
###############
Selasa, beberapa saat menjelang pukul 9 malam...tepat dihari ke 10 setelah pernikahan.
Diluar sepengetahuan Evita, diam-diam rencana terselubung itu telah selesai tersiapkan. Tinggal sesaat lagi aku akan segera memainkan peranku dan Evita bersama perannya sendiri.
Memang aku bukan seorang ahli peran atau aktor, yang sebentar lagi aku akan memerankan bersama rencana rahasia yang sedang kubuat.
Bukan juga seorang ahli kesehatan, yang sedang melakukan penelitian kondisi kesehatan terhadap diri seorang pasien semacam apa yang sedang kulakukan pada Evita.
Aku hanyalah seorang pria pengacara. Diangkat menjadi pengacara diusia 28 tahun setelah lebih dulu meraih gelar Sarjana Hukum, lalu mengikuti pendidikan khusus profesi advokat (PKPA) hingga berhasil lulus ujian yang diselenggarakan organisasi advokat.
Setelahnya, menjalani kewajiban masa magang selama 2 tahun di sebuah kantor hukum, sebagai syarat agar bisa secara resmi diangkat menjadi seorang pengacara.
Tahun ini memasuki tahun ke 10 masa profesi kepengacaraanku, bisa dikatakan aku telah cukup sukses menjalani karier selama ini, digenapkan dengan berdirinya sebuah biro hukum milik sendiri tapi dikelola bersama 2 partner lain yang salah satunya adalah Irfan.
Bersama rencana yang sedang kubuat saat ini, sudah barang tentu aku sedang mempertaruhkan semua itu ; karier kepengacaraan berikut izin praktek, kalau pada akhirnya apa yang kulakukan dianggap menyalahi hukum. Kalau...Evita tak bisa menerima lalu mengadukan perbuatan ini. Diluar fakta bahwa istriku sebelumnya sudah 'memberi ijin'. Untuk Tequilanya.
Setelah memikirkannya secara matang dibeberapa hari terakhir, lalu mendadak Evita memberi kata iya, oke tekadku pun semakin bulat untuk meneruskan.
Apapun yang akan terjadi tetap akan kulakukan, bersama perkiraan kans kesuksesan dan kegagalan fifty-fifty.
Evita sendiri tak berubah pikiran, ia cukup bersemangat memperhatikan apa-apa saja yang kupersiapkan didalam kamar tidur besar dan lux kami, yang itu juga bagian dari rencana tapi tidak menjadi rahasia untuk ia ketahui.
Cukup duduk manis, tepatnya disalah satu dari dua anak sofa samping tempat tidur, biar sisanya aku yang membereskan, begitu kalimat pesanku padanya dan ia hanya bisa menertawai ini sebelum mengangguk-angguk tanda mengerti.
So sweet, istriku tercinta. Kuhadiahi dia kecupan cepat dipipi kiri sebagai bonus untuk kepatuhannya.
Seiring waktu bergulir, semakin aku merasa sayang dan cinta padanya. Semakin bersyukur telah pernah memilih dia untuk masuk kedalam hidupku, dan ia pun menerima pilihanku.
Mendewasa namun sekaligus polos, pagi tadi ia sempat berkata sebelum kami benar-benar turun dari ranjang, mengulang penjelasannya sambil memegangi lenganku,
"Bang Hari...aku mau minum dengan abang bukan hanya untuk merayakan pernikahan kita saja. Bukan juga untuk mengejar sensasi mabuknya.
Tapi juga karena bang Hari sempat bilang padaku kalau abang sering mendapat jamuan undangan yang juga menyuguhkan minuman beralkohol, jadi sekalian saja kuanggap aku belajar minum.
__ADS_1
Jadi begitu...bang Hari jangan jadi terganggu karena ini."
Sesaat aku tak tau harus bilang apa. Hanya memandangi Evita tanpa suara tapi kemudian kuanggukkan juga kepala.
Andai Evita paham apa yang ada dalam pikiran ini...
"Oke, aku mengerti." Senyumku padanya.
"Jadi malam ini kita tetap jadi?"
"Jadi. Free time, menjelang tidur saja. Nanti malam."
"Okee..." Evita membalas senyumku.
Tak ada lagi kelanjutan pembahasan.
Jadi disinilah kami berdua sekarang beberapa jam kemudian, pukul 8 malam lebih sedikit...
Didalam kamar tidur kami.
Bersama keberadaan perabot ini-itu lainnya, sebuah ranjang King berseprai abu-abu dan bersarung bantal senada adalah salah satu penghuni dalam kamar tidur ini.
Meja nakas pada sisi kiri kepala ranjang, disebelah kanan ranjang adalah meja rias berdampingan dengan sebuah lemari kabinet kayu 3 pintu, tempat dimana sebuah tivi flat 43 inchi berada diatasnya. Kesemuanya terletak merapat pada dinding kamar.
Menghadap pada lemari kabinet berikut tivi adalah letak keberadaan 2 buah anak kursi sofa berjok empuk dan dalam, dimana pada salah satunya telah diduduki oleh Evita.
Evita, seperti biasa terlihat cantik tiada banding.
Dan pada malam ini, ia menyengajakan diri berpakaian super seksi itu, sebuah mini dress dan jubah tidur atau robe berbahan satin ungu muda, sangat cocok dipakai seorang wanita pengantin untuk malam pertamanya.
Ini pertama kali aku melihat istriku mengenakan yang seperti itu. Rupanya ia memahami betul, sebotol Tequila cuma akan cocok ditemani sebuah model baju tidur pengantin seperti yang ia kenakan sekarang.
Berkesan romantis dan seksi, yang bisa membuat pasangan penasaran dengan apa yang ada di balik jubah sehingga makin tergoda untuk membukanya.
Aku tak luput dibuat makin tergoda.
__ADS_1
Kalau saja tak pandai-pandai menjaga dan mengontrol hasrat, pura-pura tidak terpikat, mungkin sudah sejak tadi melihatnya muncul ber-Mini dress dan Robe itu, aku menarik Evita naik keatas ranjang lalu mencumbunya.
Tapi aku hanya melempar senyum penuh arti saja padanya, saat sekilas kutemukan ia lebih dulu menyenyumiku...
Selesai sudah. Akhirnya.
Diatas meja telah tersaji 1 botol Tequila dan rekan-rekan.
Yaitu 2 buah sloki berukuran 40 x 50mm volume 30ml, beberapa irisan jeruk lemon dalam piring kecil sebagai penghilang rasa berat Tequila kalau memang nanti dibutuhkan dan hidangan penyerta.
Untuk hidangan penyerta hanya dipersiapkan 1 loyang kecil keik tart, jenis kue paling disuka Evita dan ia sendiri yang meminta ini untuk ikut disajikan, dan sebentuk kaleng biskuit merek Mo**e yang mana ini adalah bagian dari camilan kesukaanku.
Bagi istriku ini juga akan menjadi malam syukuran pernikahan kami, tentu saja, jadi wajib kupersiapkan seformal dan seapik mungkin seperti ini.
Maknanya bagiku diriku sendiri, cukup aku saja yang tau.
Sejauh ini Evita terlihat sangat menyukainya. Ia pun menyempatkan diri sesaat tadi ikut ambil bagian dengan menyiapkan lilin aroma-terapi, sudah ia nyalakan diatas meja nakas dekat kepala ranjang.
Menguarkan aroma lembut wewangian Lavender ungu merilekskan dan menenangkan.
Kompak dalam memadukan kedua warna ungu itu...
"Ajari aku cara membuka tutup botol Tequilanya, bang Hari." Mendadak Evita berkata sedemikian begitu dilihatnya aku mulai mengangkat botol Tequila dengan berdiri tegak diseberang meja dihadapan duduknya.
Ia mempertemukan pandangannya denganku.
"Oke. Kalau begitu kita pakai kedua botol itu saja. 1 botol kau pegang, 1 lagi kupegang untuk kuperagakan."
"Oke. Sebentar biar kuambil yang satu lagi."
Satu botol lain Tequila disimpan Evita dalam lemari kabinet itu bersama buku-bukunya, masih ditempatkan dalam kotaknya.
Sambil menghampiri kabinet, ia membetulkan sebelah lengan jubah tidurnya yang sedikit melorot pada pundak. Melihat hal itu, diam-diam kuteguk air ludah. Mencoba mengabaikan lagi keinginan yang sudah ingin menyentuhnya.
Seorang wanita cantik ramping semampai berhias make-up diwajah walau tipis saja, melintas didepan mata dalam balutan baju tidur seksi nyaris transparan, menebar harum lembut parfum bayi diantara keharuman Lavender dari lilin aroma-terapi dalam ruangan...pria mana yang sanggup menahan syahwat dan keinginan?
__ADS_1
Duh...lupakan lagi dulu, Hari.