Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 18 - Cinta dalam diam


__ADS_3

"Makasih ya, Rez. Udah anterin gua pulang. Gua jadi ngerepotin lu."


"Biasa aja, Ann. Kan udah gua bilang, selagi gua bisa nolong ya gua bakal lakuin."


Ana tersenyum, "Gak mau mampir dulu?"


"Gak usah, Ann. Gua langsung pulang aja."


"Oke. Hati-hati, ya."


"Iya."


Arez berjalan menelusuri gang menuju mobilnya, tak lupa ia juga menyapa ibu-ibu yang selalu stay nongkrong sore.


*****


"Gua gak tau perasaan apa ini? Tapi gua akui, gua nyaman saat bersama Arez." Gumam Anna saat ia merebahkan diri ke kasur. Pikirannya melayang ke kejadian beberapa minggu lalu.


*


"Lu serius, Ra?" Tanya Anna pada rekannya--Tiara.


"Iya, serius. Kan gua yang input nama-nama staff yang akan di pindahkan."


"Kenapa harus Arez, sih? Apa gak ada staff lain?"


"Kinerja dia bagus. Staff seperti dia di butuhkan di sana biar perusahaan kita cabang sana juga maju."


Anna tampak gelisah dan susah hati. Seketika nafsu makannya hilang mendengar Arez yang akan di pindah tugaskan.


"Yuk, balik. Udah habis nih jam istirahat kita. Ntar di marahin sama Bos." Ajak Tiara.


"Lu duluan aja, Ra. Gua nyusul."

__ADS_1


"Oke."


Tiara berlalu meninggalkan Anna yang masih terlihat gelisah. Sesekali ia memijat kening seperti memikirkan hal yang begitu rumit.


Beberapa menit kemudian Anna beranjak dari kantin. Ia tak langsung masuk ke ruangannya, tapi menuju ruangan Tiara yang merupakan staff HRD.


"Gua mohon sama lu, Ra." Ucap Anna menyampaikan isi hatinya pada Tiara.


"Jadi lu kesini buat ini?" Kenapa sih, Ann?"


"Gua gak tau, Ra. Karena jujur aja, sejak Arez masuk ke perusahaan kita, gua udah suka. Mungkin ini terdengar gila. Tapi gua akui, gua cinta pada pandangan pertama. Gua gak mau jauh-jauh dari dia."


"Kenapa gak jujur aja sama Arez? Nyatain perasaan lu?"


"Nanti aja, Ra. Gua gak mau terburu-buru. Karena Arez juga belum ada ngasih sinyal ke gua."


"Gua sebagai sahabat, kasihan sama lu, Ann. Arez juga gua liat tipikal cowok yang terlalu cuek."


Tiara diam sejenak hingga akhirnya ia mengangguk.


***


Tiara berjalan ke ruang manager untuk menyerahkan data staff-staff yang akan di pindah tugaskan.


"Sudah selesai, Ra?" Tanya pak Tomi yang merupakan manager perusahaan itu.


"Sudah, Pak. Maaf Pak, untuk wilayah Purwokerto aku tambahin satu staff lagi karena aku yakin akan lebih baik jika di handle oleh mereka berdua."


"Siapa saja?"


"Arez dan Anna."


"Oh, oke. Kamu atur saja, Ra. Dan pastikan minggu depan mereka sudah berada di wilayah tugas."

__ADS_1


"Siap, Pak."


"Makasih, Ra."


"Sama-sama, Pak. Saya permisi dulu." Tiara berlalu meninggalkan ruangan pak Tomi.


Tiara mendengus lega. Sesaat kemudian Anna datang menghampirinya.


"Gimana, Ra?"


"Aman. Sesuai ke inginan lu. Lu ikut Arez di pindahkan ke Purwokerto."


Seketika raut wajah Anna sumringah bukan main. Wajah yang sebelumnya tampak murung, kini ceria merah merona.


"Makasih banyak, Ra. Lu emang sahabat terbaik!" Anna memeluk Tiara, dan di balas Tiara dengan senang hati.


"Moga aja sering-sering bersama bikin kalian jadian." Ucap Tiara.


"Aamiin."


*


Anna tersadar dari flashback nya, sesaat ia mengambil HP untuk mengirimkan pesan singkat pada Arez.


[Udah sampai belum?] Tulisnya.


Arez yang baru saja tiba membuka pesan itu dan membalasnya.


[Baru aja,]


[Syukurlah. Jangan lupa mandi dan istirahat.] Balas Anna kemudian. Tapi tak kunjung dapat jawaban.


"Gua tau mencintai dalam diam itu menyakitkan. Tapi, gua takut jika aku mengungkapkan perasaan Arez justru akan menjauh. Biarlah seperti ini. Yang penting, gua selalu bisa bersamanya." Ucap Anna sembari memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2