Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 32 - Motor Rusak


__ADS_3

"Bang, kok motor aku gak nyala, ya?" Tanya Alea pada Arez yang sedang asik menyeruput kopi paginya.


"Iya?" Tanya Arez. Ia kemudian menghampiri motor Alea dan mencoba meng-staternya tapi tetap tidak menyala.


"Aneh banget. Padahal motor baru." Celetuk Alea dengan wajah kesalnya.


"Gak tau gua. Ntar gua coba bawa ke bengkel."


"Jadi gimana dong? Gimana aku mau berangkat ke sekolah?"


"Udah, lu tenang aja. Kan sekarang gua udah masuk pagi sama kek lu. Jadi lu bisa berangkat bareng gua."


"Terus pulangnya gimana? Nebeng?"


"Nebeng ke cowok lu itu? Gak ada! Ntar gua sewain ojek khusus buat jemput lu pulang. Enak aja nebeng-nebeng. Mau di taroh di mana muka gua?" Tolak Arez yang kembali memasukkan motor Alea ke garasi.


Alea hanya diam sembari manyun.


"Yaudah ayo berangkat. Ntar telat nyalahin gua pula." Sambung Arez lagi.


Alea bergegas masuk ke dalam mobil.


Gak ada obrolan berarti selama perjalanan. Alea lebih memilih diam sembari memainkan ponsel. Arez sendiri fokus menyetir.


*****


"Lha? Gak bawa motor, Dek?" Tanya pak Udin saat Alea tiba. Pak Udin sudah sangat akrab dengan gadis itu walau hanya sebatas sapaan pagi dan pulang sekolah.


"Gak, Pak. Motornya rusak. Jadi di anterin." Jawab Alea tersenyum.


"Lah walah. Semoga cepet di benerin, ya."


Nathan selalu saja tepat waktu. Cowok itu selalu datang tak lama setelah Alea. Entah di sengaja atau tidak.


"Gak bawa motor?" Tanyanya sama seperti pak Udin.


"Enggak, Kak. Motornya rusak."


"Kok bisa?"


"Gak tau, gak nyala."

__ADS_1


"Yaudah, nanti aku coba liat."


Mereka kemudian berjalan beriringan menuju kelas.


"Pulang aku antar, ya?"


"Gak usah, Kak. Soalnya, bang Arez udah sewain ojek. Katanya gak enak kalo harus nebeng."


"Oh," Nathan tersenyum kecil, ada kekecewaan di sana. "Payah!"


****


"Eh, Mas Arez datang lagi. Pagi, Mas. Mau pesen apa?" Tanya bu Ropiah sumringah saat Arez tiba di warung kopinya.


"Gorengan aja, Bu. Tadi di rumah udah ngopi." Jawab Arez santai.


"Gabut lagi, Mas? Masuk kantor jam sembilan, tapi udah siap aja jam segini." Tanya bu Ropiah di sela senyumnya.


"Iya, Bu. Lagian gak ada kerjaan juga di rumah. Mending aku nongkrong aja di sini."


"Yo uwes. Betah-betah jadi pelanggan ibu."


"Keknya aku bakal jadi pelanggan setia ibu, nih." Balas Arez tertawa.


*****


Anna hanya melirik sesaat, kemudian kembali fokus pada komputernya.


"Gua ada salah, ya?" Tanya Arez lagi.


"Gak, kok."


"Terus?"


"Gak ada. Bisa gak ntar pulang temenin gua belanja? Stok makanan di kosan udah abis."


Arez diam sejenak.


"Gak bisa, ya?" Anna kembali menyakinkan.


"Yaudah, iya. Gua temenin." Balas Arez tersenyum kecil.

__ADS_1


Anna terus saja memperhatikan wajah itu. Wajah yang seperti menyimpan kegusaran di hati. Sangat berbeda seperti sebelumnya.


"Gua gak tau apa yang sedang lu pendam, Rez. Tapi gua, sebisa mungkin gak mau nyiptain jarak. Gua gak peduli siapa orang yang sedang deket sama lu sekarang. Yang jelas, gua siap bersaing dengan siapapun itu."


*****


Selepas pulang bekerja, Arez dan Anna mampir ke supermarket terdekat. Anna segera mengambil troli dan mulai mengisinya dengan beberapa keperluan yang ia butuhkan. Sedangkan, Arez hanya mengikuti dari belakang.


Sampailah mereka di rak makanan ringan dan beberapa makanan yang lainnya. Seketika bayangan Alea melintas di pikiran Arez. Wajah senyum ceria yang seperti sedang mengambil beberapa makanan di sana.


"Aku mau ini!" Alea di dalam bayangan Arez seolah berbicara pada dirinya.


"Ann, lu tunggu bentar. Gua mau ambil keranjang." Ucap Arez tanpa menunggu persetujuan Anna ia segera berlalu.


Saat Arez kembali ia mulai memasukkan beberapa cokelat dan biskuit ke dalam keranjang, juga beberapa makanan ringan lainnya. "Kesukaan lu, nih." Gumam Arez. Anna yang memperhatikan hanya bisa diam dengan wajah penuh tanya.


"Gua baru tau ternyata lu suka ngemil juga?" Tanya Anna memperhatikan Arez yang penuh semangat.


Arez hanya membalas dengan senyum getir.


"Yaudah lanjut belanjanya. Takut keburu sore." Jawab Arez mengalihkan pembicaraan.


"Emang kenapa? Perasaan dari kemaren lu kek buru-buru banget. Gak kek biasanya."


Arez diam seketika, ia berusaha mencari jawaban yang juga membuat ia kebingungan dengan dirinya sendiri.


Anna kembali mendorong troli dan memasuki lorong demi lorong dengan perasaan yang semakin campur aduk atas sikap Arez yang menurutnya sedang menyembunyikan sesuatu.


*****


"Nih, buat lu." Arez meletakkan kantong plastik yang berisi belanjaan yang ia beli di supermarket tadi tepat di depan Alea yang sedang duduk di sofa.


"Wuih! Tumben." Alea terbelalak dengan wajah girangnya saat melihat isi dalam kantong plastik itu.


"Tadi gua nemenin temen gua belanja. Ya gua keinget lu aja. Soalnya muka lu identik dengan jajanan."


"Ish!"


"Ya emang bener. Kesukaan lu banget, kan?"


"Bodoamat! Tapi makasih. Tau aja stok jajanan aku udah menipis."

__ADS_1


Alea mulai menikmati cokelat kesukaannya, sedangkan Arez berlalu ke kamar.


Begitulah keseharian mereka yang memang tidak pernah mengsengajakan untuk ngobrol berdua. Lebih memilih untuk menjalani kehidupan masing-masing dengan dunia masing-masing.


__ADS_2