
Sebuah notifikasi masuk ke HP Arez, Anna yang kebetulan sedang mengambil berkas di meja kerja Arez lantas melirik notifikasi yang muncul di atas layar itu.
Alea Bocil : [Bang, nanti pulang beliin aku makanan. Soalnya males keluar. Jangan lupa, aku tungguin.] Isi pesan yang tertera di sana.
"Si--siapa?" Benak Anna, dan mengambil HP itu. Ingin rasanya membuka pesan itu. Tapi apa daya, layarnya di kunci.
"Ann?" Panggil Arez yang baru tiba dari toilet. Anna sedikit gelagapan dan meletakkan HP Arez.
"Gua ambil ya, berkasnya. Mau gua serahkan ke pak Cipto." Ucap Anna mengalihkan pembicaraan.
"Iya. Titip, ya."
"Em," Anna menyunggingkan senyum kecil, lantas ia berlalu.
Di benak Anna masih menyimpan tanya. "Siapa?" Hatinya menjadi resah tak karuan dan ada rasa kecemburuan di sana. Anna terlihat sangat kesal, ingin segera menanyakan, siapa pengirim pesan itu.
*****
Seperti biasa,
Sebelum pulang ke rumah, Arez lebih dulu mengantar Anna. Tapi ada yang aneh dengan gadis itu sore ini. Ia lebih diam dan wajahnya juga terlihat masam.
"Udah sampai." Ucap Arez mencairkan suasana yang hening itu.
"Gak mampir?"
"Keknya gak, dah. Mau buru-buru pulang."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ya, gak apa-apa. Udah sore juga."
"Ada yang nungguin lu, yak?"
Arez menatap Anna heran.
"Yaudah. Gua pulang dulu. Makasih udah di anterin." Ucap Anna tanpa menunggu jawaban Arez.
Tanpa sepatah kata lagi, Anna berlalu.
"Tuh orang kenapa? Gak kek biasanya." Gumam Arez.
Arez hanya memasang wajah kebingungan, sampai akhirnya ia beranjak pulang.
*****
"Kemana ini bocil? Mandi, kah?" Tak kunjung mendapat jawaban, Arez memutuskan untuk memakai kunci cadangan.
Arez terdiam sesaat memperhatikan Alea yang tertidur pulas di atas sofa. Baju kaos hitam polos dan celana pendek yang di pakai Alea berhasil membuat wajah Arez sedikit memerah.
"Astaghfirullah," ucap Arez sembari mengusap wajahnya.
"Untung gua dah tobat, anjir!" Ucapnya lagi,
"Di liat dosa, gak di liat mubazir."
__ADS_1
"Tapi kan, gua ini suaminya. Apa iya dosa?"
Arez masih bergumam sendiri. Ada sedikit perdebatan antara otak dan hatinya.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, Arez lebih memilih berlalu dari sana membiarkan Alea yang sedang tertidur dan meletakkan apa yang ia bawa untuk Alea di atas meja. Jiwa lelaki normalnya mulai memberontak menyaksikan pemandangan yang membuat mata segar seketika.
"Aarrgghh!!!"
*****
Sementara itu ...
Anna berdiam diri di kamar, tidak ada kegiatan lain yang ia lakukan. Seperti biasa, ia hanya menghabiskan waktu sendirian.
Pesan WA yang ia lihat di HP Arez tadi berhasil membuat perasaannya campur aduk, kacau balau, overthinking dan cemburu yang teramat sangat.
Ia benar-benar tidak bisa melupakan pesan itu yang selalu saja menghantui perasaannya sejak tadi.
Ada rasa takut kalau Arez mempunyai seseorang yang ia cintai. Memang tidak salah, secara dirinya bukanlah pacar Arez. Arez bukanlah miliknya.
Apakah cinta rahasia ini akan menjadi nyata? Atau hanya imajinasi yang akan terus saja bermain di dalam khayalan?
Anna sangat takut kehilangan Arez jika Arez akan bersama perempuan lain. Di lain sisi ia juga takut mengungkapkan perasaannya jika mendapat penolakan yang justru akan membentang jarak antara dirinya dan Arez.
Anna benar-benar seperti orang gila. Ia menangis sesegukan. Tak di sangka, satu isi pesan yang ia baca bisa memporak porandakan hatinya seperti ini.
Ia benar-benar takut kehilangan Arez,
__ADS_1
Dan Arez adalah laki-laki yang paling ia cintai teramat sangat.
"Aku harus mencari tau. Siapa cewek itu!"