Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 9 - Mencari Kos


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 16.00. Para Karyawan kantor sudah bersiap-siap untuk pulang, mematikan komputer dan membereskan beberapa berkas yang numpuk di atas meja begitu juga Arez dan wanita cantik di sebelahnya--Anna.


"Untung ya ada lu, Rez. Kalo gak mah susah gua." Ucap Anna tersenyum pada Arez.


"Santai aja, Ann."


"Gak ada yang kebetulan, kan? Kita bener-bener ditakdirkan bersama. Di pindah tugaskan berdua." Ucap Anna lagi di sertai tawa.


"Jadi sekarang lu tinggal di mana?"


"Gua di rumah Pakde gua, Rez. Kan gua pernah cerita, gua punya sodara di Purwokerto. Sementara, gua nginep di situ. Tapi, rencananya sih gua mau ngekos aja. Gak enak repotin orang lain."


"Yaudah kapan mau cari? Gua bisa temenin."


"Serius lu?"


"Iya, asal jangan deket-deket sama kontrakan gua."


"Emang kenapa kalo deketan? Kan gua bisa nyelinap ke rumah lu, Rez." Canda Anna.


"Yang ada, ntar gua yang nyelinap, Ann." Balas Arez nyengir.


"Yaudah kita cari sekarang, yuk. Sekalian jalan pulang. Siapa tau nemu yang deket-deket sini.


"Oke."


Setelah memastikan komputer sudah mati dan berkas-berkas sudah di bereskan, Arez dan Anna berjalan bersamaan menuju parkiran.


Anna--rekan Arez yang di pindah tugaskan bersamaan dengannya. Mereka hanya selisih dua tahun, yang mana bearti umur Ana adalah 25 tahun. Ia memiliki perawakan tidak terlalu pendek, kalau di sandingkan dengan Arez ia setelinga pria itu. Memiliki rambut hitam panjang terurai hingga ke pinggang. Wajahnya begitu manis serta mempunyai Satu lesung pipi di pipi sebelah kirinya.


"Maaf ya, gua jadi ngerepotin lu." Ucap Anna saat dirinya dan Arez sudah berada di dalam mobil.


"Santai, Ann. Kalau gua bisa nolongin kenapa enggak?"


"Lu emang the best! Gak sia-sia gua kenal lu, Rez." Senyum mengembang di bibir Anna yang menampakkan sangat jelas lesung pipinya.


Mobil Arez mulai melaju menelusuri jalan raya. Alunan musik akustik di dalam mobil membuat kesan tersendiri.


*


Setelah beberapa meter mobil melaju, mereka berhenti di kerumunan ibu-ibu yang asik nongkrong sore untuk menanyakan info kos-kosan. Anna bergegas turun, di ikuti oleh Arez.


"Ngapuntene, Ibu-ibu. Wilujeng sonten." Sapa Anna ramah.


"Iya, Mbak. Ana apa?" Tanya salah seorang ibu-ibu, sedangkan yang lain hanya menyimak. Mungkin ibu itu adalah ketua geng mereka yang selalu menjadi juru bicara.


"Ngampuntene, Bu. Badhe tangled, teng ngriki enten kos-kosan mboten, nggeh?" Anna mulai bertanya.


"Penganten anyar, ya?" Ibu itu balik bertanya di sertai senyuman, membuat Anna jadi salting. Arez yang tidak paham hanya bisa mengernyitkan alis bertanya-tanya apa yang sedang mereka omongkan.


"Ah! Sanes, Bu. Kulo kiambek ingkang badhe kos, niki rencang kulo." Anna gelagapan, ia melirik Arez yang hanya tersenyum getir.


"Oh. Angger kos-kosan tah akeh nang kene, Mbak. Neng mburi ana kos-kosan khusus wadon."

__ADS_1


"Syukurlah." Anna tersenyum girang.


"Ayo tak jujugna. Kebeneran sing due kos-kosan kae sedulure nyong."


"Ayo, Bu."


Ibu yang bernama Ita itu berpamitan pada anggotanya, begitu juga Anna dan Arez.


Sopan santun harus selalu di jaga dimana pun kita berada. Jika kita sopan, orang pun akan segan.


Bu Ita berjalan lebih dulu, dengan Anna dan Arez yang membuntutinya.


Langkah Bu Ita terhenti ketika sampai di rumah petak berdempet empat di hadapannya. Di salah satu pintu rumah itu bertuliskan 'Di sewakan, hubungi 082282208999'.


"Niki kosane, Mbak. Ngentosi teng ngriki riyin nggeh. Kulo padosi ingkang gadeh kosane rumiyin."


"Nggeh, Bu. Matur suwun."


*


"Ann, lu kok bisa bahasa sini?"


"Dulu, gue pernah tinggal di sini, Rez. Jadi, gua bisa ngomong bahasa sini biar pun sedikit-sedikit."


"Wah! Boleh dong ntar ajarin?"


"Siap! Berani bayar berapa, lu?"


"Pea!"


Tak lama kemudian muncul seorang wanita paruh baya bersama bu Maya di depan Anna dan Arez.


"Salam, Bu. Kulo Anna." Anna menjabat tangan ibu itu, dengan memberikan senyum paling manis.


"Salam. Kulo Maya."


"Saya Arez." Arez juga menjabat tangan bu Maya. Terlihat bu Maya menyunggingkan senyum.


"Adek ingkang badhe ngekos?" Tanya bu Maya.


"Nggeh, Bu." Jawab Anna mengangguk.


"Teng mriki bebas-bebas mawon, asal mboten brisik. Tapi nggeh mboten angsal menawi mbekto rencang jaler nginep teng ngriki."


Anna mengangguk tanda mengerti. Sedangkan Arez hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Menawi namung ketemu angsal mboten, Bu?"


"Angsal. Asal ngertos wayah."


"Oke. Siap."


Bu Maya merogoh isi tasnya, kemudian mendapatkan kunci dan kemudian ia membuka pintu kosan dan menyuruh Anna dan Arez untuk melihat-lihat ruang dan isi di dalam sana.

__ADS_1


Anna dan Arez masuk. Di dalam terlihat sangat bersih padahal tidak ada penghuni yang menandakan kosan ini selalu terawat. Di dalam juga terdapat kasur kecil lengkap dengan ranjangnya, sebuah lemari kecil, serta satu kipas angin.


"Tadi ibu itu bilang apa, Ann?"


"Ibu itu bilang, katanya gak boleh bawak cowok dimari."


"Gua gak bisa ngapel lu, dong?" Arez tersenyum dengan candaannya.


"Ih!" Anna memukul kecil lengan Arez.


"Kan gak boleh kata ibunya?"


"Tapi ibunya bilang, boleh kok bertamu."


"Wah! Jadi boleh, nih?"


"Ya boleh, lah!"


Mereka kembali melihat-lihat hingga ke kamar mandi yang ternyata juga sangat bersih dengan keramik biru bergambar ikan menghiasi.


"Gimana menurut lu? Suka gak?" Tanya Arez.


"Keknya udah oke. Selain nyaman, ternyata sudah ada fasilitas. Jadi gua gak repot-repot buat beli baru."


"Sip!"


Obrolan singkat mereka berakhir setelah keduanya keluar dari kos itu.


"Pripun, cocok mboten?" Tanya bu Maya.


"Oke, Bu!" Anna mengacungkan jempol.


Bu Maya tersenyum puas.


"Niki kuncine Semoga betah. Menawi enten kedadian sing mboten di karepaken, ampun sungkan ngomong teng kulo mawon. Pripun-pripun ugi, ingkang ngekos teng ngriki teksih tanggung jawab kulo."


"Matur suwun, Bu."


"Nggeh sami-sami. Dados kapan menawi badhe pindah ngriki?"


"Ngenjing sonten, Bu."


"Oke. Ibu tinggal rumiyin, nggeh."


"Matur suwun sanget nggeh, Bu."


Sebelum meninggalkan daerah itu, Anna dan Arez berpamitan pada Bu Ita dan juga teman-teman beliau yang masih asik nongkrong di depan gang.


Sesaat kemudian, mobil Arez kembali melaju untuk mengantar Anna pulang.


"Semoga betah ya, An." Ucap Arez.


"Iya, Rez. Lingkungannya juga rame. Jadi gua gak merasa takut dan kesepian."

__ADS_1


Mereka saling pandang untuk sekedar saling melempar senyuman. Alunan musik kembali terdengar di iringi matahari yang mulai tenggelam.


__ADS_2