Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 35 - Makasih


__ADS_3

Anna tampak gelisah, jam segini meja kerja di sebelahnya masih saja kosong padahal jam sudah menunjukan pukul 11.00.


Anna kembali membuka pesan yang Arez kirimkan tadi malam untuknya. Pesan itu tak kunjung mendapat jawaban hingga saat ini. Jangankan di jawab, centang biru pun tidak.


[Ann, besok gua izin datang agak lambat. Ada sesuatu yang harus di selesaikan pagi besok. Gua juga udah izin sama pak Cipto. Lu besok berangkat sendiri, ya. Takutnya gua lama, ntar lu telat.]


[Sesuatu apa?] Balas Anna penasaran.


Anna kembali mengirim pesan.


[Rez, masuk, gak?]


*****


"Makasih ya, Bang." Ucap Alea saat semua pembicaraan dengan Kepala Sekolah, guru BK, dan Wali Kelas telah usai. Kini ia mengantar Arez menuju mobil.


"Iya. Lu juga gak salah. Ya, gua dukung-dukung aja kalo lu mau membela diri. Malah gua bakal marah jika lu diem aja ketika harga diri lu di injak-injak."


"Semoga gak ke ulang lagi."


"Iya. Lu jaga diri baik-baik. Fokus belajar. Jangan cinta-cintaan mulu."


"Ish!" Alea manyun. "Abang mau balik ke Kantor?"

__ADS_1


"Iya. Tadi izin sama atasan cuma sebentar."


"Yaudah, Abang hati-hati. Sekali lagi makasih."


"Iya. Gua berangkat dulu."


Alea mengangguk di sertai senyum melengkung di sudut bibirnya.


Arez masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.


*****


"Gila! Abang lu dewasa banget, Lea." Ucap Olin saat mereka bertiga berjalan menuju kelas. Ya, Olin dan Ivi juga di panggil ke ruang BK untuk menjadi saksi dan di mintai keterangan pasal keributan kemarin. Tak hanya Olin dan Ivi, teman-teman Shania juga di hadirkan.


Alea mengira Arez bakal mati kutu dan mengiyakan segala apa yang orang-orang katakan tentang dirinya. Tapi ternyata, Arez begitu membela dan berbagai saksi yang di hadirkan cukup kuat untuk membuktikan Alea tidak bersalah.


Shania, gadis itu di skors satu minggu ke depan tidak boleh masuk ke sekolah akibat ulahnya sendiri. Walaupun orang tuanya bersikeras membela anaknya tidak bersalah dan tidak mungkin melakukan hal yang tidak terpuji karena selama ini Shania di kenal sebagai anak baik-baik dan berprestasi. Ah, cinta memang bisa membuat buta.


"Kami harap, tidak ada lagi kejadian seperti ini." Ucap Bu Gita--guru BK menutup pertemuan itu setelah Alea dan Shania di paksa harus saling memaafkan dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu.


*****


Jam pulang sekolah,

__ADS_1


"Alea, tunggu!" Panggil Nathan saat Alea melewatinya di depan gerbang sekolah.


"Apa lagi, Kak?" Tanya Alea yang enggan menatap Nathan dan terus melangkahkan kaki.


"Aku tau kamu marah. Aku minta maaf."


"Seharusnya kalau Kakak punya pacar Kakak jangan deket-deket sama aku biar kejadiannya gak gini."


"Sumpah demi Allah. Aku dan Shania gak ada hubungan apa-apa. Emang dulu kami pacaran, tapi udah lama putus bahkan jauh sebelum kamu pindah ke sini." Ucap Nathan bersungguh-sungguh dan mencoba meyakinkan.


Alea diam sesaat.


"Dan jujur sekarang, aku ada rasa sama kamu."


Alea mengalihkan pandangan. Dirinya juga bingung, harus menjawab apa. Tidak ada rasa senang sedikitpun ketika Nathan menyatakan perasaannya. Entah karena Nathan terlalu cepat menyampaikan itu atau karena ada sesuatu yang lain.


"Aku gak perduli kalaupun kamu menolak aku. Tapi aku minta, kamu jangan jauhin aku. Karena aku udah nyaman banget sama kamu."


"Aku udah di jemput." Ucap Alea mengalihkan pembicaraan saat mang Ujang--kang ojek khusus jemput Alea sudah datang.


Nathan tidak bisa mencegah Alea yang berlalu meninggalkannya. Tapi ia tidak akan putus asa, karena ia percaya ... cinta akan tumbuh seiring dengan perlakuannya yang penuh kasih sayang.


***

__ADS_1


"Lha? HP ku mana, ya? Kok gak ada?" Alea yang baru tiba di rumah mencari benda pipih itu. Ia lantas membongkar isi tasnya berharap menemukannya.


__ADS_2