Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 40 - Cinta, Tapi...


__ADS_3

"Ann, kenapa baru di angkat?" Tanya Arez saat telponnya berhasil terhubung ke Anna setelah beberapa kali menghubungi gadis itu.


"Gak apa-apa," jawab Anna singkat.


"Lu di mana? Gua jemput."


"Gak perlu. Gua lagi pengen sendirian."


"Jangan gitu. Ayolah."


"Gua di taman."


Tak menunda, Arez segera menancap gas.


*****


Arez berdiri di hadapan Anna. Gadis itu menatapnya sayu tanpa sepatah katapun.


"Ayo pulang. Ngapain di sini, bentar lagi magrib."


"Kalo mau pulang, pulang aja. Gua bawa motor, kok."


"Lu kenapa? Kalo mau nangis, nangis aja di rumah."


"Gara-gara, lu!"


Arez diam,


"Sejak kapan, Rez?" Tanya Anna dengan suara bergetar.


"Sejak kapan lu sama cewek itu? Kenapa di sembuyiin?" Anna memperjelas pertanyaannya.


"Gua bisa jelasin."


"Iya. Memang perlu. Gua pengen denger semuanya."

__ADS_1


"Jujur. Gua dan Alea emang udah nikah." Ucap Arez yang memang sudah tidak bisa menyimpan rahasia itu.


"Lu jangan bercanda. Gak lucu!"


"Gua serius. Gua dan Alea terpaksa harus nikah karena suatu insiden. Tapi jujur, kami berdua sama sekali tidak menghendaki semua itu."


Anna diam,


"Kenapa lu mau, kalau gak ada rasa?"


"Kami di desak."


"Apa karena kalian sudah berbuat?"


"Gak. Demi Allah! Orang-orang hanya salah paham."


"Apa lu sekarang ada rasa sama dia, Rez?"


Kali ini Arez yang diam,


"Jujur, gua ada rasa sama lu, Rez. Bahkan sudah sejak lama." Sambung Anna. Entah kenapa saat ia mengungkapkan kalimat itu ada kelegaan di hatinya.


"Gua sengaja gak kasih tau, takutnya lu nolak dan ngejauhin gua. Gua gak mau. Karena gua mau terus deket sama lu."


"Tapi, ternyata..." Mata Anna berkaca-kaca.


Beberapa saat mereka sama-sama hening.


"Sebenernya, gua juga ada rasa sama lu, Ann. Gak bisa di bohongi, rasa itu memang ada."


Anna hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Arez.


"Tapi, dengan keadaan gua yang sekarang gak mungkin kita bisa bersama. Makanya, gua sebisa mungkin gak mau timbul rasa terlalu dalam."


"Iya gua tau. Gua juga bisa ngeliat dari mata lu, lu cinta sama dia."

__ADS_1


Arez merasa tak enak hati melihat Anna saat ini. Tapi, lebih baik berkata jujur dari pada semakin menyakiti.


"Gak perlu lagi di bahas, Rez. Makasih udah bikin gua ngerasa secinta ini sama orang. Dan jujur, cuma sama lu gua kek gini. Bucinnya pake banget."


"Gua minta maaf, Ann. Gua gak bermaksud nyakitin lu."


"Gak ada yang nyakitin gua, kok. Gua terluka dengan harapan gua sendiri."


Anna beranjak dari sana, meninggalkan Arez yang masih diam mematung. Arez hanya bisa menatap punggung Anna yang semakin menjauh.


Seketika hujan turun sangat deras menyertai perpisahan mereka sore itu.


*****


Anna tersenyum lega.


Ia berdiam diri di bawah rintiknya hujan, membiarkan hujan itu membasuh air matanya.


"Level tertinggi mencintai seseorang ialah membiarkan orang itu bahagia bersama orang lain.


Jika kamu bahagia, aku juga bahagia.


Biarkan aku di sini memeluk derita.


Dan asal kamu tau, cintaku ini memang tulus dari hati yang paling dalam.


Cintaku tulus tanpa syarat,


Tanpa mengapa,


Tanpa alasan,


Tanpa tetapi,


Aku harap, dia yang kamu cintai juga memiliki rasa sepertiku..."

__ADS_1


__ADS_2