Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 27 - Kecelakaan


__ADS_3

Ramai orang berkerumun di jalan raya, tak jauh dari kediaman Arez. Arez yang hendak melewati jalan itu terpaksa harus menepi. Tak hanya Arez, mobil lainpun terpaksa harus ikut menepi karena akses jalan yang tertutup karena keramaian itu.


Berbondong-bondong orang datang dan semakin berkerumun, membuat Arez sedikit penasaran. Ia lantas menurunkan kaca mobil dan bertanya pada seorang di sana.


"Ada apa ya, Pak?" Arez sedikit mengamati punggung orang-orang di sana.


"Ada ABG kecelakaan, Mas. Pakai motor." Jawab bapak itu membuat Arez tersentak.


"ABG?"


"Iya. Kayaknya belom pandai bener naik motornya, Mas. Dia yang nabrak."


Tak menunggu waktu lama, segera Arez turun dari mobil, dan sedikit berlari menuju ke kerumunan itu. Wajahnya seketika pucat, jantungnya berdetak kencang, serta pikiran yang hanya melintas wajah Alea.


Tak peduli, Arez menerobos banyaknya orang-orang di sana, yang ia harapkan bahwa orang yang mengalami musibah itu bukanlah Alea.


Overthinking semakin menjadi, saat mendengar bisik-bisik bahwa ABG yang mengalami ini ternyata sudah meninggal. Mata Arez seketika memerah, ia lebih mempercepat langkahnya. Hingga akhirnya ia berhasil menembus kerumunan.


Seorang gadis remaja tergeletak bersimbah darah bersamaan dengan motornya yang sudah hancur tak karuan. Gadis berperawakan kecil yang malang, hingga akhirnya ia di gotong masuk ke ambulans.


Arez terduduk lemas. Kakinya seperti tak bertulang. Untuk berdiri saja seperti tidak bisa. Jantungnya masih berdetak kencang. Kemudian ia mengusap wajahnya. Hingga salah seorang warga menepuk bahunya, membuat Arez sedikit tersadarkan.


"Mas? Mas gak apa-apa?" Tanya orang itu yang membuat Arez menoleh.


Arez menatap orang-orang yang mulai membubarkan diri bersamaan dengan sirine ambulans yang memecah malam itu.

__ADS_1


Arez bangkit, ia berjalan ke mobilnya dan bergegas untuk pulang. Wajahnya masih menyimpan kecemasan.


*****


"Alea." Panggil Arez sembari mengetuk pintu. Tak lama menunggu, sosok gadis mungil itu muncul dari balik sana dengan wajah keheranan.


Arez tak langsung masuk ke rumah, ia menatap Alea dengan tatapan entah, yang membuat Alea sendiri kebingungan dan berpikir yang tidak-tidak.


"Abang ngapain sih liatin aku kek gitu? Dateng-dateng bukannya kasih salam kek apa kek. Malah liatin aku udah kayak liat lauk."


"Gak, gak apa-apa."


"Pulang malem, gak kasih kabar. Datang-datang kek orang linglung. Abang sehat?"


"Apaan? Orang aku abis pulang sekolah gak kemana-mana. Jiwaku ini sudah nyaman dengan profesi rebahan."


"Tapi lu bener-bener gak kenapa-kenapa?"


"Gak, lah! Abang khawatir?"


"Enggak, gua khawatir sama motor yang baru gua beliin."


"Dih!" Alea memasang wajah kesal dan kemudian berlalu. Ia lebih memilih duduk di ruang tamu sembari memainkan ponsel dari pada harus ngomong dengan Arez yang selalu saja menyebalkan baginya.


Di sisi lain, Arez mendengus lega. Peristiwa tadi berhasil membuat perasaannya sedikit terkecoh. Rasa takut kehilangan itu ada, tapi entahlah ... mungkin ini sekedar rasa tanggung jawab yang tak ingin berubah menjadi kegagalan karena tidak berhasil menjaga Alea. Begitu benak Arez.

__ADS_1


Arez kemudian masuk ke dalam rumah, dan menghampiri Alea.


"Udahan maen Hpnya. Siap-siap, gih. Gua mau ajakin lu makan. Gua tau, lu pasti belom makan."


"Ish! Tinggal beli doang di depan. Pake siap-siap segala." Jawab Alea tanpa melihat Arez.


"Kita makan di luar. Di tempet laen."


Alea tersentak kaget. "Abang serius? Gak lagi ngeprank, kan?"


"Kagak, dudul! Buruan sana."


"Wih! Keknya Abang lagi kesambet, ya? Tumben-tumbenan. Dari pulang gelagatnya sudah aneh. Atau jangan-jangan ada motif di balik semua ini?"


"Jangan banyak cingcong. Udah kayak intel aja, lu. Buruan! Gua mau bersih-bersih dulu. Sambil gua bersih-bersih lu siap-siap. Karna gua tau, cewek kalo udah dandan bisa memakan waktu yang lama sampai waktunya bisa di pake buat ternak buaya."


"Sangat pengertian!" Alea cekikikan.


"Dahlah."


"Iya! Bawel!"


Alea berlari kecil menuju kamarnya, sedangkan Arez geleng-geleng kepala tapi dengan sedikit senyum mengembang di sudut bibirnya.


"Bocil!"

__ADS_1


__ADS_2