Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 34 - Jangan Marah


__ADS_3

"kenangapa sih, Shan, ribut-ribut? Apa ora isin?"


(Ngapain sih, Shan, ribut-ribut? Apa gak malu?) Ucap Nathan pada Shania. Saat ini mereka berada di belakang sekolah jauh dari keramaian.


"Ya, nyong gur ora seneng baen, weruh wadon kieparek-parek karo koe, loh!"


(Aku cuma gak suka liat cewek itu deket sama kamu!)


"Tapikan nyong karo koe wis putus, Shan. Malah sedurunge Alea pindah meng ngeneh mboklah."


(Tapi kita udah putus, Shan. Jauh sebelum Alea pindah ke sini malahan.)


"Iya, Tapi nyong gurung bisa move on sekang koe, Than. Koe karo kae gawe nyong cemburu, ngerti perasaane nyong ora sih!"


(Tapi aku belum bisa move on dari kamu, Than. Kamu sama dia bikin aku cemburu tau, gak!)


"Ya Allah, Shan. Ganu koe dewek sing selingkuh neng mburine nyong. Siki koe dewek sing nyesel, kan?"


(Ya Allah, Shan. Dulu kamu sendiri yang khianati cintaku. Sekarang kamu pula yang menyesal.)


"Iya nyong esih tresno ngaring koe, Than. Nyong pengine, nyong karo koe balikan maning. Nyong janji bakal aweh sekabehane sing Koe karepna, lya nyong bakal berubah."


(Aku masih cinta sama kamu, Than. Aku mau kita balikan lagi. Aku janji bakal kasih semua yang kamu mau, dan aku bakal berubah.)


"Ora usah sibuk. Ora perlu Shan. TELAT!"


(Gak usah sibuk. Gak perlu, Shan. Udah terlambat!)


"Nyong mohon Nathan. Nyong esih cinta karo koe lho. Sumpah demi langit karo bumi!"


(Aku mohon Nathan. Aku masih cinta sama kamu. Sumpah demi langit dan bumi!)


"Cuma keledai yang bakal masuk ke lobang yang sama lan nyong ora segoblok kue, Shan."


(Cuma keledai yang mau masuk ke lobang yang sama, dan aku gak sebodoh itu.)


Shania menangis, ia menggenggam erat tangan Nathan dan sengaja meletakkan tangan Nathan itu ke dadanya, agar Nathan dapat merasakan apa yang ada di balik seragam itu.


"Nyong ngerti, koe pasti seneng, kan?"


(Aku tau, kamu pasti suka, kan?)

__ADS_1


Nathan lantas menarik tangannya.


"Aja kelewat murah! Nyong ora seneng, ora!"


(Jangan terlalu murah! Aku gak suka!) Ucap Nathan dengan tatapan tajam. Nathan lantas meninggalkan Shania.


"Aja nggawa-gawa Alea, sih. Kae bocah ra salah, ora ngerti apa-apa. Kae bocah juga ora ngudag-ngudag nyong ora koh, tapi nyong sing ngudag!" (Jangan bawa-bawa Alea. Dia gak salah dan gak tau apa-apa. Dia gak ngejar aku, tapi aku yang ngejar dia!) Ucap Nathan sebelum benar-benar berlalu dari sana.


*****


Malam,


Alea menghampiri Arez yang sedang asik menghisap rokoknya. Teras itu sudah menjadi tempat favorit untuk sekedar menghabiskan secangkir kopi dan membuat kepulan asap.


Melihat Alea datang, Arez lantas mematikan api rokoknya. "Ada apa?" Tanya Arez.


Alea hanya menggeleng. Ia ikut duduk di kursi kayu sebelah Arez dengan memeluk lututnya. Wajahnya tampak manyun tidak ada keceriaan seperti biasa.


"Maaf untuk yang tadi pagi," Alea mulai membuka obrolan.


"Gua juga minta maaf,"


Setelah obrolan kecil itu, cukup lama mereka hening. Arez menangkap sesuatu yang tidak biasa.


"Enggak." Jawab Alea menutupnya dengan tangan.


"Lu kenapa?" Tanya Arez lagi,


"Dibilangin gak kenapa-kenapa!"


"Jangan boong. Lu gak bisa sembunyiin sesuatu dari gua. Lu kenapa? Gak kek biasanya."


"Tapi Abang jangan marah." Alea menatap Arez dengan wajah memelas.


"Bilang aja."


"Tadi aku ribut di sekolah."


"Kenapa? Masalah apa?"


"Kak Nathan."

__ADS_1


"Gua tebak. Rebutan cowok?"


"Enak aja!"


"Terus?"


"Gak tau! Aku tiba-tiba di labrak, di tuduh rebut kak Nathan dari dia."


"Makanya, jangan sembarang deket sama cowok. Lu jangan polos-polos amat. Cowok buaya banyak berkeliaran."


"Tapi kak Nathan gak pernah bilang kalo dia punya pacar."


"Namanya juga cowok."


"Padahal aku sama kak Nathan cuma temenan." Ucap Alea dan Arez hanya menyunggingkan senyum kecil.


"Karena di kata-katain yang aku gak lakuin ya aku membela diri, lah. Ya gitu, akhirnya ribut."


"Jadi luka di pipi lu karena ribut gara-gara cowok?"


"Ish! Yang bener itu luka karena membela diri!"


"Jadi gimana?"


"Besok Abang harus datang ke Sekolah."


"Iya."


"Abang gak marah?" Tanya Alea heran, karena Arez tidak seperti yang ia bayangkan. Padahal Alea membayangkan Arez yang akan berubah menjadi singa setelah ia bercerita.


"Enggak. Ngapain marah. Wong gak heran ABG ABG kek kalian selalu bikin ulah."


"Tapi bukan aku yang mulai."


"Iya gua tau. Sana ambil kotak P3K, obatin goresan itu biar cepet sembuh."


Alea masuk ke dalam rumah, keluar lagi membawa kotak P3K yang Arez maksudkan.


"Udah, lu diem aja. Biar gua yang obatin." Perintah Arez dan Alea hanya bisa menuruti.


Dengan lembut, Arez membersihkan luka goresan di pipi Alea menggunakan kapas, kemudian mengolesi sedikit obat merah.

__ADS_1


Alea hanya bisa memandang wajah itu karena jaraknya yang begitu dekat. Untuk pertama kali Alea merasakan getaran di hatinya dan untuk pertama kali ia mengakui bahwa Arez begitu manis.


Tanpa sadar, senyum kecil itu tercipta di sudut bibir Alea.


__ADS_2