MENIKAH TURUN RANJANG?

MENIKAH TURUN RANJANG?
42. Tequila Episode Ke 2


__ADS_3

Jumat malam kemarin Dokter penanggung jawab perawatan sakit Rian di RS akhirnya memberitaukan, saat beliau datang mengontrol sekitar jam 8 malam, bahwa Rian sudah tidak lagi dalam kondisi mengkhawatirkan dan progress menuju kesembuhannya semakin berjalan baik.


Memasuki hari ke 3 di Sabtu pagi ini, kami semua sudah bisa menarik nafas lega, terlebih bagi oma. Oma lah yang memberi kabar padaku karena kebetulan beliau sedang menjaga Rian di RS, menggantikan aku dan Evita yang juga bergantian menjaga dihari sebelumnya.


Terlebih-lebih lagi bagiku tentunya, beban pikiran tentang sakit Rian dengan sendirinya terangkat dari pundakku.


Oma tidak keberatan meneruskan menjaga bahkan hingga Rian sudah waktunya diperbolehkan pulang nanti. Sementara aku dan Evita sudah akan kembali masuk kerja Senin pagi lusa, jadi kemungkinan masih akan oma dan opa Rudi yang mengurusi pemulihan sakit Rian, begitu sudah berada kembali dirumah mereka.


Setelah aku dan Evita menghabiskan waktu hampir 2 minggu ini bersantai dirumah mengisi liburan bulan madu...waktunya kembali lagi ke rutinitas kami seperti biasanya, berkutat dengan pekerjaan.


Namun sebelumnya...Evita secara diam-diam mengorder online Tequila dan Red Wine ini!


Sangat mengejutkan, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Apa yang diinginkan Evita adalah titah bagiku. Jadi Sabtu pagi pukul 9 ini, total aku bagai kehilangan kata-kata dan akal sehat saat ditarik istriku mendatangi meja makan, diperkenalkan pada ke-4 botol minuman keras orderannya. Ia tersenyum padaku, lebih tersenyum lebar lagi pada mereka. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Seperti apa rasa Red Wine ini, bang Hari, abang sudah pernah meminumnya? Apa ada sensasi tertentunya juga? Lebih hebat dari Tequila?" Nada dan ekspresi bertanya Evita sebenarnya cukup menggelikanku. Sangat serius bak seorang peneliti ilmiah sedang mengajak diskusi rekan sains-nya.


Khawatir kalau aku menertawakan akan membuatnya tersinggung, kusahuti saja sama serius,


"Pernah. Dan kurasa aku cuma bisa mengatakan padamu, rasa Red Wine ini memang ada perbedaan jelasnya dengan Tequila. Seperti kau meminum Coca Cola, dibandingkan dengan meminum Sprite, dibandingkan lagi dengan meminum Fanta, dibandingkan lagi dengan meminum Pepsii...koq tertawa?"


Sudah sedemikian serius yang kututurkan, Evita justru tergelak menertawai.


"Apa sih perumpamaannya membingungkan seperti itu? Itu semua Soft Drink, bang. Kenapa tidak abang katakan saja seperti meminum sirup A*C dibandingkan dengan meminum jus alpukat, dibandingkan lagi dengan meminum sop buah, dibandingkan lagi dengan meminum kopi...ketahuan kalau semua yang terakhir itu ada perbedaan jelasnya."


"Yaa pokoknya ya seperti itulah, sayang. Benar juga seperti yang kau katakan itu. Memang ada perbedaan jelasnya, tapi itu beda-beda tipis saja."


"Oke lah. Paham."


"Kau bisa langsung saja mencobanya."


"Tidak. Kapan-kapan saja. Aku takut jadi kecanduan alkohol kalau aku sudah kenal lagi satu jenis minuman keras lain."


"Oke. Aku setuju."


"Jadi?"

__ADS_1


"Kau yakin?"


"Sangat."


"Oke. Nanti malam saja."


"Kelamaan. Agak siangan nanti saja?"


"Siang-siaaang?"


&&&&&-&&&&&


Siang hari tepat pukul 1, kusiapkan semua persiapan...


Mula-mula memutus semua akses yang bisa terhubung ke kami berdua termasuk menutup gorden, mengunci rapat-rapat pintu dan jendela, serta menonaktifkan ponsel yang ada.


Berikutnya menyalakan AC, lalu mengubah ruang tamu gelap menjadi sedikit lebih terang oleh cahaya dari televisi LED 75 inch yang dihidupkan. Bervolume suara samar saja, menampilkan sebuah tayangan tv kabel dunia fauna kelayarnya.


Masih terasakan belum cukup mendukung maka lampu kamar makan pun dinyalakan, untuk memberi sedikit cahaya terang ke ruang tamu dimana aku dan Evita akan berada. Pada sofa panjang, menghadapi botol-botol penuh Tequila dan Red Wine berikut bermacam pelengkap lain diatas meja sofa menemani mereka.


Sempurna.


Kukerdipkan sebelah mata pada Evita saat menghenyak duduk di sofa panjang, persis kesamping duduknya yang tersenyum menyambutku, tak keberatan menerima sentuhan nakal kecupan cepatku pada permukaan bibirnya.


Karena terhirup aroma harum mint penyegar pada nafasnya sekaligus terbawa suasana yang sudah sedemikian romansa ini, alhasil aku tak sanggup menolak keinginan untuk menciumnya saja sekalian.


Kami pun berciuman. Panjang dan lama. Dengan berbagai kemesraan mel*mat, memagut, membelai dan membelitkan kedua lidah...menyuarakan des*han demi des*han entah dari siapa datangnya, diantara pelukan dan cumbuan...sebelum Evita terengah-engah menyudahi lebih dulu kesenangan kami ini. Disentuh dan didorongnya pelan dadaku,


"Ayo, bang...sekarang saja."


Aku sama terengahnya, tersenyum nyengir menekan gejolak dan debar, mengganggukkan kepala 1x,


"Oke."


Keseluruhan efek semua kegiatan tadi sudah pasti membekas. Belum benar-benar memulainya saja, hasrat dan gairah ini sudah menggelora naik ke permukaan...

__ADS_1


Aku dan Evita seolah tak mau buang-buang waktu lebih lama lagi. Bersamaan memperbaiki letak duduk agar lebih lagi saling berhadapan, dengan mantap kami menenggak 1/2 gelas Tequila masing-masing.


Kali ini bukan menggunakan sloki tapi Red Wine Glass atau gelas Anggur Merah yang memiliki ciri khas berdiameter lebih kecil pada bagian bibir gelas dibandingkan bagian mangkuknya.


Dan masih seperti hari sebelumnya aku diam-diam telah lebih dulu mencekoki diriku dengan semua 'doping'an rahasiaku itu...meski, hanya dapat menenggak susu kurang dari jumlah kemarin.


Isi gelas pertama tandas. Saling pandang lalu saling lempar senyum penuh arti, bersepakat tanpa bersuara kami melanjutkan sesi berciuman terpending tadi, sambil menyandarkan diri kesandaran sofa...


Sungguh indah dan menghanyutkan rasanya berkasih mesra dengan seseorang yang kita cintai, apalagi bila suasananya sempurna mendukung seperti dirumahku saat ini...


Mencari sensasi baru, kami sengaja melakukan ini di siang hari begini. Sesuai permintaan istriku yang sangat berjiwa bertualang, bahkan untuk bercinta pun ia ingin versi baru yang lebih menantang dan Adventurous : 'willing to take risks or to try out new methods, ideas, or experiences.' Atau, 'bersedia mengambil risiko atau mencoba metode, ide, atau pengalaman baru'.


"Gelas kedua, sayang?" Tanyaku pada Evita, setelah mengisi jeda dari gelas pertama dengan beberapa menit berasyik-masyuk.


"Oke." Angguk Evita tersenyum manis, entah mengapa ia lalu menunduk memperbaiki kancingan kemeja blus bagian bawah tempatku tadi menyusupkan telapak tangan disitu.


Tak sanggup menahan cengiran melihat apa yang dilakukannya, aku pura-pura saja mengalihkan pandang pada Tequila yang kutuang kedalam gelas.


Sepertinya pakaian yang dikenakan akan selalu menjadi masalah bagi Evita saat ia mulai mabuk.


1/2 gelas Red Wine berisi cairan Tequila kedua kami, tertandaskan dengan tak kalah cepat.


Kutebak, sumringah efek Tequila di wajah istriku pasti akan muncul di gelas kedua. Karena efek tajam Tequila baru benar-benar ia rasa setelah melewatkan gelas pertama.


Tebakan yang meleset.


Diakhir tegukan minuman kedua Evita, tak juga muncul ekspresi nyinyir namun mempesona itu. Ia mengakhiri dalam ekspresi biasa-biasa saja, melempar senyum padaku biasa-biasa saja.


Tak jauh beda dari malam pertama kami, pengalaman pertama kami tepatnya, Evita tampil tangguh hingga di gelas ke 2. Belum terlihat terpengaruh.


Baru 3 menit saja dari gelas ke 2 tadi, ya sudah lebih baik kutantang saja dia. Aku sudah tidak sabaran ingin segera mencicipi kenikmatan episode baru kami. Hasratku sudah lebih naik lagi dari permukaan, kini nyaris meluap meluber.


"Lanjut saja? Atau kau ingin melakukan sesuatu mengisi jeda gelas ke 3? Misalnya kita berkaraoke, atau kau mau menonton film biru?"


Mendengar kata-kataku sontak Evita menderaikan tawa manja. Sangat tau betul istriku ini benci film biru, alergi menyimpan hal-hal panas dalam Folder HP nya, dan ia mengaku tak pernah ber-m*****b**i. Tak menyukai juga bernyanyi, aku hanya sedang menggodanya saja.

__ADS_1


"Lanjut saja." Sahutnya, mengulum senyum simpul.


Ups. Great.


__ADS_2