Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 33 - Ribut


__ADS_3

Pagi,


"Abang," panggil Alea sebelum Arez dan dirinya masuk ke mobil.


"Iya?"


"Kemaren kak Nathan ke sini,"


"Ngapain?"


"Liat motorku."


Wajah Arez berubah seketika.


"Terus gimana?"


"Kak Nathan bilang, kalau aki motornya gak ada mana bisa nyala."


Wajah Arez semakin berubah. "Iya? Mana gua tau, gua kan gak periksa ke situ."


"Kira-kira akinya kemana, ya? Kok bisa hilang? Atau di curi orang?" Tanya Alea dengan wajah polosnya.


"Bisa jadi. Udahlah biarin aja. Nanti kalo ada waktu gua beliin akinya. Lagian lu juga gua anterin ke sekolah, gak ada kerugian juga."


"Iya. Tapi kan heran aja."


"Cowok lu juga. Ngapain main ke sini. Udah tau lu cuma sendirian di rumah. Cowok gak bener!"


"Ish! Jangan ngomong kek gitu. Lagian kak Nathan cuma mau liat kerusakan motornya."


"Si paling-paling."


"Abang kok marah-marah? Lagian kami gak ngapa-ngapain. Abis liat motorku dia langsung pulang."


"Belain aja terus!"


"Aku gak belain!"


Arez berlalu masuk ke dalam mobil yang kemudian di susul Alea.


Mereka saling hening. Diam-diaman sampai tiba di sekolah Alea.


Alea turun tanpa berpamitan.

__ADS_1


Arez berlalu,


Seperti biasa, tujuannya adalah Warung Kopi bu Ropiah.


*****


"Lu kenapa, Lea?" Tanya Olin melihat wajah Alea begitu masam, padahal baru saja masuk ke kelas.


"Gak apa-apa. Kesel aja gua." Alea merebahkan kepalanya di meja belajar.


"Kenapa? Putus sama kak Nathan?" Kali ini Ivi menimbali.


"Bukan! Abang gua udah ngajakin ribut pagi-pagi."


"Ya gitulah kalo sodaraan. Sama kayak tikus dan kucing."


Alea berdecak kesal.


"By the way, kenapa kalian bisa bilang aku pacaran sama kak Nathan?" Tanya Alea yang baru ngeh dengan ucapan Olin tadi.


"Siapa yang gak tau. Di sekolah udah pada nyebar loh gosipnya. Lu sama kak Nathan itu pacaran."


"Iya. Apalagi di circle anak-anak OSIS. Beuh! Nama lu udah terkenal banget."


"Mana ada yang bakalan percaya. Wong elu sama Nathan akrab banget, kemana-mana suka berdua."


"Kalian juga percaya?"


"Ya mau gimana lagi. Kami sih dukung aja mana yang bikin lu bahagia."


"Ish! Tapi kita gak pacaran."


"Yaudah kalo gak pacaran jaga jarak. Takutnya gosipnya semakin nyebar kemana-mana."


"Perasaan kita mah B aja, deh. Gak lengket-lengket banget. Gua juga anggap kak Nathan temen doang."


"Iya, ya? Tapi keknya kak Nathan suka banget sama lu, Lea."


"Masa iya, sih. Tapi gua ya gini. Gua cuma anggap kak Nathan temen gak lebih."


"Udah, nanti lagi gosipnya. Bentar lagi bel masuk. Guru pertama bu Lusi, guru killer."


*****

__ADS_1


Jam istirahat,


"Kamu Alea? Si anak baru?" Tanya seorang cewek yang tiba-tiba datang di hadapan Alea, Olin dan juga Ivi yang baru saja hendak ke kantin.


"I--iya," jawab Alea heran.


"Denger, ya! To the point aja jangan kebanyakan bacot dan drama. Kamu jangan sok kecakepan! Kamu cuma anak baru di sini! Aku selama ini diem aja liatin kamu yang sengaja deketin Nathan."


"Maksudnya apa? Aku gak ngerti." Tanya Alea berusaha mencerna ucapan cewek di depannya yang bernama--Shania. Di belakangnya juga terdapat CSnya--Tika dan Sari.


"Aku kira kamu deket sama Nathan itu cuma gosip. Eh, pas aku perhatiin ternyata beneran. Apa cewek JKT semuanya gatel-gatel, ya?"


"Tapi aku sama kak Nathan gak ada apa-apa."


"Gak usah ngeles! Dasar Pelakor! Nathan itu pacarku! Dasar cewek gatel!" Shania mendorong Alea hingga terjatuh.


Olin dan Ivi tidak tinggal diam. Ivi membantu Alea bangkit, sedangkan Olin berusaha melerai dan menghalangi Shania yang seperti berapi-api.


Tak henti-hentinya caci maki keluar dari mulut Shania yang di tujukan untuk Alea.


"Cewek ganjen! L0nt3! Perebut pacar orang!" Salah satunya.


Alea bangkit, ia melepaskan pegangan Ivi, tanpa banyak omong ia membalas Shania dengan mendorong balik gadis itu.


Keributan itu tidak bisa di hindari. Siswa siswi ramai berkerumun masuk ke kelas 12 C. Olin dan Ivi beserta beberapa teman Shania berusaha melerai.


Shania berteriak-teriak berusaha melepaskan jambakan tangan Alea di rambutnya. Dapat di lihat Alea yang lebih unggul dalam pertempuran itu.


Hingga akhirnya Nathan bersama bu Ismi--Wali kelas 12 C datang.


"Udah, Lea. Lepasin." Pinta Nathan berusaha melepaskan tangan Alea dari rambut Shania.


"Udah, Nak!" Bu Ismi yang terlihat sangat panik menarik tubuh Alea.


Akhirnya kedua gadis itu dapat di pisahkan. Alea masih membara dengan nafas yang tersenggal-senggal.


Sedangkan Shania menangis memeluk Nathan dengan keadaanya yang sudah acak-acakan.


"Semuanya bubar!" Perintah bu Ismi,


Siswa-siswi yang bukan hanya dari kelas itu berbondong-bondong meninggalkan kelas 12-C meninggalkan bu Ismi, Nathan, Alea DKK, dan Shania DKK.


Bu Ismi geleng-geleng kepala melihat kelakuan Alea dan Shania yang sangat membuat malu. Tidak hanya itu, mereka sudah memberikan contoh yang tidak baik untuk adik-adik kelasnya.

__ADS_1


"Kalian besok bawa orang tua ke sekolah!" Ucap bu Ismi dengan raut wajah yang memendam amarah.


__ADS_2