MENIKAH TURUN RANJANG?

MENIKAH TURUN RANJANG?
15. Meluruskan Kesalah-Kaprahan


__ADS_3

Belum, Evita masih belum ingin menyudahi...


"Lalu kenapa bang Hari masih juga memilih aku yang jelas-jelas dinilai miring oleh mereka dan bang Hari sudah mendengar itu dari mereka?


Hanya menyibukkan diri dengan duniaku sendiri? Sibuk sendiri dengan duniaku sendiri...penilaian yang miring sekali. Aku baru tau itu. Selama ini aku belum pernah mendengarnya."


Sangat menyadari ini begitu riskan bisa membuat ia kembali menarik diri, kuharap aku tidak mesti membuat Evita sedemikian atau jadi menyebaliku.


Tapi memang aku sudah merasa perlu memulainya sekarang, menyinggung hal ini pada Evita.


Karena aku ingin agar dia 'melakukan instropeksi' dalam hal yang sedang kubahas ini. Supaya kelak ini bisa saja berguna baginya dalam menentukan bagaimana mengambil langkah sesudah ia menjalani hubungan baru sebenarnya bersamaku.


Kira-kira seperti itulah yang sedang ada dalam pemikiran ini...


Adapun dalam ia menanyakan pertanyaan terakhir itu tadi, sesungguhnya membuat ekspresi gadis ini tampak lebih tegas sekaligus rapuh.


Itu karena aku baru saja membuatnya tersirat tersinggung mendengar bahasan yang serta merta saja kuungkap seperti itu tadi kehadapannya. Dan kini gadis ini kelihatannya jadi ngambek berat karenanya.


Maka jelasku pada pertanyaan Evita sekaligus ini lebih memaparkan keluar apa yang perlu ia ketahui, lagi, tentang perasaan atau pemikiranku disaat ini terhadapnya,


"Itu cuma penilaian, Evita. Tidak ada hubungannya dengan apa yang kurasakan terhadapmu.


Aku menyukaimu, aku juga menyukai Safira, Lidia...tapi rasa suka dan ketertarikanku padamu sama sekali bukan mengikuti atau berdasarkan pada apa kata atau penilaian-penilaian orang lain terhadapmu.


Aku tidak sembarangan asal saja dalam memilihmu. Mempertimbangkan dan memutuskan untuk menjatuhkan pilihan padamu tidak pada Safira atau wanita-wanita lain, aku membawa serta pertanggung-jawabanku pada almarhumah kakakmu, anak-anakku, orangtuaku.


Jadi, hilangkan itu, kalau memang dalam persepsimu kau mengira aku menghiraukan penilaian-penilaian mereka. Murni dalam aku memilihmu aku menurutkan kata hatiku saja. Dan tentunya juga menurutkan keyakinan baru itu. Keyakinanku terhadapmu bahwa aku akan bisa melakukannya, menjalani hidup pernikahan keduaku, bersamamu sebagai pendamping baruku."


Keyakinan yang kuturutkan pada pola jatuh cinta pada pandang pertama : 1x bertemu kalau memang langsung suka, ya suka.


1x melihat Evita kalau memang aku langsung merasa yakin terhadapnya, oke yakin saja.


Sejenak Evita pun terdiam mencerna, merenungkan.


Selanjutnya memilih membungkam.


Dilayangkannya pandang ke arah sana, pada beberapa anak kecil hendak bermain layangan yang sudah memasuki gerbang masuk taman dimana kami saat ini sedang berada.

__ADS_1


Lapangan itu masih berada dalam Taman Bermain RPTRA ini, taman tak jauh dari hotel kami. Ini sebuah taman umum cukup luas dan saat pertama kami datang tadi sedang sepi-sepinya.


Evita yang mengusulkan untuk mengobrol di sini, menolak usulku berbicara di salah satu Cafe sekitar hotel. Lalu aku sendiri yang memilihkan tempat untuk kami duduk-duduk, pada satu set meja bangku terbuat dari semen beton baik meja yang berbentuk segi empat dan juga bangkunya, 4 buah dudukan segi panjang menghadap pada sang meja.


Serius membagi perhatian dengan kepala menoleh menghindari keberadaanku, gadis ini memperhatikan berlama-lama ke arah bocah-bocah bermain disana.


60 detik ke 2 menit dan seterusnya, jeda lumayan panjang yang sengaja kubiarkan saja sambil aku sesekali melihat pada yang ia lihat, lebih banyaknya melihati dirinya pada seberang dudukku.


Hingga,


"Heran kenapa banyak kegiatan yang kuikuti dan membuatku sibuk setiap waktunya justru dikomentari negatif. Dan itu bukan cuma sekadar penilaian yang tanpa tanda kutip. Itu mengandung unsur pengkritikan. Kritik pedas. Kritik pedas terselubung.


Tapi kenapa? Kenapa aku mesti dikomentari miring semacam itu?


Sejak aku remaja satu dunia tau betul kalau aku ini sudah aktif berkegiatan. Sampai sekarang pun masih, bergabung di kegiatan ini-itu, klub ini-itu, kegiatan sosial dalam dan luar lingkungan kerja...


Food Day, Sport Day, Bazzar, kegiatan amal, organisasi almamater, seminar masyarakat, penyuluhan masyarakat, ini, itu, menjadi relawan sesekali... aku selama ini bukannya sibuk sendiri yang aneh-aneeh!"


Mungkin dari kegusaran yang sempat ia pendam itu lah yang memicu Evita mendadak kemudian bersuara, lebih terdengar sebagai barisan kalimat-kalimat mengomelnya.


Karena dalam berbicara itu, ia masih menolehkan kepala memandangi ke arah bocah-bocah cilik dilapangan sana.


Tapi oke, mengerti... Dalam hati aku mengangguk-angguk. Jadi begitu rupanya. Evita punya alasan kuat kenapa selama ini ia begitu menarik diri dari keluarga dan alasan itu sudah terungkapkan jelas sekarang.


Aku sudah bisa paham sekarang, segera tersadarkan pada kekeliruan.


Aku memang selama ini bahkan ikut-ikutan pula mengecap miring Evita, menilai sama dengan apa kata penilaian mereka yang lain, kini bagai sudah dipertemukan dengan si titik terang.


Kejelasan berupa penjelasan seumpama pencerahan, langsung dari orangnya.


Dan ternyata aku selama ini? Hanya salah kaprah saja. Menilai terlalu berlebihan agaknya.


Lalu bagaimana cara memperbaiki kekeliruanmu itu, Hari Pratama?


Apa yang harus kau lakukan?


Menyetting ulang pemikiranku ini.

__ADS_1


Tapi terlebih dulu aku mesti mengobati keambekan Evita. Menyeting ulang perasaannya. Tak salah menghibur gadis ini setidaknya dengan aku bergerak bangkit berdiri lalu...


Evita otomatis mengembalikan perhatian padaku begitu dilihatnya aku berdiri dari bangku, mengayun 2 langkah panjang saja menghampiri kehadapannya dan, tak sempat keheranan ia sedikit terkaget menerima hadirnya henyakan dudukku pada samping duduknya.


Menghalangi sudah pandangan sedari tadi gadis ini ke tengah lapangan sana...terhalang oleh kedekatan wajahku yang menoleh kehadapan wajah menolehnya.


Kali pertama berdua duduk bersisian seperti ini dengan sisi-sisi pinggul dan paha nyaris bertemu, berhiaskan harum lembut parfum Evita yang segera saja memenuhi penciumanku, baik aku maupun Evita untuk sesaat saling lihat-lihatan dekat tanpa ingin bersuara.


Berdua saling mengunci tatapan.


Pada bawah pandangan mataku bisa kutangkap gerakan seolah bibir Evita hendak membentuk senyuman. Aku menurunkan arah pandang kesitu dan tak menemukan apa-apa. Akhirnya sambil menaikkan kembali pandangan, kupilih untuk lebih dulu mengulas senyum kehadapan Evita.


"Sepertinya aku dan yang lain harus meminta maaf padamu... Mewakili mereka, maukah kau memaafkan aku dan mereka atas anggapan miring terhadapmu selama ini yang bahkan aku juga melakukannya?"


Tak urung tak bisa lagi menahan bentukan bibir yang memang tadi sudah ingin diperlihatkan, Evita pun membalas senyumanku.


"Bang Hari juga?" Tanyanya bernada polos sepolos tatapan tak percayanya padaku.


Ambeknya mencair. Syukurlah Evita memberi respon baik meski kurasakan ia masih terkesan bad mood.


Aku mengangguk lembut, "Aku juga. Jujur. Sama saja dengan mereka."


"Ohh... Ya sudah, tak apa." Tanggapnya bersungguh-sungguh.


"Tak apa? Yakin?"


"Iya. Dilupakan saja."


"Kau sakit hati disebut begitu itu?"


"Sedikit. Aku bukannya sengaja menjauhkan diri dari keluarga. Mungkin ini panggilan hati, aku memang suka sekali menyibukkan diri diluar sana, ditiap seabrek aktivitasku. Biarpun menghabiskan banyak waktu yang seharusnya jadi waktu luang, aku selalu senang koq melakukan itu dan sangat menikmatinya."


"Aku sudah mengerti sekarang."


"Maaf kalau aku ini sebenarnya mengecewakan bang Hari karena selama ini aku terkesan tak pernah mau mengakrabkan diri pada abang, seperti kak Lidia dan Safira ke abang. Kalau yang ini, aku menyadarinya."


"Sama sekali tak mengecewakan. Sebaliknya Evita, kau sangat berkesan. Menawan dan mempesona. Daan, aku mau jujur lagi, aku harus mengakui ini dengan lancang. Karena kau begitu menawan dan mempesonanya...rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera menyuntingmu. Memilikimu..."

__ADS_1


__ADS_2