Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 16 - Gibahan


__ADS_3

Alea mengetuk pintu kelas dan kemudian masuk. Ia menyalami bu Lastri yang sedang menulis di papan tulis.


"Maaf, Bu. Aku telat." Ucap Lea.


Bu Lastri menatap dan geleng-geleng kepala, "Iya, kamu boleh duduk. Besok jangan telat lagi."


"Makasih, Bu." Balas Alea.


Alea berjalan ke arah bangkunya menghiraukan tatapan mata yang seolah memberi ejekan.


"Lea, lu kenapa bisa telat?" Tanya Olin saat Alea baru saja duduk di bangkunya.


"Kesiangan, terus tadi gua di hukum bersih-bersih." jawab Alea sedikit berbisik.


"Owalah."


"Ntar gua mau cerita sama lu dan juga Ivi."


"Ashiap!" Balas Olin mengacungkan jempol.


***


Jam istirahat,


Alea, Olin dan juga Ivi nongkrong di kantin di temani bakso dan juga es jeruk, menu yang cukup mengenyangkan untuk mengganjal perut hingga jam sekolah usai.


"Tau gak? Kan tadi gua lagi bersih-bersih, nih. Bersih-bersih ruangan buat di pake anak-anak OSIS bikin kegiatan, di suruh bu Aini," Alea mulai membuka obrolan di tengah suapan nya.


"Terus, terus?" Jawab Olin dan Ivi bersamaan, antusias mendengarkan.


"Terus ada cowok. Gua kira dia itu juga siswa yang telat. Ya gua suruh dia bantu gua bersih-bersih. Gua juga nge gibahin anak OSIS kok manja kali bersihin ruangan aja nyuruh anak yang telat."


"Terus, terus?"

__ADS_1


"Eh, taunya itu cowok ketua OSIS kita, anjir!"


"Hah? Kak Nathan?" Tanya Ivi.


"Iya! Sumpah! Malu banget gua! Mana terlanjur nge gibahin."


"Anjir! Terus kak Nathan bilang apa?"


"Gak ada. Tapi ya gitu, malu gua! Rasanya gak mau kalo ketemu dia lagi."


Olin dan Ivi tertawa cekikikan.


Pucuk di cinta ulampun tiba, Nathan lewat di depan meja Alea dan kawan-kawan. Sontak Alea memalingkan pandangan dan tak berkutik.


"Kak Nathan," sapa Olin dan Ivi begitu ramah.


Nathan hanya membalas dengan senyum kecil dan berlalu. Alea masih enggan menatapnya, hingga saat cowok itu berlalu ia mendengus lega.


"Haduh!" Alea mengelus dada.


"Dih, apaan? Gila kali."


"Ya gak apa-apa. Kak Nathan itu jomblo. Lu juga jomblo, kan?"


"Gua?" Tanya Alea menunjuk dirinya.


"Iyalah!"


Alea hanya diam karena bayangan wajah Arez malah melintas di pikiran.


'Ish! Kok gua malah keinget si brengs3k itu, anjir!" Benak Alea berusaha mengusir bayangan wajah Arez.


Kebanyakan ngobrol membuat mereka lupa akan waktu. Tak terasa bel masuk sudah berbunyi. Mereka semua harus bergegas kembali ke kelas agar tak tertinggal mata pelajaran selanjutnya.

__ADS_1


*****


Jam 13.00,


Bel pulang sudah terdengar. Suara yang di nanti-nanti kebanyakan siswa siswi. Suara yang seketika mengusir kepenatan dalam belajar dan berpikir seharian. Mereka semua berhamburan keluar kelas setelah bersalaman pada guru yang mengajar jam terakhir.


"Lea? Belum pulang?" Nathan tiba-tiba muncul di depan Alea yang sedang menunggu angkutan. Cowok itu memakai motor kebanggaan anak muda kebanyakan.


Wajah Alea sedikit memerah, "Belom, Kak."


"Belum di jemput?"


"Enggak. Aku naik angkutan."


"Aku anter pulang mau?" Tawar Nathan. Alea diam sejenak tak langsung memutuskan. Ia menatap Nathan sekilas.


"Gak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri."


"Jangan takut. Orang Purwokerto itu baik-baik, gak bakalan nyulik, kok." Canda Nathan membuat Alea tersenyum kecil.


"Gak apa-apa, lah. Rumah aku jauh, nanti ngerepotin."


"Udah, naik aja. Mau keliling Purwokerto juga aku jabanin."


Alea masih memerlukan pertimbangan, hingga akhirnya ia mengiyakan tawaran Nathan itu. Alea naik ke motor, dengan sedikit berpegangan pada Nathan.


"Wih! Ini pertama kali si Tejo bawa cewek!" Ucap Nathan sumringah.


"Tejo?" Alea mengernyitkan dahi.


"Iya. Motorku ku panggil Tejo." Nathan tertawa.


Alea yang mendengarnya juga ikut tertawa.

__ADS_1


"Sudah siap, Tejo? Kita nganterin bidadari, nih!" Sambung Nathan lagi.


Alea cekikikan. Hingga akhirnya motor itu melaju sesuai alamat yang sudah Alea sebutkan.


__ADS_2