
Dan inilah yang akhirnya aku lakukan, membrowsing, berseluncur menghimpun banyak informasi tentang fobia atau Rasa takut akan se*s ini.
Genophobia : Dikenal juga dengan Coitophobia, yaitu rasa takut akan pene*trasi atau sengg*ma. Orang yang mengalami Genofobia mungkin masih dapat menikmati interaksi se*sual seperti berpelukan dan berciuman, tapi takut untuk melakukan sengg*ma atau hubungan intim atau hubungan suami istri.
Erotopobhia : Trauma Erotophobia merupakan bentuk fobia yang paling umum terjadi. Seseorang yang menderita ketakutan ini menghindarkan diri dari semua hal berbau se*s, baik itu cinta se*sual, pertanyaan se*sual, atau pengetahuan se*sual.
Pada kenyataannya sesuai informasi yang kudapat, ada lebih dari 10 jenis kasus fobia pada se*s.
Aku mencoba untuk tidak membahas atau menanyakan tentang kasus ini pada seorangpun, khawatir orang itu akan curiga bila aku menyinggung tentang ini.
Walaupun bisa saja aku beralasan aku menanyakan untuk kebutuhan informasi bagi seorang klien.
Dengan kemampuan dan kecerdasan yang kumiliki, kuselidiki sendiri banyak hal yang berkaitan dengan 'kelainan' se*s ini lewat media internet.
Hasilnya, berdasarkan pada kata demi kata Evita dalam buku harian itu, sampailah aku pada ke 2 kesimpulan ini bahwa ada 2 kemungkinan yang bisa dihubungkan ke masalah yang sedang dihadapi gadis itu.
Kemungkinan Evita adalah salah satu penderita dari 2 jenis fobia itu tadi.
Sayangnya saja aku belum berkesempatan mengetahui apakah dia 'bisa' berciuman denganku atau tidak. Kalau memang ia bisa melakukannya, maka besar kemungkinan ia termasuk kedalam pengertian Genophobia itu.
Tapi kalau ia juga menghindari semua hal berbau se*s termasuk berciuman dan berpelukan, sudah dapat dipastikan ia termasuk sebagai penderita jenis fobia yang kedua ini.
Memang aku hanya seorang Pengacara, bukan seorang Dokter atau Pakar Kesehatan. Namun untuk kebaikan seorang Evita, apalagi ia tak lain dan tak bukan adalah calon istriku, aku bahkan akan merelakan diri pergi kuliah lagi hanya untuk menjadikan diriku seorang Pakar Kesehatan itu. Dokter yang sesungguhnya bagi dirinya. Dokter pribadinya.
Mungkin seorang Dokter se*solog atau ginekolog? Atau apa?
Yang jelas, juga berkat kemampuan berpikir yang kumiliki, bahkan sambil membrowsing, aku juga sekaligus berseluncur mencari suatu info lain. Info ini telah kurencanakan dalam benak dan akan kujadikan sebagai bagian dari program 'penyembuhan' Evita.
Ya, aku bermaksud dan berencana untuk menghilangkan ketakutannya akan se*s itu.
Belum pernah tersiar kabar publik ada yang pernah melakukan ini, mungkin aku akan menjadi orang pertama dimuka bumi ini yang akan 'menguji-cobakan' apa yang sekarang sedang kurencanakan dalam benak ini.
Lihat saja nanti.
###############
'...terjadilah. aku bukannya hendak mempermainkannya. kalaupun saat ini aku menerimanya, lihat saja nanti apa dia akan berubah pikiran begitu aku pada waktunya nanti memberitaukan ini padanya...'
__ADS_1
Demi Tuhan, aku berubah pikiran?
Sebaliknya my pretty woman, bidadariku, aku akan bertahan.
Aku akan tetap bertahan disisimu, tak akan pernah merubah pikiranku terhadapmu, dengan apapun yang terjadi pada dirimu.
Dengan apapun yang kau alami, aku bersumpah, akulah satu-satunya pria dimuka bumi ini yang akan menumpangkan bahuku untuk menjadi tempatmu bersandar.
Karena aku cinta padamu...
Aku mencintaimu, Evita Purnama Sari, SH.
Teramat sayang padamu, teramat cinta padamu. Cinta hanya kau seorang.
###############
Suatu hari Jumat siang menjelang sore, tepat 1 minggu setelah hari pengakuannya, sedang kucoba menghubungi Evita...
Setelah selama 1 minggu ini sengaja tak menelpon atau mengirim 1 pesan pun padanya sesuai yang ia inginkan, sesudah tempo hari aku mengantarnya pulang usai kami nyasar dan ia memberitaukan rahasianya itu, setelah itu ia meminta agar aku tidak dulu menghubunginya.
Mengantarnya tanpa kelanjutan pembicaraan, itupun sesuai keinginan Evita. Jadilah sepanjang perjalanan pulang saat itu, kami saling berdiam diri dan pembicaraan terakhir kami tentang...diary, berakhir menggantung diudara.
Tapi dihari ini aku sedang kembali menjadi si pria 'tak sabaran' itu...
'aku belum kepingin lagi membahas itu.'
"Evita..."
"Oke oke. Baiklah aku paham. Maafkan aku kalau begitu."
'tak usah minta maaf. dann, silahkan kalau memang abang mau menceritakan itu ke keluarga. aku sudah siap. pasrah. belum ada yang tau. cuma baru bang hari saja yang tau. mungkin sudah waktunya mereka sekarang tau.'
"Oh Tuhan, Evita. Karena itu, bisakah kita bertemu saja? Bicara 4 mata. Kita bicarakan lagi tentang ini lebih lanjut?"
'tidak. belum. belum mau.'
"Jadi kapan kira-kira kau akan mau?"
'tidak tau.'
"Baiklah, aku bisa paham. Satu hal yang kau perlu dengar dariku sekarang kalau memang kau masih belum ingin membicarakannya, Evita, aku tak akan berubah pikiran. Sampai kapanpun. Aku bersumpah. Aku tak akan pernah berubah pikiran. Apalagi meninggalkanmu? Kupastikan itu tidak akan pernah terjadi dalam hidupmu..."
Keheningan menyeruak...
cukup lama, hingga terpecahkan oleh suara samar itu. Suara isakan. Evita mengisak.
Lalu benar-benar menangis. Terang-terangan masih di sambungan telpon kami. Aku terhenyak, tapi mencoba tidak memberi komentar.
Aku sudah semakin paham seperti apa dia. Dia tidak pernah kekurangan kasih atau sayang. Bahkan diri dan hatinya dipenuhi oleh kedua hal itu, yang selama ini sudi ia bagi pada orang-orang berkekurangan diluar sana.
__ADS_1
Selama ini dia selalu dipenuhi oleh kasih sayang dan perhatian dari orang-orang terdekatnya. Dia bahkan tidak memerlukan apa-apa lagi. Sekalipun itu kata penghiburan dariku, tidak, dia mungkin tidak akan membutuhkannya.
Dia hanya membutuhkan satu hal saja disaat ini. Dipahami. Dia butuh dipahami pada masalahnya itu.
Dipahami oleh...aku.
"Kau baik-baik saja, Evita? Hubungi aku kapanpun kau sudah mau. Kita bicara lagi."
Hening kembali.
Diseberang Evita akhirnya terdengar menyahut. Sangat singkat.
'iya'
"Oke. Segini saja dulu. Sampai ketemu lagi. Evita.'
###############
"Lho Har, kau mau pergi lagi?"
Mama datang kerumahku saat ku kirim pesan menitip anak-anak dan pengasuh dirumah. Baru saja pulang kerja 25 menit lalu, aku sudah rapi bertukar pakaian dan siap pergi lagi keluar.
Hanya mengenakan stelan kaus trainning putih bergaris tepi biru.
Ku jawab pertanyaan mama,
"Iya, ma. Ada undangan main tenis dari klien. Orang penting, jadi aku tidak boleh sampai menolaknya. Titip anak-anak lagi, please ma?"
"Beres. Pergilah. Hati-hati di jalan. Bawa mobil atau motor?"
"Mobil tentunya. Kan klien penting."
"Ah ya, mama ora muddeng.'
"Trims, ma. Aku pergi dulu."
"Iya. Hati-hati di jalan. Oh ya, kau sudah dikabari, blum?"
"Dikabari apa?"
"Lho, Evita belum memberitaumu? Yang lain belum ada yang mengabarimu? Pertemuan 2 keluarga kita. Rembukan lagi buat tanggal kalian berdua menikah kapan. Lah sudah dari 1 minggu lalu koq sudah disebar informasinya. Masa' sih kau belum tau?"
My goodness, kenapa aku belum juga dikabari?
"Kapan itu, ma?"
"Lho, serius kau belum tauu? Sabtu lusa!"
"Astaga..."
__ADS_1
"Gimana sih koq kau belum tau? Aneh. Tapi lah iyaa, mama dan papa sendiri juga kenapa belum memberitaumu ya? Hahaha... ya mungkin karena mama-papa pikir kau itu sudah tau. Diberitau Evita sendiri."