Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 6 - Kembali Beraktivitas


__ADS_3

Malam pertama,


Ini adalah malam pertama Arez dan Alea berada di kota ini. Udara yang dingin memang cocok di temani oleh secangkir kopi hangat.


Aroma kopi yang wangi, semakin membuat Arez terlena untuk menikmati ketenangan malam. Duduk di teras, merasakan semilir angin yang sesekali membelai kulit.


"Bang! Tanda tangan." Ucap Alea tiba-tiba datang di hadapan Arez sembari menyodorkan sebuah kertas.


Arez yang baru saja menyeruput kopinya menatap gadis itu heran. "Ini apa?"


"Surat perjanjian yang aku tulis sendiri. Abang baca dulu, abis itu tanda tangan." Alea duduk di sebelah Arez, untuk memastikan kertas itu langsung di tanda tangani."


Arez mengambil kertas itu, membacanya secara seksama.


Surat perjanjian :


1. Abang harus tidur di kamar lain


2. Abang tidak boleh sentuh-sentuh Alea


3. Abang tidak boleh ikut campur urusan Alea


4. Abang tidak boleh bilang ke siapa-siapa hubungan kita.


5. Abang tetap harus bertanggung jawab pada Alea, dalam hal apapun.


Arez mengangguk-angguk pelan setelah membaca surat perjanjian itu. Lagi, ia menyempatkan menyeruput kopinya.


"Ini doang?" Tanya Arez. Alea mengangguk.


"Nanti kalau ada yang kurang aku tulis lagi."


Arez nyengir.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Gak. Mana pulpennya?"


Alea menyodorkan pulpen yang sedari tadi ia pegang.


Setelah selesai menanda tangani perjanjian itu, Arez memberikan lagi kertas itu ke Alea.


Mereka sama-sama hening. Sesekali Alea melirik Arez yang kelihatan tenang tanpa ada beban.


"Abang gak buat perjanjian?" Tanya Alea,


"Untuk apa?"


"Biar apa kek. Biar aku gak gimana-gimana."


"Gak ada. Lakukan apa saja sesuai keinginan lu. Lu udah gede, pasti bisa bedain salah dan bener. Gua cuma minta lu jangan sampai melakukan hal-hal yang gak-gak di luar rumah ini. Lu tau kan ini kota orang dan kita gak punya siapa-siapa disini."


"Ya lu gua bebasin mau ngapain juga. Tapi bebas bukan bearti lu mau seenaknya. Bebas dan bertanggung jawab, itu maksud gua."


"Iya!" Alea mengangguk.


"Udah sana tidur. Besok lu udah mulai sekolah,"


"Iya, Bang. Ma--makasih."


Alea berlalu, ia berjalan pelan sesekali ia melirik Arez yang masih terlihat tenang dan mulai menyalakan sebatang rokok.


Alea masuk ke dalam rumah, segera menuju kamarnya. Bukan tidur, ia lebih milih berselancar di berapa aplikasi untuk sekedar scroll-scroll.


***


Bekerja di sebuah Perusahaan jasa pengiriman barang bagian input data, dengan gaji yang lumayan, tidak membuat Arez harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan hidup. Untuk menghidupi dirinya sendiri dan Alea itu lebih dari cukup. Bersyukur? Lalu apa lagi?

__ADS_1


Arez Syahreza, hidup sebatang kara sejak kecil membuat ia terbiasa untuk mandiri. Kuat? Bukan lagi. Kerja keras yang membuat ia bisa berada di titik sekarang setelah melewati lika-liku dan pahitnya kehidupan.


Banting tulang, putar otak itu sudah biasa ia lakukan sejak dulu. Terbiasa untuk berdiri di kaki sendiri, tidak menyusahkan orang lain dan tidak akan pernah menjadi beban untuk siapapun.


Berawal dari iseng dan pertama kali main aplikasi hijau itu, membawanya kepada perubahan hidup yang sangat di luar dugaan. Entah ini hukuman Tuhan atas keisengannya itu, atau apalah.


Tak pernah terpikir dalam hidupnya akan menikah di usia sekarang, padahal itu sama sekali tidak terlintas di pikiran Arez. Yang ada di pikirannya hanya kerja, kerja, kerja dan menikmati hidup. Soal menikah nanti, itu bisa di atur. Tapi sekarang? Benar-benar di luar kehendak.


Lagi, kau tidak bisa melawan takdir.


*****


"Sana masuk," ucap Arez saat tiba di depan gerbang sekolah baru Alea. Alea turun dari mobil. Memasang wajah masam menatap Arez.


"Malu, anjir! Aku kek apaan? Abis di antar langsung di tinggal."


"Gak mungkin gua anter lu sampai ke kelas. Udah kek anak SD."


"Gak mau!" Alea malah kembali masuk ke dalam mobil.


"Astaghfirullah, ini bocah!" Arez mengusap wajahnya.


Alea masih cemberut.


"Yaudah iya. Gua anter lu!"


Mendengar ucapan Arez, senyum mengembang di bibir Alea.


"Ayo, buruan! Ntar gua bisa telat ke Kantor."


Mereka berjalan beriringan.


Mata Alea terus saja mengamati sekeliling. Sekolah baru, dan ia harus beradaptasi lagi dengan orang-orang baru.

__ADS_1


__ADS_2