Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 39 - Hancur


__ADS_3

"Kamu dan Arez serumah?" Pertanyaan yang sudah tidak bisa Anna pendam lagi. Alea tak langsung menjawab ia sangat kebingungan dengan pertanyaan Anna itu.


"Sejak kapan?"


"Apa sebenarnya hubungan kamu dan Arez? Karena setahu aku Arez itu anak tunggal dan benar-benar hidup sebatang kara."


"Jangan pernah bilang kalau kamu adiknya. Aku sudah cukup lama mengenal dia. Dan jujur saja, aku tidak tau sama sekali tentang kamu." Anna menceceri Alea dengan pertanyaan beruntun, karena ia yang memang sangat penasaran dan sangat ingin segera mendapatkan jawaban.


Alea masih diam, ia tau gadis di depannya ini pasti sudah tau banyak tentang Arez. Salah jawab sedikit saja, tentu akan membongkar semuanya.


"Apa kalian hanya orang asing yang baru bertemu kemudian memutuskan untuk tinggal bersama?" Mata Anna berkaca-kaca, menatap Alea sangat tajam.


"Di bayar berapa?" Sambung Anna lagi, nafasnya sudah tidak teratur dengan mata yang sudah menitikkan air mata.


"Aku gak seperti yang Kakak pikirkan. Sumpah Demi Allah." Sergah Alea.


"Lalu kenapa kamu bisa ada di sini?"


"Ceritanya panjang. Yang jelas, semua ini bukan kehendak kami."


"Jujur saja, gak usah berbelit."


"Sebaiknya Kakak pulang saja. Aku tidak perlu menjelaskan apa-apa. Atau lebih baik, kakak tanyakan sendiri sama bang Arez."

__ADS_1


Anna diam, ia beberapa kali menyeka air matanya.


"Aku di sini gak bermaksud menyakiti siapa-siapa. Sekali lagi aku bilang, aku gak seperti yang kakak pikirkan."


Tanpa menjawab sepatah katapun, Anna berlalu dari rumah itu. Perasaannya semakin hancur. Ia menangis sepanjang jalan sambil mengendarai motor dan sesekali berteriak.


Seperti tak punya tujuan, ia terus saja melaju tak tentu arah.


*****


Alea terdiam, ia duduk termenung. Seperti kata pepatah, sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti akan tercium juga baunya. Cepat atau lambat, hubungannya dan Arez akan di ketahui orang-orang.


Alea membuka HPnya, dan mulai mengetik pesan.


[Kak Anna menanyakan hubungan kita. Aku tidak bisa menjelaskan apa-apa. Aku harap Abang bisa beri penjelasan ke dia. Aku gak mau bikin suasana jadi buruk.]


Alea meletakkan HPnya di atas meja tanpa menunggu balasan dari Arez. Perasaannya juga tidak karuan. Sebagai wanita ia tentu tau perasaan Anna.


Alea masuk ke kamar mandi, menyalakan kran air dan membiarkan air mancur dari atas itu jatuh membasahi seluruh tubuhnya. Ia memejamkan mata, menikmati setiap tetesan air, dan merasakan dinginnya menyentuh kulit.


*****


Arez yang baru saja bersiap akan pulang membuka HPnya dan mendapatkan pesan dari Alea. Raut wajahnya berubah seketika membaca pesan itu. Ia lantas menancap gas, seperti sudah tau harus kemana.

__ADS_1


*


"Assalamualaikum, Ann!" Panggil Arez menggedor pintu kosan Anna.


"Ann! Anna, buka pintunya." Arez masih memanggil sesekali mengintip dari jendela.


"Anna gak ada, Mas. Pergi dari tadi pagi naek motor." Tiba-tiba bu Maya muncul di belakang Arez.


"Kemana ya, Bu?"


"Gak tau, Mas. Dia bilang ada urusan."


"Yaudah makasih ya, Bu."


"Iya sama-sama." Jawab bu Maya, yang memang selalu ramah.


Arez berlalu dari sana dan kembali melajukan mobil. Ia kebingungan harus mencari gadis itu kemana. Bahkan beberapa kali di telpon selalu saja tidak mendapatkan jawaban.


*****


Anna tampak berdiam diri di tengah Taman Kota. Tatapannya kosong, matanya sembab. Hanya ia yang tau bagaimana perasaannya sekarang ini.


Maaf ya, Guys beberapa hari gak up, di karenakan si bocil lagi sakit 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2