
"Abang? Kenapa basah-basahan?" Tanya Alea saat Arez tiba di rumah.
Arez hanya diam tak menjawab, ia berlalu menuju kamar.
Alea tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya membiarkan pria itu.
Alea kembali menutup pintu, dan lebih memilih masuk ke kamarnya.
Ia hanya bisa menerka, mungkin Arez ada masalah di Kantor, atau masalah pribadi, bisa juga masalah lainnya. Hingga Alea memutuskan untuk tidak mengganggu pria itu.
Yang jelas Alea tau. Pasti terjadi suatu keributan antara Arez dan Anna.
*****
Hari selanjutnya...
"Lis, kok Anna gak masuk? Tadi gua samperin di kosnya juga gak ada." Tanya Arez pada Lilis, teman Anna di kantor itu. Karena selain dekat dengan Arez, Anna cukup akrab sama Lilis.
"Gak tau juga, Rez. Mungkin izin. Gua WA dari semalem juga gak di bales."
Arez kembali pada mejanya, dan mulai mengerjakan tugas dan kewajibannya.
Satu minggu berlalu, Anna masih tak kunjung kelihatan, bahkan setiap kali Arez menghubungi nomornya selalu saja tidak aktif. Saat Arez mengunjunginya di kosan pun tidak ada.
*
__ADS_1
Seseorang wanita asing, bertubuh tinggi langsing, rambut hitam panjang masuk ke ruang kerja di temani pak Cipto.
"Selamat pagi semua, kita kedatangan team baru sebagai pengganti Anna yang sudah resign." Ucap pak Cipto di tengah Karyawan dan Karyawatinya yang sudah siap di meja kerja masing-masing.
Mendengar ucapan pak Cipto, Arez sedikit kaget. Ia mengernyitkan alis. "Anna resign?"
"Selamat pagi, semua. Salam kenal, aku Sandra karyawan baru." Ucap Sandra tersenyum manis dengan gigi gingsulnya. Semua Karyawan pun menyapanya ramah, kecuali Arez. Pria itu masih bengong dengan wajah herannya.
Saat pak Cipto keluar dari ruangan itu, Arez segera menyusul.
"Pak!" Panggil Arez membuat pak Cipto menghentikan langkah.
"Iya, Rez?"
"Saya kurang tau. Saya sendiri kaget karena dia juga sangat tiba-tiba. Padahal kinerja dia bagus. Dia cuma bilang mau istirahat dulu. Ya saya tidak bisa menahan."
Arez hanya diam. Dalam hati dia bertanya apa ini ada hubungan dengan dirinya.
"Saya permisi dulu, Rez. Semangat kerjanya." Sambung pak Cipto menepuk bahu Arez.
Arez kembali masuk ke ruangan, wajahnya terlihat kusut seperti orang banyak pikiran. Sandra yang meja kerjanya sebelahan dengan Arez menggantikan posisi Anna, hanya bisa memperhatikan pria itu, ingin ia menanyakan tapi malu karena belum kenal.
***
Lagi, Arez ke kosan Anna setelah pulang kerja, berharap ia bisa bertemu dengan gadis itu untuk sekedar meminta maaf dan ada sedikit rindu tanpa kehadiran gadis itu selama satu minggu ini. Dan ia akan meminta gadis itu untuk berhenti menghindarinya.
__ADS_1
Tapi, tetap saja. Hasilnya nihil saat Arez tiba di sana.
"Kemaren dia sempat pulang, beresin barang-barangnya, katanya dia pamit mau balik lagi ke Jakarta." Ucap Bu Ita menemui Arez di depan kosan Anna.
Arez tampak mengusap rambutnya, ia hanya bisa berteriak di dalam benaknya.
*****
"Gua lebih memilih jalan ini, Rez. Karena gua gak sanggup menahan sakit hati ini lagi,"
"Gua memang cinta, tapi apala arti cinta ini jika hanya cinta sendiri,"
"Gua juga gak mungkin memaksakan sesuatu yang jelas bukan takdir gua,"
"Gua gak mau merusak hubungan yang sudah di ikat di hadapan tuhan."
"Ikhlas itu gak ada, yang ada hanyalah membiasakan diri."
"Gua memilih pergi karena gua sayang banget. Gua hanya gak mau egois,"
"Tapi sampai kapanpun, rasa ini gak akan berkurang sama lu, Rez."
"Gua harap, lu bahagia dengan kehidupan lu dan gua bahagia dengan relain lu."
Ucapan itu hanya bisa Anna katakan pada diri sendiri, seiring bus yang mulai berjalan meninggalkan kota.
__ADS_1