
"Lu kok gak pernah cerita kalo lu punya adek?" Tanya Anna yang memang sudah gatal lidahnya untuk menanyakan hal itu pada Arez sedari tadi.
Arez tak bergeming, ia seperti enggan untuk menjawab pertanyaan yang pasti akan merembet ke mana-mana.
"Setau gua...bukannya, lu anak tunggal, ya?" Sambung Anna lagi yang sangat menunggu jawaban Arez yang masih hening.
"Rez, lu kok diem aja, sih? Dia itu siapa? Dari logatnya dia bukan orang sini."
Arez menelan ludah mendengar pertanyaan Anna yang beruntun. Ia mendengus pelan, diamnya bukan di sengaja, tapi berusaha mencari alasan yang tepat untuk pertanyaan Anna itu.
"Dia adek sepupu gua, Ann."
Anna mengernyitkan dahi, ia berusaha mencerna ucapan Arez.
"Kebetulan, dia juga baru pindah ke sini. Kuliah." Jawab Arez lagi.
Anna hanya diam. Terlihat ia menampakkan wajah kepercayaannya pada Arez, walau dalam hatinya masih menyimpan banyak tanya. Ia hanya bisa berharap, semoga apa yang Arez katakan adalah sebuah kejujuran.
"Yaudah, kita pulang, ya. Udah jam 10, nih." Ajak Arez.
"Iya," Anna mengangguk pelan.
*****
"Baru pulang?" Tanya Alea saat Arez masuk ke rumah dengan gayanya yang melipat tangan ke dada. Ternyata ia lebih duluan sampai rumah.
"Bukan urusan lu!" Jawab Arez ketus, kemudian merebahkan diri di sofa ruang tamu.
Alea hanya diam memperhatikan.
__ADS_1
"Gua kira lu belom pulang, masih asik pacaran." Celetuk Arez.
"Enak aja! Yang asik pacaran itu Abang, bukan aku!"
"Terserah lu aja."
Arez bangkit dari rebahan nya. Ia melirik Alea sekilas.
"Gua bingung sama lu."
"Apaan?" Tanya Alea merasa tidak ada salah dari dirinya.
"Lu sendiri yang gak mau status kita di ketahui orang-orang, tapi lu sendiri juga yang seperti akan membongkar semuanya."
"Maksud Abang apa?"
"Semua temen-temen gua tau kalau gua ini anak tunggal. Anak tunggal mana yang punya adek? Mengada-ngada!"
"Apa?! Gua kenapa?!" Arez mendongak menatap Alea tajam.
Nyali Alea menciut. Melihat ekspresi wajah Arez dan mendengar suara Arez yang meninggi, membuat wajahnya terasa panas. Matanya berkaca-kaca. Ia berusaha menahan untuk tidak menangis.
"Coba pegang komitmen! Kalau tidak ingin ketahuan, ya jangan memberi kesempatan orang-orang untuk mengetahui. Jaga sikap dan perkataan agar tidak menimbulkan pertanyaan!"
Alea mulai terisak. Air matanya jatuh dengan sendirinya.
"Jangan cengeng!"
"Iya enggak!" Jawab Alea di sela tangisnya.
__ADS_1
"Gua cuma nasihatin, lu. Gua juga mikirin lu. Kalo sampai orang-orang tau, lu gimana? Mana ada orang yang masih bersekolah itu Menikah!"
"Abang, sih. Kenapa Abang bilang gak kenal? Kan aku jadi kesel!" Jawab Alea dengan wajah merahnya. Sesekali ia mengelap pipi, Arez hanya diam memperhatikan.
"Udah gak usah nangis! Cengeng banget!" Ucap Arez. Mulutnya bisa saja mencibir, tapi sebenarnya di dalam hati ia juga tak tega melihat cewek menangis.
"Iya aku minta maaf. Lain kali gak aku ulangi." Ucap Alea masih tersedu-sedu.
"Iya."
"Apa pacar Abang nanya-nanya?"
"Enggak."
"Apa dia marah?"
"Enggak."
"Yaudah. Aku minta maaf! Gak mau tau, pokonya harus di maafin."
"Iya, Bocil! Yaudah sana lu istirahat. Gua capek. Gua juga mau istirahat. Jangan nangis mulu, pusing gua liatnya!" Ucap Arez yang menyimpan sedikit perhatian yang tersembunyi di balik ketus perkataannya.
Alea mengangguk, kemudian berjalan menuju kamarnya meninggalkan Arez.
****
"Bocah! Gua jadi serba salah dan gak tega. Di marahi dikit nangis. Di bentak dikit nangis." Benak Arez memperhatikan Alea yang berlalu.
"Gini kali hidup gua, anjir!" Arez mengusap rambutnya dan kembali rebahan di sofa. Ia memejamkan mata, berusaha untuk melupakan semua beban pikiran.
__ADS_1
Arez juga bingung. Mau di bawa kemana hubungannya dengan Alea yang seperti tak pernah mendapat titik terang.