
Baiklah baiklah sementara akan kulupakan dulu. Evita sudah menjadi milikku, semoga untuk waktu lama selama-lamanya, jadi kenapa aku mesti memburu-burui sesuatu hal tentang dia?
Kecuali Tequila, aku memang jadi terkesan buru-buru menghadirkannya semata karena memanfaatkan momen-momen hari pernikahan dan libur panjang kami, yang belum tentu masih akan ada lagi momen kami hanya berduaan saja seperti ini, dalam rumah.
Ah ya, berbicara tentang pakaian Evita...salah satu kamera perekam mini atau spy-camera berukuran 4 x 3 cm dengan berat hanya 14 gram, sudah kupasang tersembunyi diatas lemari pakaian yang berada persis diseberang kaki ranjang. Diantara 2 koper pakaian besar pada puncak salah satu dari 3 lemari besi dan kayu jati berjajar. Sangat tersembunyi dan aman.
Satu kamera mini lain terpasang juga tersembunyi dekat cermin wastafel yang berada sejajar pintu kamar mandi.
Posisi pintu atau keberadaan kamar mandi sejajar wastafel, berseberangan dengan pintu kamar tidur berada. Berarti pada sisi kanan kiri ranjang. Sementara posisi perabot besar lain menghadap kepala dan kaki ranjang.
2 buah kamera perekam berkemampuan durasi tak terbatas merekam sebuah video, lengkap gambar dan juga suara, diaktifkan menggunakan Wifi yang terhubung ke Smarphone.
Lewat ponsel itulah cara pengaktifan kameranya.
Belum mulai kuaktifkan karena sambil menunggu waktu yang tepat tapi itu tidak lama lagi.
Aku sangat meyakini 101 % Evita tak akan bisa memergoki keberadaan mereka berdua. Sekalipun sesekali melihat kearah mereka, ia tak kan pernah bisa 'ngeh dengan yang kulakukan.
Sesekali melihat kearah mereka untuk memastikan apakah lampu indikator super halus dan samar itu masih ON atau tidak, agar tidak sering-sering dipastikan ke HP.
"Ini, bang." Begitu Evita muncul lagi kehadapanku dengan botol Tequila ditangan, kuraih HP dari atas meja dan secara sembunyi-sembunyii...2 kamera perekam mini alias Spy Camera pun ON.
"Okay, baiklah, ayo dimulai..." Kuletakkan kembali HP keatas meja.
"Oke."
Evita mengambil tempat berdiri hampir rapat kesisi kiri berdiriku. Hanya menyisakan sedikit jarak sekadar agar kedua sikut kami tidak perlu bersentuhan.
Keharuman aroma tubuhnya sangat lembut dan enak, semakin dekat terhirup... Rambut masih hitam seketiak dibiarkan tergerai tapi tertahan tak beruraian oleh sebuah bando putih menjepit dipuncak kepala. Jenis rambut bergelombang lemas nan indah, sangat menggoda jemari tanganku untuk menyelusur disela rambutnya ini...
Dengan tinggi puncak kepala sejajar telingaku, ia tak perlu berjinjit untuk mencari bibirku. Cukup hanya dengan ia sedikit mengangkat wajah dan aku sedikit menunduk...
Evita mengaku sangat menyukai bentuk bibirku. Yang justru disetiap ia menyentuh bagian itu atau sekadar membicarakannya, aku yang lebih teralirkan getaran tertentu itu kedalam perasaanku.
__ADS_1
Sementara aku padanya jelas memfavoritkan semua, sekali lagi semua, yang ada pada tubuhnya, dia pada wajahku memfavoritkan bibir ini.
Tak membuatku heran, karena bukan seorang perokok, bagian bibir ini sangat terjaga...kesensualannya.
Dan aku tau betul Evita selalu tak sanggup menahan bila salah satu bagian lembut dari wajahku ini menelusur ditubuh polosnya...
Kembali ke botol Tequila, secara seksama tangan Evita pada botol terus mengikuti setiap petunjuk yang diajarkan padanya...
"Simpel saja caranya. Untuk membuka tutup botol Tequila ini kau tetap membutuhkan pembuka botol atau Corkscrew ini. Akan kuajari semua caranya.
Perhatikan, pertama-tama buka penutupnya seperti ini lalu lepas foil dari bagian atas botol...ya seperti itu. Selanjutnya kau masukkan ujung pembuka botol ini ke dalam gabus dan putar hingga gabus lepas. Seperti ini memutarnya. Nah, benar seperti itu.
Oke oke, good, hati-hati isi botolnya. Sekarang beres, selesai sudah. Begitu gabus sudah dilepas seperti itu, Tequila pun siap kita nikmati.
Kau bisa paham sekarang?"
"He eh...gampang. Dan bang Hari sudah terbiasa melakukan ini."
"Oo, iya iya benar juga. Aku tau."
"Nah, jadi, kau siap menikmati Tequila ini sekarang?"
"Ngg...fiuh, oke, siap."
"With one shot. Sloki pertama untukmu. Tapi sebelumnya untuk kau ketahui, aku akan memberitaumu sekalian, ada 3 cara umum meminum Tequila.
Pertama, sesapkan sebentar sedikit cairan Tequila ini dari bibir sloki kebibirmu...untuk menikmati sensasi alkoholnya begitu sudah masuk kedalam mulutmu, barulah kemudian kau minum.
Lalu yang kedua, dengan satu kali melemparkan sekaligus isi slokimu kedalam mulut, lalu resapi cita rasa keseluruhannya.
Dan cara ketiga, dengan mencampur irisan jeruk lemon ini pada bibirmu sebelum kau sesap cairan Tequila dalam slokimu dibibirmu. Tempelkan atau hisap irisan jeruknya pada bibir barulah kau minum Tequilanya.
Untuk mengurangi rasa tajam minuman ini selain menggunakan irisan jeruk nipis, bisa juga menggunakan taburan garam yang kau tabur sedikit di kulit punggung telapak tanganmu. Sesap garamnya, barulah kau mimum.
__ADS_1
Nah, itu dia ke 3 caranya. Jadi apa kau akan mencoba ketiga cara ini?"
Penuturan panjang lebarku barusan berakhir dengan Evita membelalak melihatku.
"Ha?! 3 cara berarti 3 sloki, bukan? Berarti kemungkinan aku bisa mabuk itu..." Ia menggantung kalimat seruannya sambil kemudian berpikir keras.
Gemas, aku tertawa singkat padanya lalu meraih pinggangnya, menarik sekilas sebelum mengusap-usap disana,
"Tidak tentu tidak tentu. Ada juga mereka yang kuat tidak mabuk sampai di gelas ke 4..."
"Ooo..." Evita sukses kebingungan meski ia manggut-manggut begini.
"Jadi bagaimana, kau berani ketiganya? Atau satu sloki saja cukup? Aku tak akan menyarankan apa-apa."
Akhirnya karena tak tahan juga untuk tidak mendaratkan kecupan, kukecup singkat pipi kanan Evita, yang belum mabuk saja sudah nampak begini merona.
Kecupan yang baru saja kulakukan tak lantas membuat ia terpengaruh, masih terus berpikir lebih dalam.
Oh sayang, maafkan, tolong kau iyakan saja untuk ketiganya.
"Mmm, kalau begitu..." Ia menoleh melihat wajahku, "...biar kucoba satu dulu. Nanti lihat lagi apa aku akan sanggup ke gelas kedua lalu berikutnya."
"Oke. Aku setuju." Singkatku.
Orang yang baru menenggak satu sloki minuman Tequila atau satu gelas minuman beralkohol dalam satu jam, biasanya akan merasakan sensasi ketenangan atau rileks.
Di tahap ini, mereka masih terlihat normal dan bisa beraktivitas seperti biasa. Tapi justru sensasi rileks atau enteng inilah yang memicu mereka untuk menenggak lebih banyak lagi. Hal ini tentu bertujuan supaya mereka mendapatkan sensasi yang lebih intens, sesuai yang diharapkan.
Tanda awal mabuk alkohol pada wanita akan dialami setelah minum 1 sampai 2 gelas alkohol dalam satu jam. Cepat atau lambatnya, ini tergantung dari usia, jenis kelamin, postur tubuh, dan toleransi alkoholnya.
Dan rasanya mabuk alkohol? Berdasarkan pengalaman sendiri, pada awalnya aku mengalami sensasi Tipsy atau kliyengan. Saking pusingnya, aku jadi tidak kuat berdiri dan ingin terus duduk untuk mengurangi sensasi berputar di kepala.
Sekarang aku akan membiarkan Evita tetap berdiri seperti ini disisiku saat aku akan segera menyuguhkannya 1 sloki Tequila...
__ADS_1