Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 36 - Hangat


__ADS_3

Mata Anna tertuju pada benda pipih yang berada di depannya. Hp bercase merah muda itu lantas ia ambil dengan tangan bergetar.


Anna melirik Arez yang sedang fokus menyetir, ia kemudian menekan tombol on-off, hingga HP itu nyala dan terpampang jelas wallpaper-nya foto Alea yang tersenyum.


"Ini kan cewek yang waktu itu ketemu sama kami di taman, yang ngaku-ngaku adeknya Arez. Kenapa HPnya ada di sini? Apa dia juga sering bersama Arez?" Kali ini hati Anna yang bergetar, terasa sesak dan sangat membuat sakit di dalam hati. Ingin menanyakan, tapi ia lebih memilih kembali meletakkan HP itu, secara Arez juga tidak menyadari.


Menangis dalam diam adalah hal yang paling menyakitkan. Perasaan Anna semakin menjadi-jadi. Kecemburuan tidak bisa ia singkirkan.


Hingga akhirnya, Anna tidak dapat membendungnya. Air matanya tumpah tak tertahankan. Ia menangis terisak-isak.


Arez yang tidak tau apa-apa keheranan. Ia lantas menepi.


"Lu kenapa, Ann?" Tanya Arez panik.


Anna hanya menggeleng, pipinya sudah basah dengan air mata.


"Apa lu sakit?" Arez memegang kening Anna. Anna masih menggelengkan kepala.


"Kita beli obat, ya."


Anna masih diam tak menjawab sepatah katapun. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya dengan pundak yang semakin bergetar.


Bingung, Arez benar-benar bingung harus bagaimana. Hingga akhirnya, ia menarik Anna ke dalam pelukannya. Ia memeluk Anna sembari mengusap rambut gadis itu berharap Anna akan sedikit tenang, hanya itu yang bisa ia lakukan.


"Udah jangan nangis lagi, bentar lagi kita sampai." Ucap Arez. Melihat Anna yang sedikit lebih tenang, ia kembali memacu mobil.


***


"Di sini aja, jangan pulang. Temenin aku." Pinta Anna sembari menggenggam tangan Arez.


"Tapi, Ann, gak enak sama tetangga."


"Gak apa-apa, lagian mereka udah biasa ngeliat kamu. Dan mereka juga gak mungkin mikir macem-macem." Balas Anna dengan bahasanya yang berbeda. Terdengar lembut dan memelas.


"Ta--tapi,"


"Aku lagi sakit, Rez." Anna menatap nanar.


"Yaudah." Akhirnya Arez luluh.


Mereka berdua lantas masuk dan membiarkan pintu tetap terbuka untuk menghindari fitnah tetangga.


Cuaca sore ini tidak seperti biasanya, langit mendung tebal, serta guntur yang mulai bersautan.

__ADS_1


Arez tampak gelisah. Sebentar lagi hujan akan turun, Alea sendirian di rumah dan ia masih harus di sini menemani Anna.


Benar saja,


Hujan mulai berjatuhan membahasi tanah. Suaranya sangat khas ketika menjatuhi genteng rumah. Dan hujan itu juga mengharuskan Anna menutup pintu agar airnya tidak masuk ke dalam rumah.


Mereka saling hening, dan sesekali saling melirik. Hujan membuat semua orang lebih baik berdiam di rumah dan menutup pintu rapat-rapat.


***


"Bang Arez kemana, sih? Kebiasaan pulang lama." Alea duduk sendirian di sofa ruang tamu menunggu kepulangan Arez. Hujan lebat yang merata di kota itu berhasil membuat Alea ketakutan.


Petir bersaut-sautan, hujan seolah-olah ingin menumpahkan semua airnya ke bumi. Alea meringkuk, ia hanya bisa duduk memeluk lutut. Tidak banyak yang bisa ia lakukan selain berdiam diri. Selain itu, ia juga tidak bisa menghubungi Arez karena HP nya yang tidak kunjung ia temukan.


Di saat seperti ini, ia benar-benar membutuhkan Arez.


****


Anna kaget mendengar suara guntur yang menggelegar, hingga ia pindah dan sedikit lebih merapat ke Arez dan memegangi lengan pria itu.


"Guntur doang, Ann." Arez sedikit mengejek, Anna lantas memasang wajah manyun.


"Iya, tapi suaranya gede banget ampe ke jantung rasanya." Balas Anna.


Sekali lagi, suara guntur menggelegar membuat Anna refleks memeluk Arez dan membenamkan wajahnya di leher pria itu.


Nafas Anna yang hangat dapat Arez rasakan dan membuat jiwanya bergetar. Jantung Arez mulai berdetak kencang, wajahnya sedikit memerah.


Anna yang menyadari tak ingin melewatkan hal itu. Dengan sengaja ia semakin membenamkan wajahnya dengan nafas yang semakin memburu.


Arez diam. Tidak ada keberatan sama sekali. Mereka sama-sama dewasa, dan tentu sudah sangat memahami hal seperti ini. Lagi pula, pria mana yang akan menolak? Secara Anna wanita yang cantik, putih dan juga mulus.


Arez pria normal, ia sendiri sempat rela membayar untuk hal seperti ini apalagi jika di berikan secara cuma-cuma.


Tidak dapat di hindari, kini bibir mereka mulai bersatu, permainan itu seiring dengan suara air hujan yang semakin turun dengan derasnya.


Walau tidak ada percakapan antara mereka berdua, tapi gerakan tubuh itu sudah cukup sebagai isyarat.


Hujan yang dingin justru menghadirkan kehangatan.


Tanpa sadar, kini mereka sudah berada di atas ranjang dengan Anna yang sudah sangat terbuka.


"Ayo, lakukan." Pinta Anna dengan tatapan sayu.

__ADS_1


Tapi, aksi mereka harus terhenti kala mendengar suara ketukan pintu dan suara bu Ita memanggil Anna. "Ann, permisi."


Anna lantas bergegas memungut pakaiannya dan mengenakannya, sementara Arez kembali duduk di ruang tamu seolah tidak terjadi apa-apa. Dan tanpa mereka sadari ternyata hujan sudah berhenti.


"Maaf, Ann. Ada mobil mau lewat, bisa gak mobilnya Mas Arez agak di majuin dikit." Ucap bu Maya. Arez yang mendengar langsung bangkit.


"Oh, iya. Maaf ya, Bu." Ucap Arez segan.


"Iya mas Arez. Maaf ya, mengganggu kalian."


"Iya gak apa-apa, Bu." Balas Arez bergegas berjalan ke depan gang untuk memindahkan mobilnya.


Setelah itu mobil yang tadi mau lewat memacu gas, melewati mobil Arez. "Makasih, Mas. Maaf, ya, ngerepotin." Ucap orang di dalam mobil dan mengklakson.


"Iya, Mas." Balas Arez.


"Yaudah, ibu permisi dulu, ya Ann, mas Arez." Ucap bu Maya.


"Iya, Bu." Jawab Arez dan Anna serempak.


*


Anna terus saja menatap Arez dengan detak jantung yang masih berdebar-debar.


"Ann, gua pulang, ya." Ucap Arez setelah turun dari mobil.


Wajah Anna tampak berubah, "Sekarang?"


"Iya, udah mau magrib."


"Ta--tapi," batin Anna seperti menolak. "Yaudah. Hati-hati," ucap Anna hanya bisa memendam kekecewaan.


"Yaudah. Lu istirahat, biar cepet baikan."


Anna mengangguk.


"Yaudah, masuk sana. Gua pamit dulu," Arez kembali masuk ke mobil dan mulai melaju.


Anna hanya bisa memandangi Arez yang berlalu. Ada rasa kesal di hatinya. Bisa-bisanya Arez bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, padahal mereka baru saja melewati sesuatu yang hangat bersama.


Dan sekarang, Anna di tinggal pada saat keinginannya sudah sampai puncak. Dan itu, sangat mengecewakan dan menyakitkan. Seketika moodnya berubah drastis.


Anna masuk ke rumah, ia terlihat sangat kesal. Bahkan bu Maya melihat ia menendang tong sampah yang ada di depan kosnya yang membuat bu Maya mengelus dada, istighfar dan keheranan.

__ADS_1


"Lagi berantem sama mas Arez palingan," benak bu Ita menerka.


__ADS_2