Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 24 - Warteg Depan Rumah


__ADS_3

"Mata Alea terlihat sembab. Sejak kejadian pagi tadi, ia memilih untuk diam di kamar. Kini ia keluar, karena perutnya yang keroncongan.


"Kenapa?" Tanya Arez heran.


"Aku laper." Jawab Alea polos.


Arez sedikit tertawa. Merasa lucu dengan tingkah bocah di depannya itu.


"Yaudah. Kebetulan gua juga laper. Yok! Ke Warteg depan aja."


Alea mengangguk kemudian ia membuntuti Arez.


*****


"Lu mau makan apa?" Tanya Arez saat mereka sudah sampai di Warteg Bu Romlah.


"Bilang aja sama bude Romlah, pesanan Alea yang kayak biasa." Jawab Alea. Arez mengernyitkan dahi.


"Bilang aja kek gitu. Bude udah kenal kok sama aku. Kan aku selalu beli di sini." Sambung Alea lagi.


"Iya, iya. Yaudah duduk sana. Gua pesenin dulu."


"Iya." Alea berlalu.


*


"Bu, pesen nasi ayam goreng sama es teh satu. Sama yang kayak biasa." Ucap Arez pada bu Romlah--pemilik Warteg. Bu Romlah tampak keheranan karena ia baru pertama kali melihat Arez.


"Itu," Arez menunjuk Alea yang sudah duduk di pojokan Warteg.

__ADS_1


"Oh. kie kakange Alea, ya?" Tanya bu Romlah--pemilik Warteg. Arez hanya menggaruk tengkuknya.


"Duh, lupa. Kan gak bisa bahasa sini. Maaf, maaf." Bu Romlah tertawa. Arez juga ikut tertawa melihat ekspresi bu Romlah.


"Kamu Abangnya Alea?" Tanya bu Romlah lagi.


"Iya, Bu."


"Gak usah panggil Ibu. Panggil aja--Bude."


"Iya, Bude."


"Tumben berdua. Biasanya Alea sendirian." Tanya bu Romlah dengan tangannya yang cekatan membuatkan pesanan Arez.


"Iya, Bude. Hari ini libur."


"Yaudah. Baik-baik kalian berdua yang lagi jauh dari keluarga. Kalau ada apa-apa jangan sungkan minta tolong sama Bude dan suami Bude." Ucap bu Romlah. Tampak suaminya--pak Tono tersenyum sembari menganggukkan kepala yang juga di balas oleh Arez.


"Iya. Yaudah tunggu aja di sana. Nanti Bude yang antar."


"I--iya, Bude. Makasih."


*


"Lu kok pinter?" Ucap Arez saat ia tiba di depan Alea.


"Apanya?" Tanya Alea heran.


"Ngarang cerita." Jawab Arez

__ADS_1


"Iyalah. Setau Bude, kita berdua adek kakak yang di tinggal ortu ke luar pulau."


Arez hanya tersenyum kecil.


Kemudian bu Romlah datang,


"Ini punya Alea." bu Romlah meletakkan apa yang ia bawa.


"Nasi ayam bakar double sambel sama es jeruk." Ucap Alea dan bu Romlah secara bersamaan, kemudian mereka berdua cekikan. Arez yang memperhatikan hanya geleng-geleng kepala.


"Dan ini pesanan bang Arez. Nasi Ayam goreng dan es teh." Sambung bu Romlah yang juga meletakkan pesanan itu di depan Arez.


"Makasih, Bude." Ucap Alea yang seketika kembali ceria.


"Makasih, Bude." Arez mengikuti.


"Iya, sama-sama. Selamat menikmati." Jawab bu Romlah tersenyum lebar.


Arez hanya diam memperhatikan Alea yang sedang menikmati makannya. Kemudian ia menyunggingkan senyum yang bermakna... entahlah.


*****


Melisa,


gadis itu tampak membawa koper besar. Ya, ia baru saja pulang dari liburannya setelah satu minggu meninggalkan kota Jakarta.


Ada rawa was-was setelah ia kembali pulang. Antara rasa bersalah dan bingung. Ia juga tidak berpikir panjang atas candaannya pada Alea. Tapi ia juga tidak begitu percaya apa yang di ucapkan Alea tadi. Ia berpikir mungkin Alea hanya mau balas dendam atas candaannya, seolah-olah ia benar-benar hancur. Melisa masih menyakini kalau semua baik-baik saja.


Tidak merasa bersalah--

__ADS_1


"Tentu saja."


__ADS_2