulu?"


Kutatap istriku masih lewat cermin, pada wajah yang sebenarnya sudah hampir bersih dari riasan. Ia membuka mata malas-malasan, menautkan pandangan kami,


"Mandi. Tunggu aku."


"Oke," Maka kuanggukkan kepala, menyusul mengecup daun telinga Evita, menyahut disana, "Atau kalau kau mau kutemani --"


Ia pun tertawa, "Tak usah. Bang Hari bisa kena rematik kalau bolak-balik kena air ditengah malam begini.... Ah..."


Lebih dulu kuberikan remasan keras itu pada pay*dara Evita hingga membuatnya sekilas mengerang, sebelum kubiarkan ia bangkit berdiri dari kursi.


Begitu keluar dari balik kursi, aku segera menghampiri kehadapannya.


Berdiri tegak berhadapan, aku dan Evita saling pandang, mencari-cari sorot cinta itu dimata lawan.


Kuraih satu tangan Evita, ku genggam pada pergelangan, kudekatkan ke permukaan dadaku...


"Kau istriku sekarang," bisikku padanya.Ia tersenyum. Menganggukkan kepala 1x. "Kemarin kau bukan siapa-siapa, hanya sebagai satu dari 4 adik iparku, tapi sekarang...masih belum bisa kupercaya bahwa kau...sudah menjadi milikku."


Tatapan terarah Evita pada wajah terutama mataku kian melembut.


Tak disangka-sangka, pada permukaan dada telanjangku perlahan kemudian ia membuka dan melebarkan telapak tangannya disana...lalu melakukan usapan.


Usapan yang sama lembut dengan pancaran mata. Mengusap dan mengusap, masih dengan aku memegangi pergelangannya.


Damn, rasanya...tentu saja membuatku melayang. Seluruh tubuhku mengerang. Pertemuan telapak tangan Evita dengan kulit dadaku yang sangat terbuka, pun saat ia menambah gerakan dengan mengangkat satu tangan lain lalu menempatkannya mengalungi ke leherku...


Ia yang memulainya.


Evita maju menutup jarak, merapat, sengaja mempertemukan bukit dadanya dengan permukaan dada bidangku, menyadari betul tarikan nafasku tercekat menerima persentuhan yang ia lakukan ini.


Saat ia menurunkan pandang dari mata ke bibirku, tahulah aku apa yang sedang diinginkannya.


Kumiringkan kepala sedikit untuk mempertemukan bibir kami, akan tetapi ia lah yang lebih dulu dengan segera menyambar bibirku...


Permainan bibirnya hasil dari yang sering kuajarkan. Lumatannya bermain. Pagutannya bermain. Tak ketinggalan lidahnya pun beraksi. Dijelajahkannya lidah didalam mulutku, menelusurkan lidahnya pada lidahku, menautkan dengan penuh gairah. Sebelum kemudian mulutnya merangkum bibirku bagai kelaparan...


Cara mencium yang masih sederhana tanpa keliaran. Tapi aku menyukainya. Aku meresponnya. Menyambut dengan mengimbangi lebih profesional. Pertautan pada kedua lidah kami lah yang sepertinya lebih kami berdua sukai.


Saling menikmati, saling meresapi, tak lupa dibumbui pergesekan dan berbagai efek suara.


"Evita...," bisikku diantara hasrat terbangkitkan dan kegiatan kami. Gairah didalam diri ini sudah meminta penyaluran, "...ayo kita bercinta."


"Tidaak." Tapi Evita malah memberiku jawab tanpa ampun, "Aku tak mau."


"Tidak akan menjijikkan, sayang. Percayalah. Justru akan sangat indah dan bisa membuatmu merasa terkesan. Ketagihan."

__ADS_1


"No."


###############


'kau mau aku mengirimkan itu untukmu menggunakan namaku? ribet amat, har. knapa tidak langsung saja kau paketkan olehmu sendiri?'


"Ngga bisa, Fan. Supaya lebih terkesan resmi, aku maunya barang itu terkirim dari seseorang, entah klien entah teman sepekerjaanku. Supaya kalau dia yang menerima dia tak perlu jadi curiga.


Ya sudah, jadi pura-pura saja kau yang mengirim.


Bubuhkan nama dan alamatmu lengkap. Nanti kupaketkan barang itu kerumahmu, lalu minta tolong kau paketkan lagi itu ke alamat rumahku.


Jangan lupa kau isikan kartu ucapan didalamnya. Pakai gaya bahasamu sendiri saja. Dan ingat! Safira tak boleh sampai tau."


'okelah kalau begitu, beres beres. paham. walau aku masih penasaran kenapa kau butuh 2 botol Tequila padahal 3 sloki minuman itu saja sudah bisa bikin orang mabuk berat.'


"Good, Fan. I thank you a lot. 2 botol saja, supaya kesannya si pengirimku itu orang berkelas atas."


'hahaha...dasar kau. ada-ada saja. tapi okelah, kudoakan sukses dengan semua bagian rencanamu ini.'


" Yo'i "


Akhirnya mau tak mau, kujalankan juga rencana terpendamku ini.


Sudah 5 hari berjalan sejak hari pernikahan, selama itu pula Evita benar-benar tak mampu kugoyahkan.


Inilah dia bagian rencana rahasia yang selama ini menjadi rencana terpendamku, dalam mengupayakan menyingkirkan fobia pada diri Evita itu.


Tequila.


Dengan mencoba membuatnya mengalami mabuk berat. Mabuk Tequila. Dan lihat nanti, apakah pengaruh alkohol dalam minuman keras ini bisa membuat Evita kehilangan kesadaran lalu melakukannya. Atau tidak.


Karena aku tau betul minuman Tequila ini bisa membangkitkan hasrat dan gairah peminumnya, yang mabuk karenanya lalu berhalusinasi ingin melakukan se*s.


Mengapa Tequila yang kupilih?


Karena aku sendiri punya pengalaman dengan minuman jenis ini.


Tequila ini lah yang membuat aku dan cinta pertamaku di SMA sama-sama kehilangan keperjak*an dan keperaw*nan di sebuah acara Hiking perpisahan sekolah. Kami memadu cinta dibawah pengaruh alkoholnya, diluar sepengetahuan teman-teman seperjalanan kami berdua.


Namun meski tanpa pernah memiliki pengalaman mabuk berat oleh minuman keras sekalipun, aku tetap akan menggunakan jenis minuman seperti Tequila, Wine, Sampanye, Bourboun dan lain-lain untuk kupercobakan pada Evita.


Pokoknya yang bisa mengakibatkan peminumnya mengalami mabuk lalu...terangsang.


Tentu saja aku mempertaruhkan segala-galanya dalam rencana ini. Pelanggaran hak azasi manusia, tindak kekerasan, tindak penipuan, perbuatan tidak menyenangkan dan lain-lain yang intinya bisa membuatku dijebloskan kedalam penjara.


Karena yang akan kulakukan terhadap Evita adalaah...tidak tidak tidak, aku tidak peduli resikonya. Aku sedang berniat dan bertujuan baik. Bukan bermaksud ingin menyakiti wanita yang kucintai ini.

__ADS_1


Bersama harapan, bila kemudian yang terjadi nanti sesuai dengan perkiraanku, setelahnya mungkin saja Evita bisa 'terpulihkan'.


Itu saja yang ada dalam benakku.


Aku ingin menemani dan membuatnya mabuk, terangsang, terlupa perasaan tak sukanya pada hal itu, lalu justru kemudian melakukannya, dibawah pantauan kamera perekam...kamera perekamku akan terus diaktifkan.


Konyolkah tindakan yang akan kulakukan ini?


Atau pertanyaan yang lebih utama, maukah Evita kuajak bersama meminum Tequila ini??


Apabila ternyata dia menolak ini, aku akan langsung menyerah.


Putar otak mencari cara lain.


Kalau perlu, aku akan meminta padanya agar mau bersama denganku mengunjungi Dokter Psikologi...


Catatan sebagai bagian rencanaku.


Hal-hal yang kubutuhkan antara lain :



1 botol Tequila , centang


2 buah sloki untuk masing-masing kami , centang


2 hingga 3 sloki Tequila untuknya , centang


Keberanianku , belum centang


Kamera perekam semisal Handycam , centang


Surat Pernyataan , centang


Memo untuk pelengkap hasil rekaman , centang



Nb : Cukup 2-4 gelas alkohol untuk membuatnya kehilangan kesadaran. Tidak boleh lebih.


Sementara untuk keberanianku masih melihat situasi dulu.


Demikian catatan yang kubuat. Jikalau akhirnya aku dinyatakan bersalah telah melakukan tindakan ini, catatan ini akan kuperlihatkan sendiri sebagai pelengkap alat bukti penuntutan...mempersilahkan Evita untuk melakukan tuntutan terhadapku.


Oh myyy...apa sebenarnya yang sedang kulakukan ini?


Jangan dipikirkan, Hari, jangan dipikirkan. Lakukan saja dulu kalau memang pengalamanmu yang dahulu itu kau rasa meyakinkan, bisa dijadikan sebagai salah satu modal pendukung rencanamu.

__ADS_1


###############


__ADS_2