
[Lea, udah dapet kabar belom?] Sebuah pesan masuk di WA Alea, dari Bella.
Alea yang baru saja beranjak untuk pulang menyempatkan untuk membalas pesan itu.
[Kabar apa, Bel?]
[Melisa di keluarin dari sekolah.]
[Serius?]
[Iya. Kena kasus dia. Semalem dia terciduk sama satpol PP lagi bersama om-om di Hotel.]
Alea yang sebenarnya sudah mengetahui tentang Melisa hanya bisa diam dan bersikap seolah tidak tau. [Gua turut prihatin, Bel. Jadi sekarang gimana keadaan Melisa?]
[Gak tau. Gua sama Cika rencananya pulang ini mau ke rumah dia. Mau nanyain kok bisa.]
[Yaudah. Ambil hikmahnya aja. Kita jangan ikut-ikutan hal yang gak bener. Apalagi, sampai melibatkan orang lain.]
[Iya. Gua jadi hilang respect.]
[Udah. Gak usah di bahas. Gua juga mau hubungin Melisa. Kalian jaga diri baik-baik di sana.]
[Iya. Lu juga.]
__ADS_1
Alea memasukkan HPnya ke tas dan ia mulai melajukan motor.
"Gak tau gua, Mel. Apa ini karma lu atau gimana. Tapi gua percaya pada hukum tabur tuai."
"Selama ini perasaan gua gak pernah jahatin lu, atau nyakitin lu. Gua bener-bener tulus sahabatan sama lu. Sekarang lu tanggung sendiri apa yang udah lu perbuat."
"Gua bukan seneng di atas penderitaan lu. Tapi, satu hal yang harus lu tau ... Tuhan itu gak tidur."
"Walau sebenernya gua sangat benci sama lu, tapi gua udah ikhlas. Mungkin emang jalan hidup gua kek gini. Dan yang terpenting gua masih bisa hidup dengan baik. Setelah gua pikir-pikir, kehidupan gua sekarang tidak lebih buruk. Hanya ada perbedaan dalam status. Toh gua masih bisa menjalani hari kek biasanya."
Alea kembali fokus ke jalanan walau sempat blank. Tanpa sadar, ternyata sejak tadi Nathan mengikutinya dari belakang.
"Jangan ngelamun. Fokus. Ntar nabrak." Ucap Nathan yang sengaja melajukan motornya di sebelah Alea.
"Iya, Kak. Lagi mumet." Jawab Alea tersenyum getir.
Alea hanya tersenyum.
*
Selang dua puluh lima menit berlalu, Alea sampai di rumah.
"Duluan, ya, Kak." Ucap Alea mengklakson Nathan.
__ADS_1
"Iya," balas Nathan yang sudah paham kalau ia tidak mungkin mampir karena Alea yang hanya sendirian di rumah.
"Hati-hati." Ucap Alea lagi. Nathan mengacungkan jempol plus dengan full senyumnya.
***
Alea merebahkan diri di sofa, ia mengambil Hpnya di dalam tas dan membuka aplikasi WA. Ia mulai mengetik pesan.
[Semoga bisa jadi pelajaran ya, Mel. Gua ikut prihatin. Semoga lu bisa berubah dengan kejadian ini.]
Centang dua.
Tak lama kemudian centang dua itu berubah menjadi warna biru, yang menandakan Melisa di sana sudah membuka pesan itu.
[Lea. Gua minta maaf. Sekarang gua udah kena batunya. Gua di keluarin dari sekolah, Bokap Nyokap gua marah besar dan sekarang gua di usir gak boleh pulang ke rumah.]
[Sebenernya, gua itu mau nemuin lu. Gua mau minta maaf secara langsung sama lu. Karena gua emang gak niat ngejebak lu, kok.]
Melihat balasan Melisa, Alea dengan cepat membalas pesan itu.
[Gua no komen. Semoga lu bisa jadi lebih baik. Gua udah maafin lu. Tapi, untuk pertemanan gua rasa gak perlu. Masih banyak orang yang lebih baik dan tulus sama gua. Gua harap lu bisa belajar dari kejadian ini. Yang busuk pasti bakal kecium juga.]
[Satu lagi, lu gak perlu ceritain ke Bella dan Cika apa yang udah lu lakuin ke gua. Mereka gak perlu tau. Cukup gua aja yang tau busuknya lu kek gimana. Gua udah gak mau berhubungan sama lu. Gua lebih baik menghindari apa yang bisa membuat hati gua sakit.]
__ADS_1
Tanpa menunggu balasan, Alea segera memblokir kontak Melisa. Ia hanya mencoba berdamai dengan keadaan. Tak perlu mendengar penjelasan apapun lagi. Yang terjadi sudah terjadi.
Dan tidak ada yang bisa membalikkan waktu. Yang sekarang adalah takdir, tinggal kita menjalani sebaik mungkin agar tak melakukan kesalahan yang sama.