
"Abang beneran besok mau pulang?" Tanya Alea. Saat ini mereka masih berada di ruang keluarga semabari menonton televisi. Duduk di karpet sebagai Alas dan soffa sebagai sandaran. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Pak Damar dan bu Amira pun sudah tidur.
"Iya, kan lu tau kerjaan gua gak bisa di tinggal lama."
"Apa gak bisa ambil cuti dua atau tiga hari?"
"Mau ngapain gua? Kan yang liburan lu, kenapa gua mesti libur juga?"
"Iya juga, sih."
"Gua cuma mau kasih lu kebebasan, gak mulu-mulu harus sama gua, kan? Gua juga pernah ABG, kok."
"Abang yakin bisa sendirian di rumah?"
"Jangan nanya sama gua kalau hal sendirian, bertahun-tahun lamanya gua sudah merasakan hal itu. Gua sudah terbiasa. Sendirian bukan hal kemarin yang gua rasakan, ibarat membaca buku, buku itu sudah tamat gua baca."
Alea diam mendengar jawaban Arez, tapi bukan jawaban seperti itu yang ia harapkan. Entahlah,
"Sana istirahat, jangan gadang. Pasti banyak agenda liburan yang udah lu siapin. Kan gak lucu kalo lu demam di moment liburan lu." Ucap Arez, tapi Alea justru merebahkan diri, dan menjadikan paha Arez sebagai sandaran kepalanya.
"Selamat bobok," ucap Alea pelan,
"Sana pindah kamar di sini dingin."
"Gak, mau ... mau di sini."
__ADS_1
Suasana jadi hening setelah Arez mematikan televisi. Dipangkuannya Alea sudah tertidur pulas. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu hingga bersikap seperti ini yang berhasil membuat jantung Arez berdetak kencang.
*****
Alea terbangun,
Samar-samar ia menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Sontak ia membuka matanya, pemandangan sekeliling jelas adalah kamarnya. Alea kaget, bergegas ia keluar dari kamar seperti mencari sesuatu.
"Abang!" Teriak Alea. Ia mencari di setiap sudut ruang tapi tidak ia temui sosok itu. Sampai ia tiba di halaman rumah, tetap saja Arez tidak ia temukan. Bahkan mobilnya pun sudah tidak ada. Hanya ada ibunya yang sedang menyiram bunga.
"Alea sudah bangun?" Ucap bu Amira saat Alea mendekatinya.
"Bang Arez mana?"
"Sudah pulang tadi abis subuh, Sayang."
"Sudah. Kan tadi nak Arez pindahin Alea ke kamar, sekalian pamitan. Alea juga bilang hati-hati."
"Kapan?" Alea berusaha mengingat, karena seingatnya ia sedang tidur kemudian bermimpi Arez berpamitan."
"Sudah, sana cuci mukamu. Abis itu sarapan." Ucap bu Amira menuntun Alea masuk ke dalam rumah.
*
Alea masuk ke kamar mandi, ia menyalakan wastafel membiarkan air di sana mengalir deras. Ia tertegun memperhatikan dirinya di pantulan cermin. Entah mengapa, saat tau Arez sudah tidak berada di sana ia merasakan kekosongan.
__ADS_1
Setelah berkumur dan mencuci wajahnya Alea pergi ke meja makan, ia masih hening dan ia sendiri tidak mengerti perasaan apa ini.
"Ini nasi goreng kesukaanmu," Ucap bu Amira meletakkan sepiring nasi goreng di depan Alea. Kemudian di susul dengan susu cokelat hangat yang di letakkan di sebelah piring.
Alea masih hening, ia telihat melamun sembari mengaduk nasinya.
"Kamu kenapa, Sayang?" Tanya bu Amira memegang pundah Alea.
"Ah! Enggak kok, Bu."
"Kenapa makanannya cuma di aduk? Alea lagi ada masalah?"
"Kenapa bang Arez gak bangunin Alea dulu? Maksudnya sampai bener-bener bangun. Sampai melek, gitu. Ini, main tinggal-tinggal aja!"
Bu Amira tersenyum, "Jadi gara-gara itu?"
Alea manyun.
"Nak Arez sudah bangunkan, kamu bilang masih ngantuk. Terus nak Arez bilang mau pulang, kamu jawab hati-hati. Yang salah siapa?"
"Yakan bisa di bangunkan lagi lagi lagi sampai bangun."
"Nak Arez bilang, kasian kamu kecapean kemaren lama di perjalanan, makanya di biarkan kamunya yang gak mau bangun."
Alea berdecak kesal, ia kemudian memakan nasi goreng yang sedari tadi ia abaikan.
__ADS_1
"Kesel! Pulang gak pamit-pamit!" Celetuk Alea dengan raut wajah yang membuat bu Amira tersenyum geli hati.