Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 10 - Alea Hilang!


__ADS_3

"Alea!" Ucap Arez sembari mengetuk pintu, tapi tak kunjung mendapat jawaban.


"Alea!" Ulang Arez dengan volume suara yang lebih kencang dari sebelumnya. Tapi masih hening.


"Kemana ini anak? Tidur?"


Arez kembali ke mobil, untuk mengambil kunci cadangan di dashboard. Setelah mendapatkan kunci, ia bergegas membuka pintu karena hari yang sudah mulai gelap. Bersama Ana tadi, ia sampai melupakan waktu yang ternyata sudah beranjak malam.


Arez masuk ke dalam rumah. Hening. Tak ada tanda-tanda Alea di sana. Arez berjalan untuk memastikan kemana gadis itu.


"Lea?!" Panggil Arez mengetuk pintu kamar Alea. Masih sama. Hening yang menjawab. Dua tiga kali di ketuk pun masih tak ada jawaban.


Arez menekan gagang pintu yang ternyata tidak terkunci. Tapi, Alea tak ada di dalam sana.


Arez mencari ke segala sudut ruangan tapi hasilnya masih nihil.


"Sumpah itu bocil! Kalau gak bikin pusing ya bikin panik!" Gerutu Arez. Ia mengambil HP dan menekan nomor Alea untuk kemudian ia hubungi. Berdering, tapi tak mendapat jawaban.


[Pea! Lu jangan bikin gua khawatir, ya!] Tulis Arez melalui pesan WA.


[Lu di mana? Bales pesan gua!]


Beberapa saat menunggu, tak kunjung centang biru.


Arez memijat keningnya. "Tuhan! Pulang kerja bukannya mendapat ketenangan. Malah di bikin pusing sama bocil."


Arez berjalan keluar rumah, ia tergesa-gesa kembali berjalan menuju mobil. Untuk apalagi, kalau bukan untuk mencari Alea. Kali aja gadis itu masih di sekitar sini, pikirnya.


Hingga ...

__ADS_1


"Abang!" Panggil Alea tiba-tiba muncul di hadapan Arez. Arez tertegun menatap Alea.


"Mau kemana?" Tanya Alea dengan polosnya.


Arez masih terdiam. Bingung antara kesal dan lega.


"Abang? Kok diem? Kenapa terburu-buru?"


"Lu dari mana?!" Tanya Arez berusaha menahan perasaan ingin meng-aaarrrgghhh!


"Beli nasi." Jawab Alea senyum menyeringai sembari mengangkat kantong plastik yang sedari tadi ia tenteng.


"Gua nelpon kenapa gak di angkat?"


"Iyakah?" Alea mengambil Hp di dalam tas kecilnya. Benar saja. Banyak panggilan dari Arez dan dua pesan terpampang di sana.


"Bisa gak, gak usah bikin orang panik?"


Arez diam. Tak mungkin juga ia menceritakan kenapa ia bisa pulang lambat hari ini.


"HPku gak pernah di kasih nada. Jadi aku gak tau Abang nelpon." Sambung Alea lagi.


"Yaudah mulai sekarang di kasih nada."


"Apaan? Gak mau, berisik."


"Ya biar kalau gua ngubungin, lu cepet angkat."


"Ih, apaan? Gak penting amat. Udah, ah! Aku mau masuk. Aku udah laper. Nungguin abang pulang bisa mati kelaparan aku." Alea berlalu meninggalkan Arez.

__ADS_1


Arez mengusap rambutnya. Ia hanya bisa memperhatikan punggung Alea yang perlahan menjauh.


Ada perasaan sedikit lega itu bocil baik-baik saja. Arez mendengus dengan mengusap dada.


"Astaga..."


*


"Makan dulu!" Teriak Alea saat Arez Melawatinya di meja makan.


Arez hanya menatap.


"Lu aja. Gua belom laper. Gua mau mandi."


"Iya. Kalau laper ambil aja dalem rak piring. Tadi aku beli dua. Aku biar gini-gini juga baik hati." Ucap Alea sambil menyuap nasinya.


Arez berlalu.


Tak lama kemudian ia kembali lagi. Ia ikut duduk di depan Alea. Alea melotot memperhatikan.


"Katanya mau mandi?"


"Gak jadi. Gua mau makan." Ucap Arez yang tetap stay cool.


"Ku kira, cuma ABG aja yang bisa labil. Ternyata om-om juga bisa labil." Alea cekikikan.


"Jangan berisik! Sana ambilkan nasinya." Balas Arez, tanpa sadar mukanya sedikit memerah.


"Iya! Iya!" Alea bergegas.

__ADS_1


Untuk kali pertama, mereka makan malam berdua, walau sama-sama di selimuti keheningan.


__ADS_2